Pemerintah Nilai Ada Peluang Ekspor Mobil Listrik ke Australia

Berita Otomotif

Pemerintah Nilai Ada Peluang Ekspor Mobil Listrik ke Australia

JAKARTA - Pemerintah meyakini Indonesia memiliki peluang mengekspor secara utuh (Completely Built-Up/CBU) mobil listrik ke Australia, setelah kendaraan tersebut diberikan insentif pajak yang sedang disusun dan kemudian dirakit secara lokal.

Kesempatan tersebut, menurut Airlangga Hartarto selaku Menteri Perindustrian, terbuka setelah kedua negara meneken Perjanjian Kerja Sama Ekonomi Komprehensif Indonesia - Australia (IA - CEPA) baru-baru ini. Kerja sama perdagangan bebas ini membuat ekspor kendaraan bermotor dari Tanah Air tidak dikenakan bea masuk.

“Dengan demikian, potensi pasar otomotif di Australia sebesar 1,1 juta unit sudah terbuka bagi produsen Indonesia,” tukas Airlangga, seperti dijelaskan pernyataan pers Kemenperin pada awal pekan ini.

‘Negeri Kangguru’ sendiri saat ini hanya menjadi pasar setelah seluruh merek otomotif secara bergantian menutup pabrik di sana karena biaya produksi semakin mahal. Pemenuhan kendaraan roda empat Australia akhirnya mengandalkan impor dari beberapa negara seperti Thailand, Jepang, China, India.

Di sisi lain, pemerintah Indonesia beberapa tahun belakangan sedang menyusun regulasi low carbon emission vehicle (LCEV) yang berisi insentif pajak bagi mobil irit bahan bakar maupun berteknologi bahan bakar alternatif dengan tingkat polusi rendah. Di antara insentif ini, ada keringanan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) berdasarkan emisi gas buang yang kelak menguntungkan bagi mobil hybrid maupun mobil listrik.

Dalam draf yang sedang dibahas di parlemen, ada pula PPnBM 0 persen bagi produksi lokal mobil hybrid serta mobil listrik. Peraturan ini diekspektasikan terbit pada Maret atau April 2019 namun pemberlakuan tarif PPnBM anyar kemungkinan baru terjadi pada 2021.

Pabrikan-pabrikan roda empat sudah bersiaga. Seperti Toyota yang sedang menyiapkan peluncuran C-HR hybrid tahun ini, sedangkan Nissan menunggu momen melepas Note e-Power maupun Leaf ke pasar.

Mengalahkan Thailand
Airlangga menambahkan, saat ini pesaing industri otomotif Indonesia di ASEAN hanya Thailand. Dengan dibukanya CEPA dengan Australia, ditargetkan ekspor otomotif Indonesia bisa melewati Thailand.

Saat ini, produksi Thailand lebih tinggi dari Indonesia yakni sebesar 2,1 juta unit dengan ekspor 1,1 juta unit, sedangkan Indonesia produksinya 1,3 juta unit dan ekspor 246 ribu unit.

“Persentase ekspor Thailand 53 persen, Indonesia ekspornya 26 persen dan sebagai catatan Thailand sudah memiliki Free Trade agreement dengan Australia, New Zealand, India Jepang, Peru,  Chile. Sedangkan Indonesia yang sudah berjalan (selain di ASEAN) baru dengan Jepang, Pakistan, Chile, Eropa,” imbuhnya.

Berdasarkan kategori, ekspor Thailand kebanyakan adalah jenis pikap dan mobil dengan berat satu ton, juga mobil penumpang SUV dan sedan.

“Yang membedakan dengan Indonesia, ekspor terbesar kita adalah MPV seperti Kijang dan kelompoknya yang tujuh penumpang, SUV dan hatchback,” jelas Airlangga.

Hal ini ingin disiasati dengan menghilangkan penggolongan jenis kendaraan sedan/non-sedan dalam skema PPnBM yang baru. Adapula keringanan PPnBM bagi mobil diesel.

Diharapkan, harga kendaraan khususnya sedan bisa lebih rendah, penjualan domestik meningkat, sehingga dapat diproduksi lokal untuk kemudian diekspor. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia dan resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar

Chat Aktif
Diarsipkan
Bantuan

Kami akan membantu Anda

klik tombol "Bantuan" untuk berbicara dengan Customer Care kami.
Hapuskan chat?
Chat Empty
Tidak ada chat yang sedang berlangsung
Mulai pencarian dan chat dengan penjual
Bantuan

Kami akan membantu Anda

klik tombol "Bantuan" untuk berbicara dengan Customer Care kami.
Support