Nissan dan Renault Ingin Dilebur Jadi Satu Perusahaan

Berita Otomotif

Nissan dan Renault Ingin Dilebur Jadi Satu Perusahaan

PARIS – Nissan dan Renault kini sedang dalam diskusi untuk dilebur menjadi satu perusahaan untuk mengakhiri aliansi dengan sistem yang kompleks di antara keduanya.

Chairman of The Board Nissan Alliance Carlos Ghosn, seperti dilaporkan Bloomberg beberapa waktu lalu dengan mengutip sumber anonim yang mengetahui permasalahan, adalah otak di balik rencana ini. Ghosn kini memimpin diskusi di antara Nissan dan Renault yang sudah berlangsung selama beberapa bulan belakangan, demi menggabungkan keduanya ke dalam satu perusahaan.

Aliansi Nissan pertama kali terbentuk pada 1999, ketika Renault mengakuisisi 36,8 persen saham Nissan yang sedang dilanda kesulitan keuangan. Saat ini, Renault mempunyai 44 persen saham Nissan, sedangkan Nissan memiliki 15 persen saham Renault.

Aliansi Nissan juga beranggotakan pabrikan terbesar Rusia Avtovaz dan produsen mobil asal Jepang Mitsubishi. Ghosn menjadi aktor di balik layar perjalanan aliansi menjadi salah satu pabrikan terbesar dunia dan dijuluki ‘Le Cost Killer’ atau ‘Sang Pemangkas Biaya Produksi’.

Jika rencana penyatuan Nissan serta Renault berhasil, potensi efisiensi yang bisa mereka gapai bakal menjadi ancaman lebih serius bagi para raksasa otomotif lain semisal Toyota, Volkwagen (VW) atau General Motors (GM). Pada tahun lalu saja, Aliansi Nissan menjadi nomor satu karena berhasil menjual 10,6 juta unit kendaraan.

VW berada di posisi kedua dengan 10,7 juta unit, sementara Toyota menguntit di teempat ketiga dengan 10,4 juta unit. Aliansi Nissan menargetkan penjualan menjadi 14 juta unit pada pada 2022, antara lain dengan meluncurkan delapan mobil listrik baru.

Aliansi ini menolak mengomentari informasi itu. Malah mereka mengklaimnya sebagai sebuah isu belaka. 

“Kami tidak menanggapi rumor dan spekulasi,” ujar Global Vice President for Communications Nissan Alliance Jonathan Adashek, seperti dikutip dari Reuters.

Sumber anonim sendiri memberitahukan bahwa diskusi peleburan Nissan dengan Renault belum menemui kata sepakat. Bahkan, bisa saja usaha itu gagal.

Pasalnya, pemerintah Prancis memiliki 15 persen saham Renault. Ini membuat pemerintah ‘Negeri Menara Eiffel’ bisa campur tangan terhadap aksi Ghosn tersebut.

Di Prancis, negara memang mengamankan saham di pabrikan-pabrikan otomotif mereka. Selain saham Renault, pemerintah Prancis pun menggenggam 13,68 persen saham PSA Groupe yang membawahi merek Peugeot, Citroën, DS, Opel, and Vauxhall. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di sebuah harian umum nasional dan resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar

Chat Aktif
Diarsipkan
Chat Bantuan
Hapuskan chat?
Chat Empty
Tidak ada chat yang sedang berlangsung
Mulai pencarian dan chat dengan penjual
Chat Bantuan
Support