Toyota Siapkan Rp 28 Triliun Demi Kembangkan Mobil Listrik di Indonesia

Berita Otomotif

Toyota Siapkan Rp 28 Triliun Demi Kembangkan Mobil Listrik di Indonesia

OSAKA - Toyota dikabarkan sudah menyiapkan total investasi senilai lebih dari Rp 28 triliun hingga empat tahun ke depan, untuk proyek mobil listrik di Indonesia yang dimulai dari teknologi hybrid.

Hal ini terungkap dalam sesi One on One Meeting antara Airlangga Hartarto selaku Menteri Perindustrian dengan Akio Toyota selaku Presiden Toyota Motor Corporation pada Kamis (27/6/2019) di Osaka, Jepang. Investasi senilai Rp 28,3 triliun ini bakal digelontorkan sejak 2019 hingga 2023 untuk pengembangan mobil listrik, khususnya hybrid, di Indonesia.

Toyota sendiri beberapa waktu lalu sempat mengatakan rencana menjual hybrid murah di Indonesia. Selain itu, mereka, bersama Daihatsu, berencana memproduksi lokal mobil hybrid mulai 2022.

“Rencana investasi Toyota berikutnya terkait dengan kebijakan pemerintah yang baru, yaitu yang mendorong pengembangan electric vehicle. Nah, itu yang akan tercantum dalam dua PP. Pertama, mengenai percepatan kendaraan berbasis elektrik, dan yang kedua adalah kegiatan terkait dengan PPnBM untuk industri berbasis elektrik, yang di dalamnya termasuk hybrid. PPnBM itu akan menjadi nol kalau berbasis kepada elektrik dan emisinya paling rendah,” ungkap Airlangga melalui keterangan resmi yang diterima Mobil123.com

Menperin menyampaikan pihak bersama salah satu produsen otomotif Jepang, telah melakukan studi pengembangan dan penggunaan kendaraan listrik. Kegiatan ini juga melibatkan enam perguruan tinggi di Indonesia.

“Dari hasil studi itu terlihat hybrid menjadi salah satu alternatif karena well to wheel, di mana dilihat juga ekosistem pembangkitan energi, mulai dari primary energy sampai kepada penggerak otomotif,” terangnya. Kemenperin sendiri sudah mendorong pengembangan teknologi kendaraan listrik di dalam negeri, termasuk mengenai pembuatan fuel cell.

Manufaktur Otomotif
Pertemuan dengan Toyoda sendiri terjadi di sela-sela penandatanganan framework document antara Kementerian Perindustrian dengan Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Investasi Jepang. Melalui penandatanganan dokumen ini, kedua negara sepakat terus meningkatkan kerja sama komprehensif dalam upaya pengembangan di sektor industri manufaktur. Langkah strategis ini dinilai akan mampu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi kedua negara.

Sinergi ini merupakan implementasi dari proyek The New Manufacturing Industry Development Center (New MIDEC) di bawah kerangka kerja sama Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA).

Kegiatan New MIDEC meliputi enam sektor, yaitu industri otomotif, elektronik, tekstil, makanan minuman, kimia serta logam. Selain itu juga terdapat tujuh lintas sektor, yaitu metal working, mold & dies (tooling), welding, SME development, export and investment promotion, green industry (energy, waste, emission), serta industry 4.0 (digitalization, automation, policy reforms).

“Dengan adanya kerja sama New MIDEC ini bisa mengkompensasikan defisit perdagangan antara Indonesia dan Jepang dalam bentuk capacity building yang sifatnya dasar untuk sektor manufaktur. Misalnya, kapasitas untuk teknik pengelasan atau skill lainnya yang terkait di industri otomotif,” papar Menperin.

Implementasi program New MIDEC yang dapat dilaksanakan langsung setelah penandatanganan tersebut adalah di sektor otomotif dengan melibatkan dua lintas sektor, di antaranya mold & dies (tooling) dan SME development. Sementara itu, kegiatan di sektor lainnya akan dilaksanakan setelah kedua belah pihak menyiapkan Technical Arrangement dan masukan dari para stakeholders terkait.

Melalui kerja sama ini, Airlangga optimitistis, akan terjadi peningkatan penanaman modal oleh para investor Jepang yang dibenamkan di Indonesia. Rencana investasi baru Toyota merupakan salah satu contohnya. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar