Ini Perbedaan Sederhana antara e-Power, Hybrid dan Mobil Listrik

Berita Otomotif

Ini Perbedaan Sederhana antara e-Power, Hybrid dan Mobil Listrik

TANGERANG – Teknologi Nissan Note e-Power diklaim sebagai teknologi yang mampu menjembatani antara teknologi mobil bermesin konvensional dan mobil listrik.

Sebutan tersebut bukan tanpa alasan. Pasalnya teknologi ini berhasil membuat mobil listrik menjadi lebih ramah terhadap infrastruktur sebuah negara tanpa harus melakukan investasi ulang yang lebih besar. Hal ini karena meski berjalan sepenuhnya dengan motor listrik serta menggunakan baterai sebagai penyimpan daya, namun mobil ini tidak perlu stasiun pengisian daya baterai untuk mengisi ulang daya.

Pemilik cukup mengisi bensin seperti biasa dan bensin tersebut akan digunakan untuk menggerakkan generator yang akan menghasilkan listrik kemudian menyimpannya di baterai. Dengan demikian, mobil ini tentu cocok untuk negara yang ingin memiliki langit biru namun enggan merogoh kocek dalam-dalam untuk membangun infrastruktur.

Lantas, apa bedanya teknologi e-Power dengan teknologi ramah lingkugan lain seperti hybrid dan mobil listrik sejati? Kami pun menanyakan hal tersebut pada Anton Khristanto, Manager Vehicle Project Management, Human Resources & General Affair PT NMI.

“Jadi e-Power dengan EV (mobil listrik) itu hampir sama. Jadi roda digerakkan 100 persen dengan motor listrik. Namun kalau full EV, dia membutuhkan charging station untuk mengisi daya sementara e-Power ini memiliki mesin yang berfungsi untuk generator sehingga tidak perlu charging station. Cukup isi bensin dan generator tersebut akan mengisi daya pada baterai,” ungkapnya.

Sementara itu hybrid, mesin bensin dan motor listrik memiliki tugas yang sama untuk menggerakkan roda. E-power mesin bensinnya tidak digunakan untuk menggerakkan roda sama sekali sehingga konsumsi bahan bakar lebih efisien karena mesin tidak menyala terus menerus. Meskin hanya menayala ketika baterai membutuhkan daya tambahan.

Sayangnya, meski terkesan cocok dengan Indonesia namun untuk memasukkan mobil ini Pemerintah tidak hanya harus memberi subsidi agar harganya menjadi terjangkau namun juga perubahan aturan tentang kendaraan. Hal ini karena hingga saat ini Pemerintah mewajibkan kendaraan untuk memiliki ban cadangan di setiap mobil.

Padahal, beberapa mobil baru berteknologi tinggi seperti mobil hybrid dan e-Power, selain telah dilengkapi ban yang lebih baik, ruang untuk penyimpanan ban cadangan akan digunakan untuk baterai listrik.

“EV ke depan itu tidak punya ban cadangan. Karena tempat penyimpanan ban cadangan itu dipakai untuk baterai. Regulasi itu harus diperbaiki, karena di indonesia,mobil tanpa ban serep tidak boleh ke jalan. Ini hal sederhana yang harus diperbaiki sebelum diluncurkan ke public,” tutur Airlangga Hartanto, Menteri Perindustrian Republik Indonesia. [Adi/Ari]



Adi Hidayat

Adi Hidayat

Pria lugu yang tinggal di Bekasi ini kerap menghadapi kemacetan Jakarta untuk memberikan informasi terkini terkait dunia otomotif Indonesia. Menghirup asap knalpot, merasakan teriknya panas matahari, menerabas hujan hingga menembus kepungan banjir pun telah menjadi bagian dari hidupnya. Meski demikian ia menjalaninya dengan penuh ketabahan dan kesabaran.

Komentar

Support
Chat Support
Support Support
0 Support
Support
Chat Aktif0
Diarsipkan
Hapuskan chat?
Chat
Tidak ada chat yang sedang berlangsung
Mulai pencarian dan chat dengan penjual