Nissan Ingin Kontrol Lebih Besar dalam Aliansi dengan Renault-Mitsubishi

Berita Otomotif

Nissan Ingin Kontrol Lebih Besar dalam Aliansi dengan Renault-Mitsubishi

TOKYO – Nissan diketahui telah lama memendam ketidakpuasan di dalam aliansi dengan Renault serta Mitsubishi dan mereka menginginkan kekuasaan lebih besar.

Seorang eksekutif senior Nissan Motor Corporation (NMC), seperti diwartakan  Reuters pada Kamis (22/11/2018), menjelaskan bahwa pihaknya selama ini merasa bahwa struktur di dalam aliansi antara Nissan dengan Renault tidak sesuai perbandingan penjualan keduanya di pasar global. Pabrikan yang diakuisisi oleh Renault pada 1999 ini menilai hubungan di antara keduanya kurang mutual dan menginginkan perubahan.

“Kita harus kembali ke ide awal mengenai hubungan yang saling menguntungkan. Relasi antara kami harus menjadi lebih seimbang dari sebelumnya,” ujar sumber yang tak ingin disebutkan namanya tersebut.

Penjualan Nissan di seluruh dunia hampir 60 persen lebih besar ketimbang Renault, tapi struktur aliansi memperlihatkan Renault memegang kekuasaan lebih besar. Seperti diketahui, pada akhir 1990-an, Renault membeli 43,4 persen saham Nissan, dengan Carlos Ghosn sebagai aktor utamanya. Di sisi lain, Nissan memiliki 15 persen saham Renault tanpa hak suara di dalam voting.

Nissan yang ketika itu di ambang kebangkrutan kemudian diselamatkan oleh Renault. Mitsubishi kemudian bergabung di dalam aliansi setelah dibeli 34 persen sahamnya oleh Nissan pada 2016.

Nissan, menurut narasumber, telah lama merasa sebagai partner junior di dalam aliansi. Fakta ini sendiri terkuak di tengah-tengah guncangan yang menimpa aliansi setelah Carlos Ghosn, ‘otak’ di balik aliansi plus Chairman of the Board di ketiga perusahaan, ditangkap Kejaksaan Distrik Tokyo pada Senin (19/11/2018) karena dugaan pemalsuan laporan pendapatan kepada Bursa Saham Tokyo plus penggunaan aset NMC untuk kepentingan pribadi.

Hal tersebut terkuak lewat aduan whistle blower (sumber internal yang mengetahui permasalahan). NMC pun mengadakan investigasi selama berbulan-bulan sebelum akhirnya memberitahukannya kepada otoritas hukum setempat.

Nissan dan Mitsubishi kemungkinan besar resmi mencopot Carlos Ghosn dari jabatan Chairman of the Board sekaligus Representative Director pada hari ini. Adapun Renault belum mengeluarkan pernyataan serupa dan untuk sementara menggunakan pejabat pengganti untuk dua posisi yang ditempati Ghosn yaitu Chairman of the Board plus Chief Executive Director.

Saling Curiga
Terkuaknya dugaan pelanggaran Ghosn terjadi saat dia mewacanakan merger sepenuhnya antara aliansi. Salah satu pihak yang mendorong terjadinya merger penuh adalah pemerintah Prancis yang memiliki saham di Renault.

“Kami meminta Carlos Ghosn memperkuat aliansi,” ujar pejabat pemerintah ‘Negeri Menara Eiffel’.

Di Jepang kini muncul anggapan bahwa pemerintah Prancis ingin mengontrol Nissan plus Mitsubishi melalui Renault. Kecurigaan pun muncul.

“Ada perasaan krisis di Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri bahwa di tahap ini Nissan dan Mitsubishi akan dikuasai Prancis,” tandas seorang narasumber yang dekat dengan regulator ‘Negeri Sakura’.

Pemerintah Prancis mengaku masih ‘gelap’ mengenai kasus Ghosn dan memilih tak berkomentar banyak. Renault saat ini sedang meminta laporan investigasi internal kepada Nissan yang melatarbelakangi kasus lelaki berjuluk ‘The Cost Killer’ ini.

“Sulit melihat apa di balik ini, apakah ini semua benar atau ini dilakukan untuk mengakhiri aliansi atau mengambil kontrol terhadapnya,” ujar pejabat Prancis.

Pemerintah Prancis maupun Jepang sendiri pada Rabu (21/11/2018) kemarin menggelar pertemuan. Mereka sama-sama ingin membantu kestabilan di dalam aliansi Renault, Nissan, Mitsubishi. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar