Kaleidoskop Otomotif 2018: Pabrikan Mobil China Agresif Bangun Kekuatan

Berita Otomotif

Kaleidoskop Otomotif 2018: Pabrikan Mobil China Agresif Bangun Kekuatan

JAKARTA – Merek-merek mobil China yang bermain di Indonesia yaitu Wuling dan Dongfeng Sokon (DFSK) pada tahun ini agresif membangun pondasi, baik dari sisi produk maupun jaringan, agar kuat bertahan melawan para pabrikan mobil Jepang.

Duo ini memang mesti bergerak dengan gesit jika tak mau terhempas hegemoni merek-merek roda empat Jepang. Pasalnya, pabrikan Jepang menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menguasai 98 persen pasar mobil nasional pada 2017 dari total volume wholesales 1,079 unit.

Wuling maupun DFSK memperkenalkan diri di Indonesia pada 2015 dan langkah awal mereka adalah membangun pabrik yang sama-sama selesai pada 2017. Namun, Wuling meluncurkan model mereka mereka, low multi purpose vehicle (LMPV) Confero 1.5-liter, terlebih dahulu pada Agustus di tahun yang sama.

DFSK mengaku memerlukan lebih banyak waktu persiapan sebelum akhirnya bisa memperkenalkan medium sport utility vehicle (SUV) Glory 580 1.5-liter turbo pada April 2018.

Setelah berhasil menjual 5.050 unit Confero pada 2017, Wuling bergerak lebih agresif daripada DFSK tahun ini dengan meluncurkan MPV-MPV lain. Medium MPV Cortez 1.8-liter dan Cortez 1.5-liter masing-masing mengaspal pada Februari maupun April, sedangkan MPV untuk pasar komersial yakni Formo 1.2-liter menutup serangan produk mereka pada November.

Wuling juga berhasil merealisasikan target 80 dealer penjualan serta purnajual pada akhir semester pertama. Hingga akhir November, mereka sudah meresmikan 84 dealer.

Di sisi lain, target penjualan 30 ribu unit tahun ini hampir bisa dipastikan gagal mereka capai. Selama Januari – November, penjualan wholesales Wuling menurut data Gaikindo ‘baru’ mencapai 14.677 unit sedangkan penjualan retail berjumlah 13.808 unit.

Eksekutif Wuling di Indonesia, ketika ditanyakan Mobil123.com mengenai hal tersebut beberapa waktu lalu di Medan, Sumatera Utara beralasan bahwa tidak tercapainya target disebabkan karena mereka lebih memilih untuk menggeber jumlah jaringan penjualan plus purnajual secepat mungkin tahun ini. Target tidak terlalu ‘ngoyo’ dikejar.

Perkembangan DFSK sendiri relatif lebih kalem ketimbang Wuling. Berbekal Glory 580 serta satu kendaraan niaga ringan Super Cab, DFSK membukukan penjualan wholesales 1.120 pada 11 bulan 2018. Adapun penjualan retail menyentuh 754 unit.

Pembesar DFSK di Indonesia, dalam wawancara dengan Mobil123.com, menilai transaksi jual-beli mereka tak seheboh Wuling karena model yang mereka jual bukan MPV yang notabene punya pasar terbesar di Tanah Air. DFSK sendiri bakal tetap fokus menggarap segmen SUV di Indonesia hingga jangka menengah.

Urusan dealer, DFSK menjelaskan sudah punya 49 dealer penjualan dan purnajual pada November. Tinggal butuh  satu lagi untuk mencapai target mereka pada 2018.

Untuk lebih memberikan perspektif terhadap pencapaian-pencapaian Wuling maupun DFSK, perlu disebutkan bahwa merek pertama mampu  menempati posisi 9 merek mobil terlaris di Indonesia baik dari sisi wholesales atau pun retail. DFSK sendiri menduduki peringkat 18 (wholesales) dan 20 (retail).

Dalam waktu setahun lebih, jumlah dealer Wuling berselisih 39 outlet dibanding Mitsubishi dan berselisih 26 dibanding Nissan. Jaringan DFSK berselisih 74 outlet serta 61 jika dikomparasi dengan kedua mereka Jepang itu.

Tahun depan, agresivitas Wuling dan DFSK belum akan berhenti. Di antaranya tentu saja melalui peluncuran beragam produk baru yang mereka telah rencanakan. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar