Avanza Facelift Tak Punya Cruise Control Seperti Xpander, Ini Alasan Toyota

Berita Otomotif

Avanza Facelift Tak Punya Cruise Control Seperti Xpander, Ini Alasan Toyota

JAKARTA – Toyota Avanza facelift yang meluncur pada awal 2019 belum memiliki fitur secanggih kompetitornya seperti Mitsubishi Xpander, salah satunya adalah Cruise Control.

Avanza facelift meluncur pada 15 Januari kemarin di Jakarta dan 11 variannya dipasarkan tanpa perubahan harga, setidaknya hingga tiga bulan ke depan. Ubahan terbesar ada pada eksterior, khususnya fascia depan. Sistem penggerak roda belakang serta ground clearance tinggi tetap dipertahankan.

Fitur-fitur baru antara lain lampu depan LED, spion elektrik di mayoritas varian, Head Unit layar sentuh plus Steering Switch Control di sebagian besar varian, sampai dengan penyempurnaan suspensi maupun kesenyapan kabin. Seluruh varian Veloz, baik yang bermesin bensin 1.3-liter atau 1.5-liter, ditambahkan lagi dengan Power Slot di baris pertama dan kedua, USB Port di baris ketiga, plus Keyless Entry with Start/Stop Button. Veloz 1.5 dibubuhi lagi dengan Rear Seat Entertainment, Rear Parking Camera, lampu Follow Me Home.

Fitur-fitur yang disebut bukan hal baru lagi di segmen LMPV. Di sisi lain, Avanza facelift varian tertinggi belum memiliki Cruise Control seperti varian tertinggi Xpander. Avanza facelift juga minus fitur canggih lain seperti Tire Pressure Monitoring System (TPMS) yang ada di Wuling Confero.

Selain itu, fitur-fitur keselamatan standar Avanza facelift masih persis sama dengan model lawas. Fitur-fitur ini tidak aneh lagi di pasar karena dimiliki pula para penantangnya. Sementara, Xpander sudah punya fitur keselamatan aktif Hill Start Assist, Active Stability Control, Emergency Stop Signal di dua varian teratasnya.

Menanggapi hal ini, Anton Jimmi Suwandy, mengatakan bahwa pengembangan Avanza facelift dilakukan dengan tetap menyertakan hal-hal  terpenting bagi para konsumen di segmen low multi purpose vehicle (LMPV) seperti fungsionalitas, value for money, peace of mind dalam hal servis. Hal baru yang diperlukan dan disertakan adalah desain lebih sporty serta kenyamanan.

 Fitur-fitur canggih di segmen ini, menurut dia, masih sebagai gimmick alih-alih kebutuhan. Di saat bersamaan, Toyota mesti mengatur spesifikasi seluruh produk yang mereka punya agar tidak terlalu mirip dengan model-model terdekat seperti Calya, Sienta, Innova, bahkan Rush.

“Walaupun Rush di segmen SUV, keduanya sama-sama tujuh penumpang. Jadi ini soal bagaimana kami menata portofolio total line up kami sesuai dengan segmennya, supaya masing-masing maksimal. Kami tak hanya melihat kompetitor seperti apa, tapi juga melihat total line up kami seperti apa. Kalau overlapping makin banyak, untuk konsumen juga enggak ada benefitnya karena dengan penambahan fitur pasti, kan, biaya bertambah,” papar Anton.

Harga dan Profit
Anton menolak mengomentari soal kemampuan kompetitor Avanza yang bisa menaruh lebih banyak fitur tapi tetap mampu memberikan harga bersaing. Menurut dia, semua itu tergantung dari strategi masing-masing.

Strategi Toyota dalam memasang harga bukan sekadar menghitung berapa biaya produksi yang dikeluarkan, kemudian berapa margin yang ingin diambil.

“Strategi kami adalah berapa harga yang dibutuhkan konsumen di segmen itu, sesuai dengan pangsa pasar yang kami inginkan. Lalu, kami tantang diri kami sendiri mengenai besaran biaya pengembangan dan produksi produk. Barulah proyek berjalan,” tutupnya. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar