Mobil Listrik Disarankan Gratis Masuk Tol dan Punya Jalan Khusus

Berita Otomotif

Mobil Listrik Disarankan Gratis Masuk Tol dan Punya Jalan Khusus

JAKARTA – Pabrikan otomotif menyarankan agar insentif bagi mobil listrik lebih diperbanyak lagi. Salah satunya adalah menggratiskan jalan tol.

Era mobil listrik di Indonesia memang sudah di depan mata. Tahun depan, tepatnya pada Oktober 2021, beragam insentif fiskal maupun nonfiskal yang didasarkan atas Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 mulai berlaku bagi kendaraan hybrid, plug-in hybrid, maupun listrik murni. Pada 2025, 20 persen kendaraan yang diproduksi lokal targetnya adalah kendaraan listrik.

Sebagian kecil insentif sudah berlaku saat ini. Sebut saja misalnya DP (Down Payment/Uang Muka) 0 persen bagi kendaraan hybrid hingga listrik murni, pembebasan mobil listrik murni dari aturan ganjil – genap DKI, dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB) 0 persen bagi kendaraan listrik murni di Ibu Kota.

Jodie O’Tania, Communication Director BMW Group Indonesia, mengatakan insentif salah satu faktor penting yang dapat membentuk pasar kendaraan listrik karena harganya saat ini masih tergolong tinggi, bahkan untuk yang hybrid dan PHEV sekalipun. Ia malah menyarankan insentif tersebut bisa lebih banyak lagi, seperti di banyak negara lain.


“Mungkin ke depannya jalan tol bisa gratis untuk kendaraan listrik atau parkir bisa gratis,” ucap dia menanggapi pertanyaan Mobil123.com di sela – sela test drive All-New BMW Seri 3 pada 1 – 3 Desember 2020 dengan rute Jakarta – Bogor.

Keistimewaan selanjutnya yang bisa diberikan, tambah Jodie, adalah parkir khusus di pusat – pusat perbelanjaan. Kemudian, berikan pula jalur khusus di jalan bagi mobil listrik (disebut juga ‘green line’—Red) seperti terdapat di berbagai negara Eropa.

“Dulu (parkir khusus mobil listrik) sudah sempat dicanangkan. Tapi sekarang kayaknya sudah pada hilang, deh, di mal. Dulu itu pernah ada parkir khusus untuk kendaraan listrik. Kemudian berikan green line. Mungkin yang ini agak susah kalau di sini. Green line itu kayak jalanan khusus (seperti punya) TransJakarta. Jadi khusus untuk kendaraan listrik. Di beberapa negara Eropa sudah banyak banget,” papar dia.

Insentif selanjutnya adalah skema cashback (diskon) yang diatur dan disubsidi pemerintah. Ini sudah dilakukan oleh Thailand.

“Kalau di Thailand, cashbacknya lumayan besar untuk kendaraan listrik,” tukas Jodie.

Jodie menyarankan pula agar pajak 0 persen tak hanya diberikan untuk kendaraan listrik murni. Teknologi berbasis baterai lain semisal PHEV pun perlu mendapatkannya.

“Pajak 0 persen juga sudah diterapkan tapi masih hanya untuk kendaraan full listrik. Ke depannya mungkin bisa juga berlaku untuk kendaraan PHEV. PHEV juga kan menjadi salah satu entry-level untuk kendaraan listrik. Kan, kalau orang mau coba biasanya mereka enggak langsung yang full listrik. Biasanya mereka coba hybrid dulu atau PHEV,” tandas Jodie. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar