Perusahaan Taksi Lirik MPV, Nasib Sedan Makin Sengsara

Berita Otomotif

Perusahaan Taksi Lirik MPV, Nasib Sedan Makin Sengsara

JAKARTA – Langkah perusahaan-perusahaan taksi besar yang saat ini lebih memilih membeli multi purpose vehicle (MPV) sebagai armada baru mereka membuat nasib sedan di pasar otomotif Indonesia makin sengsara.

Penjualan sedan terus turun beberapa tahun terakhir. Pangsa pasarnya di jagad otomotif Indonesia yang awalnya masih 1-2 persen kini menjadi kurang dari 1 persen.

Penurunan masih juga terjadi pada dua bulan pertama 2018. Hal itu diakui Executive General Manager PT. Toyota Astra Motor (TAM) Fransiskus Soerjopranoto turut disebabkan kebijakan para operator taksi yang kini sedang beralih mencari MPV ketimbang sedan dalam peremajaan armada.

“Perusahaan-perusahaan taksi enggak bisa menyangkal ada kebutuhan konsumen terhadap MPV, terhadap kendaraan untuk mengangkut barang dan orang. Di bandara misalnya. Jadi, mereka mencoba memenuhi kebutuhan konsumen,” kata Soerjopranoto ketika dihubungi Mobil123.com pada Selasa (3/4/2018).

Seperti diberitakan sebelumnya, Blue Bird, salah satu korporasi taksi terbesar Indonesia, menjelaskan bahwa 80-90 persen dari ribuan armada yang mereka remajakan tahun ini akan digantikan oleh MPV, salah satunya Toyota Avanza Transmover. Ini dilakukan demi bersaing dengan taksi online yang banyak menggunakan MPV. Sebab lainnya adalah revisi regulasi pemerintah yang dahulu cuma mengizinkan armada taksi menggunakan sedan.

Tak Cuma Blue Bird yang melakukan itu. Pesaing mereka, Express Group juga menambah armada MPV dengan membeli Wuling Confero.

Makin Banyak Model Alternataif
Soerjopranoto menilai alasan kedua terpuruknya sedan ialah makin bervariasinya model-model kendaraan penumpang di Tanah Air. Konsumen akhirnya tak lagi terpaku pada MPV, apalagi sedan.

“Kalau dulu, kan, kita mungkin hanya mengenal sedan dan MPV. Tapi berapa tahun belakangan terkenal  yang namanya sport utility vehicle (SUV) crossover, hatchback, bahkan ada low cost green car atau LCGC. LCGC pun enggak ada sedan, jadi enggak ada dorongan supaya pasarnya naik,” ujar dia.

Sedan masih jauh dari pikiran para pembeli mobil di Tanah Air antara lain  karena pajak penjualan barang mewahnya yang tinggi, sehingga membuat harganya mahal. Pemerintah sendiri kini sedang menyusun ulang tarif PPnBM kendaraan demi mendorong penjualan plus perakitan lokal sedan.

Sedan juga bukan selera masyarakat negeri ini yang lebih suka mobil-mobil berkapasitas besar dengan multifungsi agar bisa mengangkut banyak orang maupun barang ketika dibutuhkan. Penjualan sedan kepada korporasi atau perusahaan taksi akhirnya cukup berperan.

Data wholesales Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan bahwa penjualan sedan sejak 2013-2017 terus mengecil dari 34.639 unit menjadi 22.197 unit, 18.170 unit, 13.928 unit, hingga 9.060 unit. Pada Januari-Februari 2018, penjualan sedan juga turun 11,15 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dari 1.489 unit menjadi 1.323 unit. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di sebuah harian umum nasional dan resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar

Support
Chat Support
Support Support
0 Support
Support
Chat Aktif0
Diarsipkan
Hapuskan chat?
Chat
Tidak ada chat yang sedang berlangsung
Mulai pencarian dan chat dengan penjual