Mobil Listrik Disebut Solusi Kurangi Polusi, Apakah Cocok untuk Indonesia?

Berita Otomotif

Mobil Listrik Disebut Solusi Kurangi Polusi, Apakah Cocok untuk Indonesia?

STOCKHOLM – Ahli berpendapat bahwa solusi untuk mengurangi polusi adalah penggunaan mobil listrik dan transportasi umum. Apakah hal ini cocok untuk diterapkan di Indonesia, terlebih mengingat kejadian blackout Jawa-Bali minggu kemarin.

Masyarakat Indonesia, khususnya yang berada di ibukota sempat dibuat heboh perihal masalah polusi udara. Pasalnya, Jakarta dinobatkan sebagai kota paling berpolusi di dunia berdasarkan data dari AirVisual.

Ternyata permasalahan polusi ini tidak hanya menghinggapi Jakarta dan kota-kota di negara berkembang lainnya, tetapi juga kota-kota di Eropa.

Selama rentang waktu 50 tahun terakhir, wilayah perkotaan di Eropa terus berkembang dengan pesat dari segi jumlah penduduk. Sekitar 72 persen dari total penduduk di Eropa telah menghuni kota.

Jumlah ini ternyata berimbas pada semakin banyaknya individu yang mengalami masalah kebisingan dan polusi udara. Setiap tahun tercatat telah terjadi 500.000 kematian dini akibat masalah polusi udara di Eropa.

Bagi beberapa kota di Eropa, polusi udara dan kebisingan telah menjadi salah satu penyebab dari berbagai kasus kematian dini. Menurut para pakar lingkungan seperti Kenneth Lillelund dan Knud Erik Poulsen, solusi untuk mengatasi masalah polusi ini adalah dengan berfokus pada transportasi umum dan teknologi baru.

“Lalu lintas di jalan merupakan kontributor untuk masalah ini, dan kita semua berkontribusi, karena kita semua membutuhkan transportasi,” ujar Kenneth Lillelund, noise expert di European engineering and consultancy company Sweco.

Bersama dengan rekannya Knud Erik Poulsen, seorang ahli polusi udara, mereka memiliki pengalaman lebih dari 40 tahun di bidang masing-masing. Menurut keduanya, polusi udara dan kebisingan adalah masalah kompleks dengan solusi yang tak kalah rumitnya.

“Tantangannya adalah bahwa jika kota mencoba melakukan sesuatu pada lalu lintasnya, seringkali akan sulit untuk mengukurnya, karena pengaruhnya akan kecil dibandingkan dengan penyebab polusi lain, seperti dari industri di sekitarnya atau pembangkit listrik,” jelas Poulsen.

Salah satu solusi yang coba ditawarkan Poulsen untuk mengurangi polusi udara adalah penggunaan mobil dan bus listrik. Salah satu pertimbangan penggunaan bus listrik adalah berkurangnya konsentrasi tinggi dari asap mesin diesel bus yang saat ini menghantui para pejalan kaki.

Langkah ini tidak serta merta mengurangi jumlah polusi secara signifikan. Mengurangi jumlah total mobil di jalan dan penggunaan transportasi umum akan membuat dampak yang lebih besar.

“Bahkan dengan mobil listrik kita akan tetap memiliki banyak masalah kebisingan. Hal terbaik untuk dilakukan adalah mengurangi jumlah kendaraan di jalan dan salah satu caranya adalah dengan meningkatkan transportasi umum,” kata Lillelund.

Solusi ini sepertinya masih berat untuk diterapkan langsung di Indonesia. Sebab, selain regulasi terkait mobil listrik yang belum juga menemui titik terang, untuk urusan memasok daya listrik untuk kebutuhan sehari-hari saja PLN tampak masih kewalahan. Apalagi kejadian minggu kemarin (4/8/2019) di mana listrik Jawa-Bali putus selama lebih dari 6 jam. [Hlm/Ari]



Helmi

Helmi

Debut resmi di Mobil123 pada kuartal ketiga 2019. Ketahui, pelajari, mengerti, kemudian berbagi, menjadi mottonya dalam menyajikan beragam informasi. Saya antusias dengan dunia otomotif.


Berita Utama


Komentar