Hyundai Dinilai Berpotensi Jadi Pesaing Serius Merek Jepang di Indonesia

Berita Otomotif

Hyundai Dinilai Berpotensi Jadi Pesaing Serius Merek Jepang di Indonesia

JAKARTA – Hyundai dianggap sangat mampu menjadi pesaing baru merek – merek Jepang di Indonesia pada masa depan. Investasi besar mereka untuk membangun pabrik diyakini akan diikuti strategi pemasaran dan produk yang konsisten plus kuat.

Seperti diketahui, Hyundai Motor Corporation kini sedang membangun pabrik di atas lahan seluas 77,6 hektare di Cikarang, dengan kapasitas produksi awal 150 ribu unit per tahun. Mereka pun masuk secara langsung melalui PT. Hyundai Motors Indonesia, memindahkan kantor regional Asia Pasifik ke negeri ini, serta menyiapkan total investasi USD 1,55 miliar hingga 2030 untuk ekspansi pabrik.

Pengamat Otomotif Bebin Juana menilai langkah tersebut menjadi pertanda bahwa Hyundai telah belajar banyak, sejak eksis di Indonesia di akhir 1990-an atau awal 2000-an. Menurut dia, untuk bisa bicara banyak di pasar otomotif Indonesia yang besar, produsen mobil memang harus punya basis perakitan yang kuat dan memadai.

“Saya melihat bahwa prinsipal juga belajar. Belajar bahwa ketika mau berhasil di negara Republik Indonesia ini, Anda harus hadir seada – adanya. Maksudnya, sama pabriknya juga. Jangan produk – produknya saja,” ucap dia ketika dihubungi Mobil123.com pada Kamis (5/11/2020) sore kemarin.


Pabrik, lanjut veteran industri otomotif nasional itu, menjadi modal awal bagus untuk memberikan harga yang lebih kompetitif. Berbagai rintangan biaya yang didapat jika mengimpor utuh kendaraan akan bisa teratasi.

“Dengan itu (pabrik—Red), akan mengurangi pajak – pajaknya juga,” tandas dia.

Bebin menganggap investasi pabrik menandakan pula keseriusan Hyundai untuk melakukan strategi pemasaran yang konsisten serta berkelanjutan. Soalnya, tak gampang menanamkan citra merek ke pasar yang amat dikuasai oleh merek – merek Jepang ini.

Ia mencontohkan keseriusan Wuling yang membangun pabrik besar, kemudian menerapkan strategi pemasaran yang kuat serta berkelanjutan. Dalam waktu sekitar 3 tahun sejak pertama kali merilis mobil pada 2017, Wuling menurutnya sudah relatif bisa diterima dengan cukup baik di pasar, meski masuk di segmen kendaraan murah yang amat ketat dan menjadi pemain baru di pasar yang lebih dari 90 persennya dipegang merek – merek Jepang.

“Pasar yang dimasuki Hyundai ini, kan, pasar yang cukup besar. Sementara yang ada di ingatan publik adalah merek – merek Jepang. Itu tidak bisa dibantah. Dan selama ini masyarakat anggap produk Korea Selatan kelas dua. Di bawah Jepang. Padahal kenyataannya sekarang terbalik,” pungkas mantan eksekutif Suzuki plus Hyundai Indonesia ini.

Pabrikan yang juga memiliki merek Kia dan Genesis ini, menurut Bebin, sejak bertahun-tahun lalu amat serius membenahi desain, kualitas, plus teknologi produk – produk mereka. Contohnya adalah dengan merekrut desainer – desainer dari merek premium Eropa.

Hyundai sendiri pada Jumat (6/11/2020) siang ini siap memperkenalkan dua model mobil listrik, Ioniq plus Kona EV. Ini, nilai Bebin, juga menjadi indikator kesungguhan mereka di pasar Nusantara.


Pemerintah Indonesia memang ingin mendorong pasar dan industri mobil listrik. Mulai 2021, insentif fiskal mapun nonfiskal bagi mobil hybrid, plug-in hybrid, hingga listrik murni diberikan dengan syarat produksi lokal di masa depan.

“Mereka (Hyundai) bisa punya masa depan yang sangat terang (di Indonesia),” pikir Bebin. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar