Ngeri, Gojek dan Grab Bahas Kemungkinan Merger Akibat Pandemi

Berita Otomotif

Ngeri, Gojek dan Grab Bahas Kemungkinan Merger Akibat Pandemi

JAKARTA – Gojek dan Grab dilaporkan membahas kembali kemungkinan merger, sebagai upaya memperkuat bisnis di tengah pandemi virus Corona (Covid-19).

Keduanya, menurut sumber yang mengetahui permasalah kepada Financial Times beberapa waktu lalu, menyambung lagi pembicaraan merger dengan instruksi dari para pemegang saham. Salah satu di antaranya yang menyokong wacana tersebut adalah Masayoshi Son, Founder dan CEO Softbank.

Pemicu diskusi merger antara dua start-up terbesar di Asia Tenggara tersebut adalah kebocoran finansial akibat berbagai batasan dari negara-negara di masa pandemi. Negara yang paling mempengaruhi adalah Indonesia, tempat Gojek dan Grab bertarung sangat serius.


Jakarta, Ibu Kota sekaligus pusat perputaran uang di Indonesia, sendiri kembali menjalani Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ketat mulai 14 September 2020 kemarin hingga dua pekan ke depan. Gojek, Grab maupun Softbank menolak memberikan tanggapan mengenai kabar rencana merger.

Enam bulan lalu, Gojek serta Grab sempat membahas topik yang sama. Namun, ketika itu, Softbank sebagai pemegang saham Grab, menentangnya.

Son, menurut salah satu orang dekatnya, ketika itu percaya bahwa bisnis ride-sharing (ojek/taksi online) bakal menjadi industri monopoli satu pihak. Perusahaan dengan uang paling banyak akan menjadi penguasa.


Tapi, Gojek yang sahamnya dipegang nama-nama besar seperti Tencent, Meituan-Dianping, Facebook, serta Paypal terbukti tangguh terutama di Indonesia. Negara ini merupakan pasar terbesar bagi kedua pihak dan tempat ‘perkelahian utama’ yang sama-sama ingin dikuasai.

Kebalikan dari enam bulan lalu, Son sekarang menjadi pendukung utama merger. Son berpikir sinergi plus efisiensi biaya yang bisa didapat dengan merger akan membuat valuasi kedua pihak lebih cepat bangkit.

Gojek juga dinilai memiliki dukungan politik karena pendirinya, Nadiem Makarim, adalah menteri. Karena itu, Gojek dianggap memiliki keunggulan lebih dalam negosiasi apa pun.

Valuasi kedua korporasi di pasar sekunder memang sedang jatuh. Saham Grab, menurut broker di pasar sekunder, diperdagangkan dengan diskon 25 persen.


Saham Gojek pun ditransaksikan dengan diskon signifikan. Kebanyakan di antaranya adalah dari pihak-pihak yang mau keluar.

Regulator dianggap bisa menjadi penghalang wacana merger. Pasalnya, dengan penyatuan kedua perusahaan, ada kemungkinan pemutusan hubungan kerja.

“Di masa ekonomi sedang sulit (akibat pandemi), rencana merger bisa tidak mendapatkan traksi dari regulator karena ada peluang efisiensi tenaga kerja,” nilai Kenny Liew, Analis Teknologi Fitch Solutions. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar