Hyundai: Pabrik Baru di Indonesia untuk Mobil-mobil Kelas Menengah

Berita Otomotif

Hyundai: Pabrik Baru di Indonesia untuk Mobil-mobil Kelas Menengah

JAKARTA – Hyundai makin buka-bukaan mengenai calon pabrik mereka di Indonesia yang disiapkan untuk mobil-mobil kelas menengah. Apa saja modelnya?

Mukiat Sutikno, Presiden Direktur PT. Hyundai Mobil Indonesia, ketika dihubungi Mobil123.com via sambungan telepon pada Jumat (21/12/2018), menjelaskan bahwa perkiraan nilai investasi Hyundai untuk fasilitas perakitan di negeri ini mencapai 880 juta dollar AS (Rp 12,75 triliun). Namun, angka tersebut masih perkiraan dan masih dapat terkoreksi.

“Mereka (Hyundai Motor Company) belum finalisasi. Itu mungkin estimasi sewaktu mereka bertemu dengan Kementerian Perindustrian.  Belum pasti dan terkonfirmasi,” ucapnya.

Sebagai informasi, rencana Hyundai membangun pabrik di Indonesia terungkap pertama kali pada Januari tahun ini. pabrikan yang bermarkas di Seoul, Korea Selatan tersebut bermaksud mengalihkan fokus dari China ke Asia Tenggara karena kondisi persaingan yang makin sulit di sana.

Awalnya, Vietnam masuk dalam pilihan basis produksi baru Hyundai di Asia Tenggara, tapi akhirnya mereka makin condong ke Tanah Air. Pejabat Kementerian Perindustrian beberapa waktu lalu mengatakan operasional pabrik rencananya dimulai pada 2020.

Hingga kini ada tiga opsi lokasi. Mukiat hanya menyebut dua di antaranya, sedangkan untuk satu opsi lainnya dia mengaku ‘lupa’. Adapun kapasitas produksinya kurang-lebih 250 ribu unit setahun.

“Masih ada tiga lokasi yang mereka masih evaluasi lagi. Tapi finalnya di mana terus terang belum sampai sekarang ini. ada dua yang bisa saya ingat langsung yaitu di Karawang dan Purwarkarta. Satu lagi saya tidak ingat,” paparnya.

Mobil Kelas Menengah
Sebelumnya, dalam Indonesia International Motor Show 2018 pada April silam, Mukiat sempat menyebut rencana menjual dan merakit mobil murah Rp 100 juta-an di negeri ini, baik di segmen low cost green car (LCGC) maupun di luar itu. Namun, rencana untuk model-model di rentang banderol tersebut akhirnya ditunda dulu karena menurut dia biaya melakukan perakitan unit terurai (Completely Knock-Down) bisa lebih besar daripada potensi penerimaan dari pasar.

“Proyek pabrik ini untuk model-model di kelas lower medium ke upper (menengah ke bawah hingga ke atas). Enggak medium banget karena nanti kami enggak bisa menjangkau ke yang bawah. Tapi yang jelas di luar LCGC,” papar dia.

Sayang, Mukiat tidak bisa membeberkan model-modelnya secara detail. Informasi tersebut amat rahasia.

“Nanti saya bisa dibikin jadi Bulgogi sama prinsipal,” tukasnya bercanda.

Ia juga membuka kemungkinan merakit mobil berbahan bakar alternatif di pabrik Hyundai di Indonesia, apalagi kapasitas produksi terpasangnya kelak cukup besar dan pabrik disiapkan sebagai basis ekspor khususnya bagi region Asia Tenggara. Nantinya bakal ada pula insentif pajak bagi mobil hybrid maupun listrik murni dalam regulasi Low Carbon Emission Vehicle (LCEV).

“Dalam pembicaraan sekarang antara kami dengan prinsipal belum ada, terus terang. Tapi saya perkirakan informasi itu muncul waktu prinsipal bicara dengan Pak Luhut (Di Korea Selatan). Mungkin Pak Luhut bilang Indonesia ingin go green dan Hyundai mengatakan akan mendukung. Itu sebenarnya gampang karena dalam portofolio model Hyundai secara global ada. Istilahnya kalau semuanya jelas mereka tinggal ‘pencet tombol’ saja,” tandasnya. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar