Test Drive Mitsubishi Xpander Facelift: CVT & Kaki-kaki Baru Bikin Beda!

Review

Test Drive Mitsubishi Xpander Facelift: CVT & Kaki-kaki Baru Bikin Beda!

KARAWANG – Mitsubishi Xpander facelift tidak hanya berubah tampilan luar-dalam. Setelah menjalani test drive (uji kendara) singkat, terasa performanya pun berbeda karena ubahan di transmisi dan kaki-kaki.

Xpander facelift meluncur perdana secara virtual di Indonesia pada 8 November 2021. Harganya kemudian diumumkan pada hari perdana Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS), Kamis (11/11/2021) di Serpong, Tangerang.

Pada Senin (15/11/2021), Mobil123.com berkesempatan mengeksplorasi kemampuan dari model seharga Rp228,03-272,58 juta on the road (OTR) Jakarta tersebut di Bridgestone Proving Ground, Karawang, Jawa Barat selama 30 menit.

Ulasan Performa Mitsubishi Xpander Facelift

Secara garis besar, menurut data spesifikasi dari Mitsubishi, Xpander facelift mendapatkan beberapa ubahan teknis yang cukup mengubah rasa berkendaranya. Pertama adalah transmisi otomatis CVT yang menggantikan girboks otomatis empat percepatan.

Kaki-kakinya juga diperkuat. Suspensi pada keempat rodanya dibuat lebih rigid dan disetel ulang.

Lalu, diameter shockbreaker belakang diperbesar dengan ukuran yang sama dengan milik ‘sang kakak’ yaitu Mitsubishi Pajero Sport. Valve (katup) pada kaki-kaki juga diganti dengan yang biasa digunakan oleh model-model dari merek premium Eropa.

test drive Mitsubishi Xpander facelift

Ubahan-ubahan tersebut berdampak pada pengalaman berkendara yang cukup berbeda jika dibandingkan model sebelumnya.

Akselerasi dari mesin MIVEC 1.5-liter berdaya puncak 104 ps dengan torsi maksimal 141 Nm menjadi lebih halus dan seakan tanpa jeda saat pergantian ‘gigi’. Menurut Mitsubishi, mereka juga memprogram girboks CVT tersebut agar memiliki virtual gear shift (perpindahan ‘gigi’ virtual) yang terasa mirip dengan transmisi otomatis delapan percepatan.

Ketika Mobil123.com mengemudi dengan santai dengan menahan putaran mesin di 3.000 rpm, speedometer dalam waktu relatif cepat dapat menyentuh kecepatan 100 km per jam.

Saat kickdown--pedal gas ditekan maksimal--kenaikan putaran mesin pada Xpander facelift tak selelet model sebelumnya. Indikator tachometer cukup cepat menyentuh 5.500-6.000 rpm dan terus melakukan pergantian ‘gigi’ pada rentang tersebut.

Kelebihan lain dari transmisi CVT, menurut pabrikan berlogo tiga berlian ini, adalah efisiensi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) lebih baik daripada tipe girboks sebelumnya.

test drive Mitsubishi Xpander facelift

Kaki-kaki Xpander facelift, terutama pada kedua roda belakangnya, sekarang lebih mumpuni meredam guncangan. Gerakan mobil relatif lebih stabil dan nyaman pada baris pertama maupun baris kedua dan ketiga, ketika melintasi trek aspal tak rata dan berundak-undak sejauh 370 km, meski kecepatan saat itu di kisaran 60-70 km per jam.

Kemampuan kaki-kaki Xpander facelift membuat Mobil12.com percaya diri melibas bagian high speed cornering berbentuk huruf ‘S’ besar di kecepatan 90 km per jam, pun medium speed cornering di kecepatan 60-70 km per jam.

Level kelimbungan bodi mobil (body roll) tidak bisa dikatakan jelek untuk mobil yang ground clearance-nya sudah dinaikkan drastis dari 205 mm ke 220 mm tersebut.

Selain itu, visibilitas ke depan menjadi lebih baik dengan perubahan bentuk ‘moncong’ yang lebih naik serta revisi desain dasbor yang lebih mendatar. Ketika berjalan santai, suara mesin di kabin lebih teredam berkat penambahan peredam suara pada bagian firewall.

Meski begitu, saat sedang digas maksimal, raungan mesin masih terdengar cukup jelas. Suara ban di kabin juga masih cukup terdengar.

Xpander facelift sendiri sudah diberkahi dengan fitur-fitur baru. Ada, Head Unit 9 Inci, Electric Parking Brake with Brake Auto Hold, Idling Start/Stop Engine, Speed Sensing Auto Doorlock. [Xan]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar