Luhut Singgung Soal Lobi Negara Asing dalam Program Mobil Listrik

Berita Otomotif

Luhut Singgung Soal Lobi Negara Asing dalam Program Mobil Listrik

JAKARTA – Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, sedang gemar membahas mobil listrik di dalam media sosialnya. Terkini, ia menyinggung soal adanya lobi dari negara asing dalam program mobil listrik di Indonesia.

Jendral purnawirawan Tentara Nasional Indonesia (TNI) itu, melalui akun Instagram @luhut.pandjaitan, mengatakan bahwa pada Rabu (26/8/2020) kemarin dirinya membahas Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai dengan berbagai kementerian dan lembaga terkait. Dalam pertemuan, ia mengingatkan kepada mereka agar tidak bermain-main dengan lobi dari negara lain.

“Saya tegaskan kepada teman-teman di jajaran K/L (kementerian dan lembaga—red) terkait untuk menyatukan pandangan bahwa kita tidak bisa main-main dengan lobi-lobi negara lain, hanya ada kepentingan nasional di balik pelaksanaan program ini. Untuk itu, saya kira penyusunan peraturan lintas Kementerian terkait harus diharmonisasikan,” tulis dia.


Indonesia memasuki era kendaraan listrik mulai 2021, tepatnya sekitar Oktober. Saat itu, berbagai insentif fiskal maupun nonfiskal bagi mobil maupun sepeda motor listrik mulai berlaku.

Insentif-insentif ini hadir berkat Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019. Aturan-aturan turunannya sudah terbit—meski belum seluruhnya—seperti keringanan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM), insentif Bea Balik Nama (BBN) di DKI Jakarta, maupun yang terkait uji tipe kendaraan listrik. Satu yang masih ditunggu antara lain regulasi tentang petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis (juklak dan juknis).

Pemerintah berharap insentif bisa memicu terbentuknya industri kendaraan listrik di dalam negeri dan berkontribusi 20 persen dari produksi kendaraan pada 2025, baik roda dua maupun roda empat. Mereka juga ingin industri baterainya berkembang di sini.

Pabrikan-pabrikan mobil global sudah menyambut keinginan pemerintah. Komitmen investasi senilai total Rp 55 triliun sejauh ini sudah hadir.

Investasi datang di antaranya dari Hyundai yang sedang membangun pabrik di Cikarang, Bekasi yang diproyeksikan sebagai fasilitas perakitan mobil listrik. Raksasa Korea Selatan tersebut juga siap merilis Ioniq EV plus Kona EV tahun ini. Beberapa pekan lalu, mereka bahkan sowan ke kantor Luhut dan memamerkan kedua model tersebut.


Toyota – Daihatsu, di sisi lain, akan memproduksi lokal mobil hybrid. Kedua pabrikan yang bersaudara itu melakukannya mulai 2022. 

Suzuki sedang mempelajari Ertiga Hybrid, sedangkan Nissan segera merilis Nissan Kicks e-Power maupun Nissan Leaf. Pabrikan China seperti DFSK juga menyatakan tertarik ikut program mobil listrik. Mereka dalam beberapa kesempatan telah memamerkan sport utility vehicle (SUV) listrik Glory E3.


“Saya pikir perlu adanya dukungan moril dari pemerintah dengan menjadikan Kendaraan Listrik sebagai kendaraan dinas operasional K/L, BUMN/D (Badan Usaha Milik Negara dan Daerah), dan dukungan materil lewat insentif fiskal berbasis TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) sehingga tercipta peta jalan industri yang dapat memicu tumbuhnya industri komponen dalam negeri,” tulis Luhut lagi. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar