Mobil123.com
Aplikasi Mobil123
Download Gratis – iCar Asia Limited
7,592

Mobil Listrik di Indonesia, Kebijakan, Pilihan dan Harga

Mobil Baru

Mobil Listrik di Indonesia, Kebijakan, Pilihan dan Harga

JAKARTA – Mobil listrik dinilai sebagai kendaraan masa depan yang akan menjadi andalan dunia, termasuk Indonesia. Tak heran bila sejumlah brand semakin serius untuk mengembangkan teknologi mobil listrik agar tidak tertinggal di masa depan.

Pengembangan yang paling menjadi sorotan tentu saja baterai kendaraan listrik. Hal ini karena kapasitas baterai adalah salah satu faktor utama yang menentukan jarak tempuh sebuah kendaraan.

Selain itu, kesiapan infrastruktur pun menjadi salah satu faktor penentu sukses tidaknya kendaraan listrik masuk ke sebuah wilayah.  Dengan infrastruktur yang lengkap, khususnya stasiun pengisian daya maka masyarakat tidak perlu khawatir akan kehabisan daya di tengah jalan.

Indonesia juga merupakan salah satu negara yang melihat bahwa mobil listrik dapat mengusai jalanan di masa depan. Sejumlah program pun disiapkan pemerintah untuk membangun ekosistem mobil listrik. Salah satunya adalah dengan diterbitkannya Peraturan Presiden nomor 55 tentang Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai di tahun 2019.

Berbekal aturan tersebut, Pemerintah yakin mobil listrik akan menjadi primadona dalam waktu dekat. Pemerintah bahkan sempat menggaukan bahwa pada 2025, produksi mobil listrik ditargetkan mencapai 20 persen dari total produksi mobil nasional.

Presiden Joko Widodo berharap dengan adanya regulasi berbentuk Perpres tersebut industri otomotif segera merancang dan membangun industri mobil listrik Indonesia. Ia menyadari hal tersebut tidak mungkin setahun, dua tahun, tiga tahun karena harus melihat pasar, pembeli, dan harga jual yang sekarang ini hampir 40 persen lebih mahal dari mobil konvensional.

“Kita tahu 60% mobil listrik itu kuncinya ada di baterainya dan bahan untuk membuat baterai, kobalt, mangan dan lain-lainya itu ada di negara kita, sehingga strategis bisnis negara ini bisa kita rancang agar nanti kita bisa mendahului membangun industri mobil listrik yang murah, yang kompetitif karena bahan-bahan ada di sini,” ungkapnya.

Adanya material baterai di Indonesia ia harap dapat membuat harga mobil listrik dapat ditekan lebih murah ketika mobil ini sudah diproduksi secara lokal. Ketika itu, barulah mobil dengan teknologi bahan bakar alternatif ini bisa lebih banyak beredar di jalanan.

Bebas Pajak

Pemerintah DKI Jakarta pun menyambut postif terkait kebijakan mobil listrik ini. Sejumlah kebijakan berupa keringanan pun diberikan untuk mempercepat berkembangnya mobil listrik. Salah satunya adalah dengan membebaskan pajak balik nama kendaraan listrik.

Hal ini tertuang dalam Peraturan Gubernur Nomor 3 Tahun 2020, yang memuat kebijakan Insentif Pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB) Atas Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan. Aturan tersebut ditandangani Anies Baswedan, Gubernur Provinsi DKI Jakarta.

“Pemprov DKI menjadi Pemerintah Provinsi pertama yang mengeluarkan peraturan pembebasan BBN-KB. Jadi, terhitung mulai tahun 2020, kegiatan jual beli, tukar menukar, hibah, warisan, kendaraan motor berbasis listrik, baik roda empat maupun roda dua, diberikan pembebasan pajak bea balik nama," ujar Anies.

Kebijakan ini berlaku untuk kendaraan pribadi maupun umum baik roda dua maupun roda empat. Syaratnya, harus murni kendaraan listrik yang menggunakan baterai sebagai sumber dari daya penggeraknya.

“Kendaraan bermotor listrik berbasis baterai adalah kendaraan yang digerakkan dengan motor listrik dan dapat pasokan sumber daya listrik dari baterai baik dari kendaraannya atau pun dari luar. Dan kebijakan ini tidak berlaku untuk jenis kendaraan Hybrid ataupun kendaraan semi listrik. Jadi, hanya kendaraan bermotor yang 100 persen menggunakan listrik berbasis baterai,” tambah Gubernur Anies.

Sayangnya, jenis kendaraan listrik di Indonesia masih belum banyak. Bahkan, kebanyakan mobil-mobil tersebut adalah kendaraan yang diimpor langsung oleh Importir Umum. Sementa APM yang sudah menjual kendaraan listrik jumlahnya masih sedikit.

  • Mitsubishi Outlander PHEV

Mitsubishi Outlander PHEV

Salah pabrikan yang menghadirkan mobil listrik di Indonesia adalah Mitsubishi. Mereka menghadirkan Outlander PHEV yang dilengkapi dengan tiga mode berkendara yaitu EV Drive Mode, Series Hybrid Mode dan Parallel Hybrid Mode. Pada mode EV Drive, motor menggerakkan kendaraan dengan tenaga listrik dari baterai sehingga tidak ada konsumsi bahan bakar.

Sedangkan Series Hybrid Mode memadukan mode elektrik dan mesin. Mesin berkapasitas 2.4L akan menghasilkan listrik bila baterai mulai lemah dan menambah tenaga saat mobil melaju dengan kecepatan tinggi atau menanjak.

Sementara itu, pada parallel hybrid mode mesin akan melaju dengan bantuan motor saat kedaraan membutuhkan ekstra tenaga seperti kecepatan tinggi atau meningkatkan efisiensi mesin sedang tinggi.

Menariknya, Outlander PHEV bisa diisi ulang dengan tenaga listrik yang tersedia di rumah. Tak hanya itu, energi listrik yang tersimpan pada baterai pun bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain seperti kebutuhan rumah tangga. Mobil ini dijual dengan harga Rp 1,3 Miliar.

  • Hyundai Ioniq

Selain Mitsubishi, Hyundai juga menghadirkan mobil listrik mereka yang diberi nama Ioniq. Hyundai Ioniq Electric sendiri adalah generasi penerus kendaraan ramah lingkungan dari Hyundai yang bersumberdayakan 100% listrik. Hyundai Ioniq Electric memiliki kapasitas baterai 38,3 kWh dan dapat diisi ulang hingga 80 persen hanya dalam 57 menit dengan fast-charging (50-kW). Ketika baterai terisi penuh, Hyundai Ioniq Electric mampu menempuh jarak mengemudi hingga 373 km (berdasarkan NEDC).

“Kami berkomitmen untuk memimpin elektrifikasi di bawah Strategi 2025 dengan fokus pada penyajian produk dan layanan yang paling diinginkan oleh pelanggan. Kami merasa terhormat atas kemitraan dengan Grab ini, dalam merangkul masa depan mobilitas dengan kendaraan listrik. Indonesia adalah pasar besar dan kami akan melakukan yang terbaik untuk mempersiapkan negara ini,” Yoon Seok Choi, Presiden Direktur PT HMMI.

Mobil ini dijual dengan harga Rp 569 juta

  • DFSK Gelora E

Tak ketinggalan produsen mobil asal Cina DFSK juga ikut serta untuk meramaikan pasar mobil listrik di Indonesia. Mobil ini dikenalkan pada awal Maret 2020 dan diklaim akan menjadi pilihan menarik untuk para pebisnis yang ingin menjadikan mobil listrik sebagai kendaraan niaga.

Gelora E hanya mengonsumsi daya listrik 0,145 kWh per km. Ini setara dengan Rp 239 per km, dengan biaya listrik saat ini. Angka tersebut jauh lebih irit ketimbang model serupa dengan mesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE). Menurut DFSK, van bermesin konvensional dengan konsumsi bahan bakar rata-rata 16,5 km per liter saja membutuhkan biaya energi sebanyak Rp 463 per KM.

DFSK juga menegaskan bahwa pihaknya telah melengkapi Gelora E dengan teknologi fast charging. Teknologi tersebut membuat pengisian daya dari 20 – 80 persen diklaim hanya membutuhkan 80 menit. Untuk mengisi daya, pelanggan cukup menggunakan listrik rumah tangga dengan rata-rata 220V 16A sehingga pelanggan tidak perlu bingung lagi untuk mengisi daya.

Meski belum memastikan harga, DFSK memperkirakan harga Gelora akan mencapai Rp 469 juta. [Adi/Idr]



Adi Hidayat

Adi Hidayat

Pria lugu yang tinggal di Bekasi ini kerap menghadapi kemacetan Jakarta untuk memberikan informasi terkini terkait dunia otomotif Indonesia. Menghirup asap knalpot, merasakan teriknya panas matahari, menerabas hujan hingga menembus kepungan banjir pun telah menjadi bagian dari hidupnya. Meski demikian ia menjalaninya dengan penuh ketabahan dan kesabaran.


Berita Utama


Komentar