Kenali 3 Ciri Wiper Mobil Harus Diganti

Panduan Pembeli

Kenali 3 Ciri Wiper Mobil Harus Diganti

JAKARTA – Menjelang musim hujan, ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian pemilik kendaraan agar perjalanannya aman.

Salah satunya adalah kondisi wiper. Terdengar sederhana memang, tapi kondisi wiper menentukan kemudahan pengemudi melihat ke jalan saat hujan deras. Kondisi wiper yang sudah tidak prima berpotensi membuat mengemudi kesulitan melihat dan menyebabkan kecelakaan.

Untuk itu, Honda prospect Motor pun menyarankan untuk memeriksa kondisi wiper. Mereka pun memberikan ciri-ciri karet wiper yang sudah harus diganti agar perjalanan dengan mobil tetap aman dan nyaman.

  • Bercak Air Masih Tersisa

Coba lalukan pengetesan dengan menyalakan wiper diatas kaca yang sudah disiram air. Apabila wiper tidak dapat menyapu air dengan sempurna dan justru tersisa kotoran atau bercak air, maka karet wiper sudah mengeras dan sudah saatnya diganti.

  • Timbul Suara Berdecit

Saat Anda menyalakan wiper di atas kaca yang sudah dibasahi, perhatikan apakah terdapat bunyi berdecit saat wiper Anda bekerja. Bunyi decit menandakan karet wiper Anda sudah mengeras dan apabila diteruskan dapat menyebabkan kaca mobil baret. Apabila kondisi itu terjadi, tentu biaya pemulihannya lebih mahal. Oleh karena itu, rajinlah mengganti karet wiper mobil Anda saat sudah mengeras.

  • Tekstur Kasar

Selain itu, untuk memeriksa kelenturan karet wiper, pemilik kendaraan juga dapat melihat dan menyentuhnya secara langsung. Apabila teksturnya sudah kasar, terdapat retakan atau pecah-pecah, bentuk pinggiran tidak rata serta keras saat disentuh, maka karet wiper Anda sudah terlalu aus dan harus segera diganti.

Peringatan BMKG

Perkiraan BMKG

Pada awal Oktober 2020, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memperingatkan akan adaya iklim La-Nina. BMKG dan pusat layanan iklim lainnya seperti NOAA (Amerika Serikat), BoM (Australia), JMA (Jepang) memperkirakan La Nina dapat berkembang terus hingga mencapai intensitas La Nina Moderate pada akhir tahun 2020, diperkirakan akan mulai meluruh pada Januari-Februari dan berakhir di sekitar Maret-April 2021.

Catatan historis menunjukkan bahwa La Nina dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan di Indonesia hingga 40% di atas normalnya. Namun demikian dampak La Nina tidak seragam di seluruh Indonesia. Pada Bulan Oktober-November, peningkatan curah hujan bulanan akibat La Nina dapat terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia kecuali Sumatera. Selanjutnya pada Bulan Desember hingga Februari 2021, peningkatan curah hujan akibat La Nina dapat terjadi di Kalimantan bagian timur, Sulawesi, Maluku-Maluku Utara dan Papua.

Pada Bulan Oktober ini beberapa zona musim di wilayah Indonesia diperkirakan akan memasuki Musim Hujan, di antaranya: Pesisir timur Aceh, sebagian Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Pulau Bangka, Lampung, Banten, sebagian Jawa Barat, sebagian Jawa tengah, sebagian kecil Jawa Timur, sebagian Kalimantan Barat, sebagian Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, sebagian Kalimantan Timur, sebagian Kalimantan Utara, sebagian kecil Sulawesi, Maluku Utara dan sebagian kecil Nusa Tenggara Barat. Peningkatan curah hujan seiring dengan awal musim hujan disertai peningkatan akumulasi curah hujan akibat La Nina berpotensi menjadi pemicu terjadinya bencana hidro-meteorologis seperti banjir dan tanah longsor. [Adi/Ari]



Adi Hidayat

Adi Hidayat

Pria lugu yang tinggal di Bekasi ini kerap menghadapi kemacetan Jakarta untuk memberikan informasi terkini terkait dunia otomotif Indonesia. Menghirup asap knalpot, merasakan teriknya panas matahari, menerabas hujan hingga menembus kepungan banjir pun telah menjadi bagian dari hidupnya. Meski demikian ia menjalaninya dengan penuh ketabahan dan kesabaran.


Berita Utama


Komentar