Indonesia Masih Berkutat di Esemka, Jepang Sudah Tes Mobil Terbang

Berita Otomotif

Indonesia Masih Berkutat di Esemka, Jepang Sudah Tes Mobil Terbang

TOKYO – Saat Indonesia masih berkutat di seputar isu ‘merek lokal’ Esemka, Jepang sudah berhasil melakukan tes mobil terbang mereka sendiri.

Perusahaan Jepang SkyDrive, seperti dilaporkan Carscoops pada awal pekan ini, telah sukses menjalankan pengujian pertama mobil terbang dengan manusia di dalamnya. Saat pengetesan, kendaraan VTOL (Vertical Takeoff and Landing) tersebut terangkat beberapa meter dari atas tanah dalam hitungan menit, sebelum kembali mendarat.

Mobil terbang itu disebut ‘Manned Machine SD-03’ dan dikembangkan sendiri oleh SkyDrive. Kemampuannya untuk melayang didukung oleh delapan baling-baling plus delapan motor penggerak listrik.

“Ada lebih dari 100 proyek mobil terbang di seluruh dunia. Sangat sedikit dari jumlah itu yang sukses menjalani pengujian dengan manusia di dalamnya. Saya harap banyak orang yang bakal tertarik menaikinya dan merasa aman,” ucap Tomohiro Fukuzawa, Chief Executive Officer (CEO) SkyDrive.

SkyDrive, perusahaan yang berbasis di Tokyo, Jepang, memulai proyek mobil terbang sejak 2012. Kemajuan dari kerja mereka amat bagus sehingga perusahaan-perusahaan besar ‘Negeri Sakura’ seperti Toyota, Panasonic, plus Bandai Namco mau berinventasi.

Di seri pendanaan terakhir, SkyDrive baru saja mendapatkan dana segar sebanyak 3,7 miliar yen atau sekitar Rp 509,75 miliar ( 1 yen = Rp 137,77). Salah satu perusahaan yang menggelontorkan modal baru di seri ini ialah Development Bank of Japan.

Fukuzawa mengatakan bahwa prototipe mobil terbang mereka sejauh ini baru bisa melayang antara 5 – 10 menit. Menurut dia, jika waktunya bisa ditambah menjadi 30 menit, ada potensi untuk menjual dan mengekspornya ke berbagai negara termasuk China.

Di saat bersamaan, ada banyak tantangan dalam komersialisasi mobil terbang seperti Manned Machine SD-03. Misalnya saja aturan serta kontrol lalu lintas, ukuran baterai, maupun beberapa infrastruktur pendukung.

“Banyak hal harus terjadi (untuk memudahkan komersialisasinya—Red). Jika mobil terbang berharga 10 juta dollar, tidak ada yang mau membelinya. Jika mereka melayang hanya selama 5 menit, tidak ada yang mau membelinya. Jika kondisi terbang mereka tidak stabil, tidak ada yang mau membelinya,” tukas Sanjiv Singh, Co-Founder Near Earth Autonomy—pesaing SkyDrive—dalam kesempatan berbeda. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar