Pajak 0 Persen Ambyar, Insentif yang Bisa Kurangi Harga Mobil Masih Diharapkan

Berita Otomotif

Pajak 0 Persen Ambyar, Insentif yang Bisa Kurangi Harga Mobil Masih Diharapkan

JAKARTA – Usulan pajak 0 persen bagi pembelian mobil baru sudah ditolak oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani. Akan tetapi, Kementerian Perindustrian dan pabrikan otomotif tetap mendorong adanya pemberian insentif bagi para konsumen di masa pandemi virus Corona (Covid-19).

Seperti diketahui, pada September Kementerian Perindustrian dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengajukan pembebasan atau pengurangan pajak mobil baru hingga Desember 2020 demi mendorong penjualan yang terjun bebas di tengah pandemi. Wacana sempat mengambang cukup lama hingga menahan pembelian kendaraan bermotor, sebelum akhirnya ditolak dengan tegas oleh Sri Mulyani pada Oktober kemarin.


Direktur Jendral Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian Taufiek Bawazir  mengatakan bahwa pihaknya akan terus mendorong adanya insentif bagi calon pembeli mobil baru, untuk melengkapi beragam insentif yang bersifat umum bagi industri dan perusahaan. Bentuknya tidak harus pajak 0 persen.

“Paling tidak secara formil (usulan pajak 0 persen) sudah kami suarakan. Kalau memang belum (diluluskan) ya mudah-mudahan ada instrumen lain yang bisa mendukung. Saya kira kesempatan ini yang akan kami gunakan,” ucap dia menjawab pertanyaan Mobil123.com dalam diskusi virtual Forum Wartawan Industri (Forwin) pada Kamis (12/11/2020).

Taufiek menambahkan insentif bagi konsumen, menurut exercise (studi) mereka, akan meningkatkan penjualan mobil. Dengan begitu, produksi lokal kendaraan akan meningkat dan risiko PHK di tengah pandemi untuk industri ini bisa berkurang.


Apalagi, setidaknya ada 1,5 juta tenaga kerja yang bekerja di perusahaan otomotif, pabrik mobil, pemasok komponen dan suku cadang lapis satu dan dua, dealer, bengkel resmi, hingga bengkel nonresmi. Industri otomotif menurut data Gaikindo juga salah satu lokomotif perekonomian dengan kontribusi 3,98 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Ada multiplier effect dari ekonomi dan itu pun cuma sementara diminta,” tukas dia.

Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara, yang juga hadir dalam diskusi, malah bersikeras usulan pajak 0 persen belum ditolak. Ia menyebut usulan itu tetap masih dalam kajian Kementerian Keuangan.

“Mengenai pajak 0 persen itu belum ditolak. Itu, kan, dalam kajian,” tandasnya.


Direktur Program INDEF Esther Sri Astuti memiliki pendapat berseberangan. Ia menilai pajak 0 persen atau insentif bagi pembeli mobil belum tentu bisa mendongkrak penjualan mobil.

“Pajak 0 persen pun belum tentu bisa dongkrak penjualan karena pandemi Covid-19 ini menimbulkan banyak aspek yang harus diperbaiki, tidak hanya di sisi suplai tapi permintaannya. Artinya, pajak 0 persen belum tentu bisa angkat penjualan karena daya beli masyarakat harus diperbaiki. Kalau saya lebih encourage (menyarankan) agar memberi insentif fiskal bagi green product (mobil ramah lingkungan),” tegasnya dalam diskusi. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar