Mitsubishi Xpander di Antara Serbuan Facelift dan Produk Baru Kompetitornya

Berita Otomotif

Mitsubishi Xpander di Antara Serbuan Facelift dan Produk Baru Kompetitornya

JAKARTA - Mitsubishi Xpander mendapat tantangan bertubi-tubi dari para kompetitornya di kelas low MPV di awal 2019. Sang Phenomenom, magnet baru pasar mobil Indonesia ini dianggap terlalu tangguh bagi produk-produk lain di kelasnya.

Mitsubishi Xpander boleh dibilang selalu menjadi buah bibir di kalangan pencinta otomotif Indonesia pada 2-3 tahun belakangan ini. Kehadirannya bisa dibilang fenomenal dan memang dirancang secara seksama oleh PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI).

Cerita singkat skenarionya, sebelum diluncurkan pada Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2017, MMKSI menempatkan strategi marketing yang tergolong kolosal dan mengena di hati para potensial buyers khususnya konsumen di kelas low MPV. Kala itu MMKSI melakukan sosialisi bakal calon produk mereka dengan mengandalkan versi mobil konsep bernama XM Concept dan safari ke kota-kota besar Indonesia. 

Taburan effort dari kegiatan tersebut selanjutnya terbukti sukses, MMKSI kini menuai hasilnya dengan permintaan Xpander yang tak kunjung surut hingga memasuki tahun kedua penjualannya. Bahkan pada 2018, Xpander hampir setahun penuh menjadi penguasa low SUV, sempat beberapa waktu menggeser sang raja Toyota Avanza dari kekuasaan singasananya yang telah duduk belasan tahun.

Tak hanya itu, Xpander juga mendapat beberapa penghargaan bergensi di Indonesia. Oleh beberapa institusi termasuk media dinobatkan sebagai Car of the Year di Indonesia.

Melihat sepak terjang Xpander tentu membuat para kompetitor di kelasnya tidak tinggal diam. Satu per satu pabrikan berbenah dengan menghadirkan up-grade pada model andalannya hingga ada pula yang mencoba peruntungan dengan melansir produk terbaru.

Namun rasanya tak mudah untuk serta merta bersaing dengan Mitsubihsi Xpander. Pondasi yang sudah dibangun oleh MMKSI terbukti cukup tangguh, promosi kolosal di atas menancap sempurna pada calon pembeli potensial di kelasnya.

Lebih lanjut mari kita simak potensi dari para kompetitor dekatnya setelah melakukan facelift hingga meluncurkan produk baru sepert yang dilakukan Nissan, kompatriotnya dalam aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi.

Toyota Avanza


Toyota Avanza membuka awal tahun 2019 dengan menghadirkan model facelift yang tentunya bersama kembarannya Daihatsu Xenia. Jujur saja, ubahan yang dilakukan Sang Raja di kelas low MPV ini tergolong minim dan di luar ekspektasi.

Ini karena sangat jauh berbeda dengan foto-foto yang beredar di dunia maya beberapa waktu sebelum peluncuran di mana Avanza akan mengalami ubahan total. Nyatanya, update tampilan utamanya terletak pada sektor bonnet dan banyak yang menilai desainnya mirip-mirip Xpander.

Namun demikian, sejauh ini hanya Toyota Avanza yang menjadi pesaing utama bagi Xpander. Sang raja Low MPV ini masih dipercaya akan beragam keunggulan termasuk durabilitasnya, banyak penggemar kultural dari Avanza yang masih enggan berpaling ke brand lainnya.    

Suzuki Ertiga


Suzuki Ertiga generasi kedua masuk arena persaingan low MPV hampir setahun lalu atau tepatnya dimulai pada Indonesia International Motor Show (IIMS) 2018. Popularitasnya secara umum memang jauh di bawah Xpander. 

Salah satu hal yang membuat Suzuki Ertiga sulit bersaing adalah pandangan subyektif soal desainnya. Ini karena secara umum Ertiga mengandalkan desain elegan, bermain dengan garis-garis kalem dan mature, tentunya berlainan dengan para kompetitornya yang tampil agresif serta bisa dibilang sporty.

Ertiga sendiri baru saja mendapatkan update ringan, melengkapi fitur-fitur yang telah ada.  Kabarnya Suzuki Indomobil Sales (SIS) juga akan melansir varian baru dari Ertiga dengan tampilan yang lebih sporty, seperti Ertiga Drezza pada generasi sebelumnya. 

Honda Mobilio


Honda Mobilio sempat menjadi primadona kelas low MPV di awal kemunculannya pada 2013. Kala itu MPV yang sebangun dengan Honda Brio ini menjadi penantang serius Toyota Avanza. Belakangan Mobilio tidak bisa bersaing, apalagi setelah kemunculan Xpander, mobil ini seperti kehilangan pamornya. 

Dan mengawali 2019, Mobilio baru saja mencoba peruntungannya lewat versi facelift. Ubahan yang dilakukan tergolong minim, hanya penyegaran tampilan depan serta beberapa fitur kelengkapan lainnya.

Dengan modal sedemikian rasanya agak sulit untuk menyaingi popularitas Xpander. Mungkin konsumen baru akan kembali meliriknya jika kelak generasi kedua Mobilio hadir dan tentunya dengan ubahan yang signifikan.

All-new Nissan Livina


Saudara kembar Xpander yang baru diluncurkan ini boleh dibilang membawa segudang harapan bagi Nissan karena belakangan tergolong terpuruk dalam hal penjualan. All-new Livina tentunya siap mendompleng popularitas Xpander dan diharapkan mampu mengikuti jejak sukses kembarannya, apalagi Mitsubishi telah tergabung dalam aliansi bersama Nissan serta Renault. 

Karena baru, secara umum tampilannya terlihat lebih segar dan mengusung bahasa desain fasia Nissan yang akrab disebut V-Motion. Selebihnya praktis sama, tidak ada perbedaan yang mencolok antara all-new Nissan Livina dan Mitsubishi Xpander.

Yang patut disimak apalah all-new Livina menggunakan mesin Mitsubishi milik Xpander. Banyak pertanyaan dan spekulasi muncul dari sisi ini, apakah spare part Livina bakal mudah didapat seperti layaknya Xpander ?. Apakah dengan adanya rantai distribusi lebih panjang, spare part Livina akan lebih mahal dari Xpander ?. 

Hingga saat ini belum ada keterangan resmi untuk menjawab hal tersebut. Jika hal ini tidak bisa diuraikan dengan pasti oleh Nissan, bukan tidak mungkin konsumen akan lebih nyaman untuk memilih Xpander. 

Wuling Confero


Salah satu yang memberi warna baru di dunia otomotif Indonesia khususnya kelas low MPV adalah kehadiran Wuling Confero. Mobil ini mencoba menawarkan sebuah pilihan lain bagi para konsumen di Indonesia.

Namun ada beberapa kendala besar yang menjadi tantangan pabrikan asal China dan tak lain adalah soal brand image. Banyak konsumen tanah air trauma akan produk-produk otomotif asal China.

Meski demikian Wuling Motors mencoba memberikan jawaban pasti dengan keseriusannya mereka berinvestasi pada pabrik, jaringan dealer serta kualitas produk. 

Sejatinya Wuling Confero mampu menjadi salah satu kuda hitam di kelas low MPV. Salah satunya adalah dengan keunggulan fitur-fitur yang cukup lengkap. Sayang sampai saat ini belum ada varian dengan transmis otomatis, Confero hanya dijual dalam versi manual.

Ini tentunya menjadi pertimbangan tersendiri bagi konsumen, transmisi otomatis kini menjadi wajib apalagi bagi Anda yang tinggal di perkotaan seperti Jakarta. Dibanding Xpander, penjualan Confero masih tergolong kecil. 

Sebagai salah satu perbandingannya, sekitar 80 persen Xpander yang terjual adalah varian bertransmisi otomatis. Bisa dianalogikan, sebanyak-banyaknya Confero yang terjual hanya maksimal 20 persen dari penjualan Xpander atau mungkin sebanding dengan penjualan varian transmisi manual saja. Pertanyaanya, akankah dalam waktu dekat Wuling akan melansir Confero dengan transmisi otomatis baik versi i-AMT seperti Cortez atau CVT sama dengan Almaz ?. [Ari]



Krisna Arie

Krisna Arie

Senang semua benda bermesin dan beroda sejak duduk di bangku sekolah dan memulai bekerja di media dengan segmen otomotif sejak tahun 2002. Pria sederhana ini selalu percaya pekerjaan akan lebih sempurna jika didasari dengan passion.


Berita Utama


Komentar