Penjualan Tumbuh Pasca Corona, Pabrikan Otomotif China Pusing Kekurangan Komponen

Berita Otomotif

Penjualan Tumbuh Pasca Corona, Pabrikan Otomotif China Pusing Kekurangan Komponen

BEIJING - Pabrikan otomotif China mulai khawatir kekurangan komponen yang datang dari luar negeri karena banyak negara masih darurat Corona.

Seperti kita ketahui, minggu-minggu belakangan ini China berangsur pulih dari pandemik virus Corona. Pabrik-pabrik mulai beroperasi termasuk pabrikan otomotif.

Mobil123.com juga telah melaporkan bahwa di Wuhan, China, kota ground zero pandemi Corona, pembelian mobil mengalami peningkatan. Beragam faktor menjadi pemicunya, mulai dari banyak orang masih takut untuk menggunakan angkutan umum karena risiko tertular Corona hingga kemudahan pembelian mobil berkat insentif yang diberikan pemerintah China dengan nominal setara Rp 21.9 juta.

Namun maju kena, mundur kena. Permintaan boleh saja tumbuh, namun ternyata menimbulkan masalah baru bagi pabrikan otomotif China. Ini tak lepas dari suplay komponen dari luar China seperti Eropa, Amerika dan Jepang tersendat karena masalah Corona yang masih melanda wilayah terebut.

Menurut China Automotive Technology and Research Center, pada 2019 nilai impor komponen kendaraan di China mencapai $ 36.7 miliar. Terbagi masing-masing, dari Jerman 28 persen, Jepang 27 persen. Korea 6 persen dan ada pula dari Amerika Serikat 5.9 persen.

Menyiasati hal tersebut, beberapa produsen mobil di China mencoba melakukan terobosan lain. Seperti mengalihkan ketergantungan komponen impor ke industri dalam negari China. Bahkan Li Shufu, bos dari pabrikan otomotif Geely yang juga pemilik Volvo Cars mengatakan dengan terobosan ini potensi kekurangan komponen impor bisa mulai teratasi.

Sementara Guangzhou Auto yang punya mitra seperti Toyota Motor Corp dan Fiat Chrysler Automobiles NV, mengatakan sedang mengambil langkah-langkah sama. Mereka tengah mengupayakan 10 persen komponen yang masih impor untuk bisa dibuat di China.

Langkah untuk membuat komponen di dalam negeri sendiri tergolong cukup menantang karena memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Apalagi banyak komponen impor yang berkaitan dengan mesin serta elektronik punya bagian-bagian seperti microchip juga perangkat lunak.

Agak sulit rasanya membayangkan jika dalam waktu singkat ada perusahaan yang dapat menggantikan peran dari perusahaan komponen high tech ternama. Seperti contohnya Continental AG Jerman yang memasok komponen elektornik dan juga ban.

Belum lagi Robert Bosch GmbH. Perusahaan yang menyatakan mengurangi produksi di Jerman sejak 20 Maret 2020 ini menyuplai sistem dan sensor injeksi bahan bakar tentu memiliki tingkat kesulitan tinggi untuk bisa membuatnya apalagi dalam waktu singkat. 

Rencana lokalisasi komponen-komponen dengan tingkat kesulitan tinggi di China sendiri layak dinanti. Apalagi seperti kita ketahui bersama, industri-industri di China terkenal paling jago membuat duplikasi segala macam barang. [Ari]



Krisna Arie

Krisna Arie

Senang semua benda bermesin dan beroda sejak duduk di bangku sekolah dan memulai bekerja di media dengan segmen otomotif sejak tahun 2002. Pria sederhana ini selalu percaya pekerjaan akan lebih sempurna jika didasari dengan passion.


Berita Utama


Komentar