Penjualan Mobil Jelang Lebaran 2018 Lesu

Berita Otomotif

Penjualan Mobil Jelang Lebaran 2018 Lesu

JAKARTA – Konsumsi kendaraan, khususnya roda empat, menjelang Lebaran 2018 tak sebesar biasanya karena momentum hari raya Idul Fitri yang bertepatan dengan tahun ajaran baru di sekolah plus belum pulihnya daya beli.

Lebaran 2018 sendiri diprediksi jatuh pada 15 atau 16 Juni. Dengan cuti bersama yang dimulai pada 11 Juni, puncak konsumsi diproyeksikan terjadi di Mei.

“Fokus orang lebih banyak yang membeli mobil menjelang hari raya nih di Mei ini,” kata Direktur Pemasaran PT. Suzuki Indomobil Sales (SIS) Donny Sahputra menjawab pertanyaan Mobil123.com di sela-sela konferensi pers program mudik Suzuki, awal pekan ini di Jakarta.

Ia menjelaskan bahwa biasanya penjualan menjelang Lebaran bisa naik setidak-tidaknya 9-10 persen jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Namun, melihat pergerakan pasar pada April, Donny pesimistis hal itu terjadi tahun ini.

Pasalnya, data penjualan wholesales Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan bahwa distribusi hanya naik sedikit dari 101.813 unit pada Maret menjadi 102.256 unit pada April atau cuma meningkat 0,44 persen. Distribusi Januari – April 2018 pun hanya terkerek 5,64 persen dibandingkan period yang sama tahun sebelumnya, dari 373.348 unit menjadi 394.421 unit.

Donny memproyeksikan penjualan pada Mei masih naik dibandingkan April, tapi tidak sedramatis tahun lalu. Ia memprediksi kenaikannya ada di kisaran 5 – 8 persen.

“Lesu banget sih enggak. Tapi ini mungkin karena momentum Lebaran agak berbeda dengan tahun lalu. Tahun lalu, kan, Lebaran di Juli. Anak masuk sekolah baru masuk ke Lebaran. Kalau sekarang, keduanya berbarengan anak masuk sekolah dan Lebaran. Anak masuk sekolah itu ‘sesuatu’ lho, terasa dampaknya,” papar dia.

Chief of Corporate Communication, Social Responsibility, and Security PT. Astra International Pongki Pamungkas ketika diwawancarai dalam kesempatan berbeda juga menilai kenaikan penjualan mobil sebelum Lebaran tahun ini lebih kecil dari biasanya. Ini semua karena daya beli yang masih relatif lemah.

“Mungkin Anda bisa lihat sendiri situasi ekonomi yang dirasakan. Pemerintah sudah sangat bagus lakukan aksi positif dalam perbaikan negara ini, seperti pembangunan infrastruktur. Tapi yang dilakukan itu, kan, enggak bisa langung berikan dampak signifikan pada daya beli masyarakat sekarang. Dampaknya enggak sekarag, butuh waktu,” jelasnya.

Ia lalu berharap Bank Indonesia tidak menaikkan suku bunga acuan atau interest rate. Jika tidak, situasi sulit di pasar bisa makin berlanjut. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar