Toyota Butuh 4 – 5 Tahun untuk Rakit Mobil Hybrid di Indonesia

Berita Otomotif

Toyota Butuh 4 – 5 Tahun untuk Rakit Mobil Hybrid di Indonesia

JAKARTA – Toyota menyatakan siap memenuhi keinginan pemerintah yang ingin menciptakan industri mobil hybrid dan mobil listrik di negeri ini, tapi mereka butuh waktu sekitar separuh dekade sebagai masa transisi.

Seperti diketahui, pemerintah sedang menyusun regulasi low carbon emission vehicle (LCEV) yang dijanjikan terbit tahun ini dan berisi antara lain insentif bagi mobil hybrid plus mobil listrik. Mobil hybrid akan didahulukan sambil menyiapkan infrastruktur bagi mobil listrik. Pemerintah juga meminta pabrikan-pabrikan yang menikmati insentif tersebut untuk merakit lokal mobil hybrid atau pun mobil listrik mereka dalam jangka waktu tertentu.

Eksekutif pabrikan Toyota di Indonesia mengatakan pihaknya memerlukan waktu sekitar 4- 5 tahun sebagai masa transisi, setelah model hybrid mereka meluncur. Kini mereka sedang menunggu regulasi terbit.

“Dari regulasi yang ada, kan, kami harus kalkulasi. Kemudian dari sisi pabrikan juga biaya produksi berapa, kesanggupan konsumen berapa, selisihnya berapa. Semua harus dihitiung. Yang paling penting lagi rantai suplainya bagaimana,” papar Bob Azzam, Director of Administration, Corporate, and External Affairs PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN).

Toyota sendiri sejak 2017 sudah mengatakan bahwa mereka menyiapkan C-HR hybrid sebagai model berbahan bakar alternatif pertama yang bakal dijual di Tanah Air dengan memanfaatkan insentif LCEV. Sayang, agen pemegang merek Toyota di Indonesia menolak memberikan perkiraan kapan C-HR hybrid mengaspal.

“Perpresnya katanya sudah di presiden, tinggal beliau tanda tangan,” ujar Fransiskus Soerjopranoto, Executive General Manager PT. Toyota Astra Motor (TAM).

Bob Azzam sendiri tidak berkomentar ketika ditanyakan apakah C-HR hybrid bakal menjadi model hybrid pertama yang mereka rakit lokal.

Pekerjaan Rumah
Bob menjelaskan pekerjaan rumah sebelum memproduksi mobil hybrid di Indonesia cukup pelik. Setelah mendapatkan insentif dari pemerintah, Toyota perlu melakukan perubahan dari hulu hingga hilir.

“Selain harga, kami harus ubah konsumennya. Ini, kan, persoalan kebiasaan konsumen. Untuk mobil listrik kami juga harus ubah dari hulu sampai hilir. Tenaga penjual harus kami didik karena jual mobil listrik beda dengan mobil konvensional. Bengkel harus berubah pabrik berubah sampai value chain. Ini perubahan total. Pemerintah sudah targetkan kontribusi mobil listrik 20 persen pada 2025. Ini milestone baik untuk pelaku usaha buat rencana bisnis,” papar Bob.

Dimulainya perakitan mobil hybrid oleh Toyota juga tak membuat mereka serta-merta mengurangi industri komponen yang ada saat ini. Mobil konvensional masih punya sumbangan volume cukup besar di pasar.

“Kan enggak semua produksi nantinya hybrid. Komposisinya saja pada 2025 20 persen berbanding 80 persen. Mobil konvensional masih ada dan masih penting. 80 persen itu besar lho, apalagi kalau pasarnya membesar lagi dari saat ini. Sekarang besarkan dulu pasarnya. Sekarang, kan, 1 jutaan. Padahal prediksi lima tahun lalu itu sekarang 1,5 juta,” tandas dia. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar