Duh, 'Perang Harga' Mobil China juga Ganggu Harga Mobil Bekas!

Berita Otomotif

Duh, 'Perang Harga' Mobil China juga Ganggu Harga Mobil Bekas!

JAKARTA – ‘Perang harga’ mobil China di Indonesia tak hanya mendisrupsi pasar mobil baru. Pedagang mobil bekas pun mesti putar otak karena bisnis mereka ikut terganggu.

Harga mobil berteknologi elektrifikasi dari merek China yang semakin lama semakin rendah, kata Co-Owner AHA Gallery Aldyth Yosua, semakin menyenggol harga mobil bekas. Apalagi, kini merek China memperluas ‘arena perang harga’ dari semula hanya menyasar teknologi BEV (battery electric vehicle) ke PHEV (plug-in hybrid) pula.

Konsumen pun sekarang punya kecenderungan bersikap ‘mendang-mending’, antara beli mobil PHEV atau mobil listrik keluaran merek China atau mobil bekas dengan teknologi yang sudah ketinggalan.

“Masyarakat mulai membandingkan. Mereka berpikir lebih baik ambil yang listrik dan lebih murah. Itu yang membuat segmen mobil bekas ini mau enggak mau harus mengoreksi harga-harga mobil bekasnya karena orang pasti menilai lebih baik ambil mobil baru dengan teknologi canggih,” kata Aldyth ketika dihubungi Mobil123.com, Kamis (6/11/2025).

perang harga mobil listrik ChinaDepresiasi harga mobil bekas yang lebih dalam, lanjut Aldyth, tak hanya terjadi pada unit-unit dari merek China. Resale value (harga jual kembali) dari mobil bekas merek Jepang atau pun Korea Selatan juga semakin turun.

“Ketika mobil listrik Tesla masuk pada 2016 atau 2017, segmen yang diincar itu menengah ke atas. Jadi, tidak ada pembandingnya dari sisi mobil bekas. Kami waktu itu aman-aman saja. Tetapi, ketika bermunculan banyak mobil listrik BYD, Chery, Jaecoo, dan lain-lain apalagi pada tahun ini, kami harus adaptif karena mobil bekasnya jadi bersaing dengan mobil baru,” tukasnya.

Segmen Mobil Bekas yang Terdampak dan Depresiasi Harganya

depresiasi harga mobil bekas Tidak semua mobil bekas mengalami depresiasi harga yang parah. Aldyth mengatakan unit-unit seken jenis MPV (multi purpose vehicle) dan SUV (sport utility vehicle) di segmen A dan B masih relatif aman.

Soalnya, belum ada mobil berteknologi elektrifikasi, baik PHEV atau pun BEV, yang menawarkan kapasitas 7-seater dengan rentang harga Rp200-300 jutaan.

“Oke, sudah ada mobil listrik yang Rp200 jutaan, tapi belum 7-seater. BYD Atto 1 masih 5-seater. BYD M6, walaupun 7-seater, harganya masih Rp400 jutaan dan yang paling murah Rp380 jutaan,” sebutnya.

“Ada memang kemarin Jaecoo J5 yang Rp200 jutaan, tapi 5-seater. Yang saya khawatirkan, ke depannya terjadi pergeseran kebutuhan. Orang-orang jadi berpikir ‘enggak apa-apa, deh, bukan 7-seater tapi masih Rp200 jutaan dan lebih canggih',” sambung dia was-was.

Satu-satunya segmen mobil murah yang terdampak di pasar kendaraan seken, pantau Aldyth, ialah city car atau LCGC (low cost green car) 5-seater. Sebagian orang yang tadinya membeli Toyota Agya, Daihatsu Ayla, maupun Honda Brio bekas untuk mobil tambahan sekarang beralih ke Atto 1.

“Kurang-lebih harga Brio bekas, Agya bekas dan sebangsanya langsung turun hingga bisa 15 persen sejak adanya Atto 1. Brio E 2021 biasanya di Rp155-160 juta, sekarang itu Rp140 jutaan,” pungkasnya.

BYD Atto 1 Di luar itu, ‘Perang harga’ mobil China untuk sementara masih lebih banyak menyenggol mobil bekas di segmen C ke atas yang menyasar kelas menengah ke atas. Harga mobil bekas di segmen itu bisa tergerus sampai dengan 40 persen dari kondisi normal.

“Bayangkan, biasanya Toyota Alphard 2017, 2018 dulu bisa jual Rp700-800 juta. Itu kondisi sampai dengan awal tahun ini, sebelum Denza D9 keluar. Tapi, saat Denza keluar, kami banting harga Rp600 juta saja tak ada yang sentuh sampai mau enggak mau kami jual rugi di Rp500 juta. Malahan, sekarang itu Alphard 2015 yang dulu di atas Rp500 juta sudah seharga Rp400-450 juta,” papar dia.

Contoh lain yang Aldyth kemukakan adalah kehadiran Chery Tiggo 8 CSH yang mengganggu model-model seperti Honda CR-V bekas maupun Hyundai Santa Fe bekas.

“Dengan CR-V Prestige 2022 dan 2023, harganya hampir mirip yaitu Rp400 jutaan juta. Kalau Hyundai Santa Fe itu, untuk tipe favoritnya yaitu Diesel Signature 2023 dan 2024, mendekati Rp500 juta. Ibaratnya sekarang baru pakai 1-2 tahun turunnya 15 persen dari harga baru. Kalau masa-masa normal di bawah 10 persen,” tandasnya.

Profitabilitas AHA Gallery sempat terkoreksi antara 10-20 persen dari awal sampai pertengahan 2025. Namun, sekarang mereka sudah belajar untuk lebih hati-hati saat membeli stok mobil seken yang terdampak ‘perang harga’ mobil China, sehingga pada tiga bulan terakhir profitabilitas sudah kembali normal.

Di tengah gangguan tersebut, Aldyth percaya pasar mobil bekas masih tetap menjanjikan potensi besar. AHA Gallery bahkan membuka gerai ke-10 mereka di Indonesia yang berlokasi di Bali pada Agustus 2025.

“Salah satu alasan kami putuskan buka di Bali karena tidak semua kota ‘banjir’ mobil listrik. Salah satunya di Bali. Artinya, stok mobil-mobil bekas kami di sini kami bisa pindahkan ke sana,” tutupnya sembari mengungkap sedikit strategi. [Xan]



Insan Akbar

Insan Akbar

Reporter

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di sebuah harian umum nasional dan resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar

app-icon
app-icon
app-icon
Lihat Mobil Impian Anda di Aplikasi
Unduh Aplikasi Sekarang