Peneliti UI: Populerkan Motor Listrik Lebih Mudah daripada Mobil Listrik

Berita Otomotif

Peneliti UI: Populerkan Motor Listrik Lebih Mudah daripada Mobil Listrik

JAKARTA – Mempopulerkan motor listrik di Indonesia relatif lebih mudah daripada mobil listrik, menurut peneliti Universitas Indonesia (UI). Motor listrik masih relatif terjangkau dan infrastruktur pendukung yang dibutuhkan tak sekompleks mobil listrik.

Pemerintah memang ingin menciptakan pasar dan industri kendaraan listrik, melalui beragam insentif fiskal maupun nonfiskal mulai Oktober 2021. Namun, muncul berbagai opini soal kesiapan infrastruktur Indonesia, juga perdebatan tentang perlunya mengawali dari mobil hybrid terlebih dahulu yang relatif lebih terjangkau dan tak perlu infrastruktur.

Di tengah perdebatan ini, Riyanto, Peneliti Senior Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat UI (LPEM UI), menilai motor listrik bisa jadi perhatian pertama pemerintah untuk mempopulerkan transportasi ramah lingkungan. Menurutnya, selisih harga motor listrik dan motor bermesin konvensional tidak terlampau jauh.

Ia mencontohkan motor listrik Gesits saat ini saja Rp 27 jutaan, Viar Q1 sekitar Rp 18 juta, Honda PCX hybrid kisaran Rp 40 juta.


Skutik bermesin konvensional seperti Honda Beat, di sisi lain, Rp 16 – 17 juta. Contoh lain adalah Honda PCX 150 yang termurahnya Rp 29 jutaan.

Pengecasannya pun tidak memerlukan daya listrik rumahan yang besar seperti mobil listrik. Dengan demikian, motor listrik bisa dicas di kebanyakan rumah di Indonesia, setelah pemilik pulang dari aktivitas harian di perkotaan.

“Untuk yang menggunakan dengan intensitas tinggi seperti Gojek, Grab, baru perlu SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) atau sediakan sistem battery swap. Sebenarnya motor listrik lebih siap terserap. Berikan insentif sedikit sehingga lebih kompetitif terhadap motor ICE (Internal Combustion Engine),” ucap Riyanto dalam diskusi virtual yang diinisiasi Forum Wartawan Industri dan Forum Wartawan Otomotif, Kamis (26/11/2020).

Menurut informasi dari Kementerian Perindustrian sendiri, saat ini sudah ada 15 perusahaan yang mendapatkan NIK untuk motor listrik. Dengan demikian, mereka bisa merakit kendaraan tersebut.

Battery Swap, Cara Bikin Motor Listrik Lebih Murah

Ada cara lain membuat motor listrik lebih murah, menurut Riyanto. Tapi, cara yang ia kemukakan perlu prasyarat skema battery swap yang matang dari pemerintah dan pihak swasta.

Ia menilai baterai tak perlu termasuk dalam pembelian motor listrik sehingga harga bisa lebih murah lagi. Sebagai gantinya, baterai disewa dari pihak swasta. Saat energi habis, tinggal menukarnya di jaringan penukaran baterai yang sudah disediakan.


Skema ini membutuhkan kajian. Pasalnya, menurut studi LPEM UI, ongkos skema battery swap tak boleh lebih dari Rp 200 ribu per bulan.

“Kalau motor, per bulannya lebih dari Rp 200 ribu untuk battery swap, berat. Jadi, battery swap-nya juga harus murah. Mungkin skema battery swap seperti Gogoro di Taiwan itu menarik untuk dikembangkan,” tandasnya. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar