Sanggah Isu Miring, Hino: Mesin Bus Kami Teruji di Reli Paris-Dakar

Berita Otomotif

Sanggah Isu Miring, Hino: Mesin Bus Kami Teruji di Reli Paris-Dakar

TANGERANG – Hino meluruskan berita miring perihal mesin mereka, dengan memaparkan hasil pengujian. Mereka juga mengklaim mesin bus-bus mereka teruji di Reli Paris-Dakar.

Training Division Head PT. Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) Anton Febrianto, di sela-sela Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2021 pada 11-21 November, menyebut belakangan ada beberapa isu yang mesti mereka klarifikasi.

Di antaranya mengenai oli mesin bus hino cepat habis--disebut juga 'makan' oli. Lalu, mesin Hino juga digosipkan sering terlampau panas (overheat) saat perjalanan jauh.

Demi membuktikan hal tersebut tidak benar, Hino melakukan pengujian dengan rute Jakarta-Surabaya pulang-pergi dengan total jarak 1.600 km. Pengujian dilakukan untuk tiga model bus: Hino RN 285, Hino RK 260, dan satu model kompetitor dari merek Eropa berdaya 260 hp dengan kondisi yang sama.

Mesin bus Hino teruji di Reli Paris-Dakar

Ada lima poin yang menjadi hasil pengujian. Pertama, oli terbukti tidak cepat habis karena rata-rata suhu oli adalah 106,45 derajat celcius untuk RN 285 serta 97,73 derajat celcius untuk RK 260, meskipun volume pelumas di mesin bus-bus Hino lebih sedikit daripada produk-produk milik pesaing.

“Ini masih jauh dari nilai flash point atau batas titik nyala oli yaitu 230 derajat celcius,” papar dia di Serpong, Tangerang.

Adapun rata-rata suhu oli untuk bus kompetitor ialah 89,95 derajat celcius.

Selanjutnya, rata-rata suhu mesin RN 285 serta RK 260 masing-masing 87,62 derajat celcius serta 84,85 derajat celcius. Hasil dari bus kompetitor 85,79 derajat celcius.

“Efektivitas pendinginan radiator RN 285 dan RK 260 antara 25-30 derajat celcius. Lebih baik dari radiator kompetitor yang sekitar 10 derajat celcius,” aku Anton.

Satu hasil tes lain yang cukup penting, menurutnya, adalah perbandingan biaya ganti oli dua bus Hino selama setahun dibandingkan kompetitor. Gapnya diklaim sangat besar.

“Gap biayanya sekitar 78 persen,” tandas dia.

Bus Hino RN 285

After Sales Director HMSI Irwan Supriyono menerangkan berdasarkan temuan mereka mesin ‘makan oli’ maupun overheat biasanya terjadi karena beberapa faktor. Pertama adalah perawatan yang tidak sesuai standar dan alasan kedua ialah modifikasi pada mesin demi meningkatkan tenaganya.

Ia pun meminta para pemilik agar tidak melakukan hal tersebut. Hino juga kerap memberikan edukasi kepada berbagai pihak mengenai mesin plus produk mereka.

“Reli Paris-Dakar yang Hino ikuti itu 10 ribu km non-setop dan rute Jakarta-Surabaya (di pengetesan) yang 1.600 km tidak ada apa-apanya. Mesin Hino di reli itu juga tipe-tipe yang sama dengan yang ada pada (bus) RN maupun RK,” tutup Irwan. [Xan]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar