Biaya Perbaikan Baterai Mobil Listrik Tergolong Mahal, Rp 17 Jutaan per Modul

Berita Otomotif

Biaya Perbaikan Baterai Mobil Listrik Tergolong Mahal, Rp 17 Jutaan per Modul

JAKARTA - Panas pada mobil listrik khususnya bagian baterai tergolong tinggi dan membawa masalah di kemudian hari, jika rusak biaya perbaikan mencapai Rp 17 jutaan per modul. Perbaikan pada Nissan Leaf berikut ini menunjukkan pendinginan cairan seperti radiator dibutuhkan agar baterai lebih awet.

Akun Youtube James & Kate memberikan gambaran secara jelas bagaimana perbaikan atau perawatan yang harus dilakukan pada mobil listrik khususnya saat daya tahan baterai berkurang. James yang merupakan teknisi di Cleevely Motors Ltd sebuah workshop khusus perbaikan mobil listrik membagikan pengalamannya saat memperbaiki Nissan Leaf.

Mobil listrik Nissan buatan 2018 40 kWh ini yang menjadi pasien James dan rekannya Matt adalah pekerja berat. Sudah menempuh lebih kurang 193 ribu km dalam kurun waktu 3 tahun dan bertugas sebagai taksi serta dicharge 4 kali sehari sepanjang hidupnya.

Untuk diketahui, Nissan Leaf ini memiliki pendingan udara karena tentu alasan nilai jual alias agar biaya produksi lebih murah. Namun ternyata, dibalik harga murah, dalam video ditunjukkan ternyata pada jangka panjang ada perawatan yang cukup mahal.

Nissan Leaf EV ini sendiri memiliki masalah pada jarak tempuh yang tidak sesuai saat baterai diisi penuh. Dalam pemerikasaan singkat, James dengan beragam alat analisa masalah (diagnostic analizer) menemukan bahwa salah satu modul dari baterai gagal untuk membuat keseimbangan. Dan tampak bahwa tumpukan modul belakang yang melebar hingga merusak covernya. Mungkin kerusakan ini relatif sama dengan yang kerap terjadi pada baterai smartphone, bentuknya menjadi menggembung.

Perbaikan pada mobil listrik

James menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena modul paling belakang memiliki suhu yang sangat panas. Apalagi jika sering atau secara konstan melakukan fast charging plus penggunaan kesehariannya yang cukup berat seperti untuk taksi seperti Nissan Leaf EV ini.

Proses perbaikan menunjukkan James tampak mengganti modul yang rusak dan kemudian merakitnya kembali. Kemudian memasang kembali baterai yang sebelumnya dilepas.

Beberapa komen dalam video mengatakan bahwa perbaikan tepat pada masalah ini seharusnya mengganti satu set baterai yang rusak tersebut. Bukan mengakalinya, hanya mengganti modul yang rusak saja.

Mengingat harga satu set baterai  mahal, langkah yang dilakukan ini tentu menjadi solusi terbaik. Meski juga tidak murah, total biaya perbaikan yang James lakukan sekitar 900 poundsterling atau sekitar Rp 17.3 juta. Namun ini jauh lebih murah dibandingkan membeli satu set baterai Nissan Leaf yang sayang tidak disebutkan harganya. Serta langkah perbaikan ini juga tidak mudah dan tidak semua mekanik saat ini mampu melakukannya.

Lalu kenapa harus pendinginan cairan untuk menjadi jawaban atas masalah ini?

Yang utama tentu soal kontrol panas pada baterai. Dengan pendingin cairan, panas tentu dapat bisa lebih dikontrol melalui sistem management yang tepat diatur oleh ECU. Dan jika panas terkontrol, tentu kondisi baterai yang notabenenya sebagai salah satu part termahal dari mobil listrik ini bisa terjaga serta diyakini memiliki masa pakai lebih panjang.

Namun penggunaan sistem pendinginan cairan pada baterai sendiri tentu memiliki beragam tantangan. Seperti misalnya masalah konstruksi dan instalasi pendingin cairan pada ruang baterai untuk menjaga suhu yang tidak mudah.

Kita tentu terus menantikan perkembangan yang dilakukan pabrikan dalam menyempurkan mobil listrik. Dan menanti sebuah sistem terbaik yang punya durability tidak jauh berbeda dengan mobil konvensional bermesin bensin dan diesel saat ini. [Ari]



Krisna Arie

Krisna Arie

Senang semua benda bermesin dan beroda sejak duduk di bangku sekolah dan memulai bekerja di media dengan segmen otomotif sejak tahun 2002. Pria sederhana ini selalu percaya pekerjaan akan lebih sempurna jika didasari dengan passion.


Berita Utama


Komentar