Pandemi Tak juga Reda, Penjualan Mobil Bisa Terganggu Hingga 2021

Berita Otomotif

Pandemi Tak juga Reda, Penjualan Mobil Bisa Terganggu Hingga 2021

JAKARTA – Asosiasi pabrikan - pabrikan mobil di Indonesia menilai penjualan mobil di Indonesia pada 2021 mungkin masih terganggu situasi pandemi virus Corona (Covid-19) yang belum juga reda.

Stefanus Soetomo, Staf Ahli Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), mengingatkan awalnya pemerintah memprediksi pandemi mereda pada Juni atau Juli 2020. Namun, sampai September, hal itu belum terjadi.

Kondisi perekonomian sendiri menurutnya sangat terpengaruh oleh pandemi. Masalah berkepanjangan ini dikhawatirkan mengganggu penjualan mobil sampai tahun depan.

“Dengan pandemi ini kemungkinan berlarut-larut, menimbulkan ketidakpastian, demikian juga dengan penjualan kita di tahun depan. mungkin masih terpengaruh,” ucap dia dalam diskusi virtual KompasTalks dengan Gaikindo dan Toyota beberapa waktu lalu.


Sekadar mengingatkan, Presiden Joko Widodo mengumumkan masuknya pandemi Corona ke Indonesia pada 2 Maret 2020. Tren kasus positif hingga kini masih terus naik melewati Juni dan Juli dan per 29 September angkanya sudah mencapai 282.724 orang (210.437 sembuh, 10.601 meninggal).

Penjualan mobil di Nusantara sendiri jeblok pada kuartal kedua dan baru berangsur naik pada Juni. Data Gaikindo menunjukkan penjualan wholesales (dari pabrik ke dealer) selama Januari – Agustus kemarin hanya 323.492 unit, anjlok 57,07 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Target Gaikindo sejak April sudah direvisi dari 1,050 juta unit—tak jauh beda dari capaian 2019 sebanyak 1,030 juta unit—menjadi 600 ribu unit. Namun, melihat transaksi jual – beli sepanjang delapan bulan pertama, Stefanus memperkirakan bahwa kemungkinan besar target 600 ribu unit bakal mereka ubah lagi.


Gaikindo, bersama dengan Kementerian Perindustrian, kini sedang berupaya meminta pembebasan atau pengurangan pajak mobil baru. Mereka ingin pembelian mobil mendapatkan relaksasi pajak hingga Desember tahun ini.

Ini mereka ajukan sebagai upaya meningkatkan daya beli masyarakat. Dengan relaksasi pajak, motivasi membeli kendaraan juga diharapkan terdongkrak.


Meski pasar otomotif suram selama pandemi, Stefanus meyakini penjualan mobil bisa pulih relatif cepat setelah masa ini usai. Ia berkaca pada krisis ekonomi 1998 silam.

“Di penjualan mobil dalam negeri ini adalah istilah roller coaster. Turunnya cepat, tapi naiknya juga cepat. Karena percaya itu kami percaya otomotif setelah pandemi bisa cepat bangkit. Tapi dengan syarat kami mendapatkan stimulus-stimulus, lalu para anggota kami juga bisa menelurkan strategi penjualan menarik dan sebagainya sehingga penjualan bisa cepat pulih kondisinya,” tandas dia. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar