Rumitnya Menghadirkan Era Bus dan Truk Listrik ke Indonesia

Berita Otomotif

Rumitnya Menghadirkan Era Bus dan Truk Listrik ke Indonesia

TANGERANG – Era mobil listrik di Indonesia sudah terlihat di depan mata, meski masih samar-samar. Sebaliknya, masa depan bus dan truk listrik tampak gelap karena banyak yang perlu dibenahi terlebih dahulu.

Beberapa merek kendaraan penumpang saat ini memang sedang bersiap meluncurkan model-model hybrid mereka di Tanah Air, sambil menunggu insentif pemerintah melalui regulasi low carbon emission vehicle (LCEV) terbit pada akhir 2018. Bahkan, sejak 2017, ada di antara mereka yang telah membeberkan model-model tersebut, sebut saja misalnya C-HR hybrid atau Nissan Note e-Power.

Di sisi lain, kendaraan komersial, khususnya bus dan truk, masih adem ayem dengan mesin konvensional. Bahkan, kendaraan-kendaraan tersebut, yang mayoritas bermesin diesel, baru akan menerapkan standar emisi gas buang Euro 4 pada 2021. Ini berbeda dengan mobil bermesin bensin yang wajib menerapkan standar Euro 4 mulai Oktober 2018.

Santiko Wardoyo, Direktur Penjualan dan Promosi PT. Hino Motors Sales Indonesia (HMSI), mengakui era bus serta truk listrik di Indonesia masih cukup jauh. Pasalnya, karakteristik konsumen dan produknya berbeda dengan kendaraan penumpang. ‘Pekerjaan rumah’ pemerintah agar keduanya masuk akal untuk dipasarkan di Tanah Air pun jauh lebih rumit ketimbang mobil listrik.

Truk maupun bus listrik, menurut dia, amat memerlukan infrastruktur luar biasa matang dan tersebar secara luas. Ini karena penggunaan kendaraan komersial bisa menembus kota, provinsi, bahkan pulau.

“Ada bus dan truk listrik yang kemampuan jarak tempuh 150 km. Tapi begitu kena macet di jalan bagaimana? Mati nanti (di tengah-tengah),” kata Santiko meladeni pertanyaan Mobil123.com.

Di samping itu, pembeli kendaraan komersial sangat kental dengan pertimbangan kebutuhan dan bisnis. Kendaraan dibeli untuk dipakai semaksimal mungkin dalam waktu sepanjang mungkin.

Sementara, untuk kendaraan penumpang, pertimbangan fashion, tren dan dorongan emosional dapat mengintervensi keputusan konsumen. Ubahan-ubahan minim pada berbagai sisi kendaraan dapat memantik keinginan membeli. Tempo penggantian kendaraan pun relatif lebih singkat.

“Kalau di truk, kita berlomba bagaimana produk awet, tahan, suku cadang gampang. Bayangkan kalau produk diganti terus (seperti kendaraan penumpang),” ujar dia lagi.

Bus Listrik Lebih Logis
Santiko menilai bus listrik berpeluang muncul lebih dulu daripada truk listrik di Indonesia. Dari sisi jarak tempuh maupun tujuan penggunaan, bus listrik lebih dapat diprediksi. Kalkulasi mengenai infrastruktur pengecasan yang mesti disiapkan pun relatif lebih masuk akal.

“Untuk truk listrik ini kita perlu bicara banyak soal demografi Indonesia. Anda masuk tambang dengan truk listrik enggak akan kuat. Perlu torsi besar. Kalau bus memang beredarnya di jalan raya. Kapasitas penumpang juga sudah ditentukan sejumlah itu. Antara beban dan tenaga sudah bertemu. Tapi kalau seperti pertambangan, kelapa sawit susah. Ambil contoh China, pasar terbesar mobil listrik. Mereka pun bus listrik duluan. Truk listrik belum,” paparnya.

Sayang, Santiko belum bisa memprediksi kapan kemungkinan era truk serta bus listrik hadir di Nusantara. Tampaknya belum ada satu rujukan pun untuk sekedar menggantung harapan tersebut.

“Terus terang, sampai sekarang saya belum bisa jawab kapan,” tutup dia. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar