Harga Mobil Hybrid dan Listrik akan Lebih Murah

Berita Otomotif

Harga Mobil Hybrid dan Listrik akan Lebih Murah

TANGERANG – Era mobil hybrid dan listrik di Indonesia berharga lebih masuk akal semakin dekat terlihat karena perhitungan insentif pajak bagi kendaraan ramah lingkungan hampir selesai.

Tren mobil listrik di industri otomotif global menjadi satu dari beberapa hal yang disinggung oleh Presiden Joko Widodo ketika membuka Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2018 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Serpong, Tangerang. Era mobil listrik disebut-sebut sebagai salah satu dari tiga tantangan dunia otomotif saat ini.

Menurut Jokowi, fenomena mobil listrik semakin meluas. Bahkan, semakin banyak negara yang mematok batas penjualan mobil bermesin konvensional.

“Prancis dan Inggris sudah umumkan pada 2040 mobil non-listrik akan dilarang untuk dijual di dua negara ini. China mengumumkan target menjadi yang terdepan dalam mengembangkan industri mobil listrik dan sekarang sudah menjadi pasar terbesar dunia untuk mobil listrik,” paparnya ketika membuka GIIAS 2018

Jokowi mengatakan industri otomotif Indonesia harus pula mengantisipasi tren ini. Ia berjanji pemerintah bakal sepenuhnya membantu dan mendukung industri otomotif dari segi regulasi dan insentif-insentif.

Pemerintah sendiri kini sedang menyusun insentif pajak bagi mobil hybrid dan mobil listrik melalui regulasi low carbon emission vehicle. Penghitungan insentif di sektor pajak penjualan barang mewah (PPnBM) bahkan ditargetkan rampung dalam waktu dekat dan regulasi terbit sesuai rencana pada 2018.

“Insentif akan dibahas, mudah-mudahan pada Agustus tahun ini bisa diselesaikan,” ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.

Jika nanti regulasi terbit, harga mobil hybrid dan listrik bisa turun dan lebih masuk akal. Tanpa itu, mobil-mobil berteknologi ini berbanderol tinggi, seperti Mitsubishi Outlander PHEV yang bisa di atas Rp 600 juta tanpa insentif.

Dalam peta jalan industri otomotif Tanah Air yang dibuat pemerintah, produksi mobil hybrid dan listrik ditargetkan berkontribusi 20 persen dari volume perakitan mobil nasional pada 2024. Volume produksi mobil hybrid dan listrik setara sekitar 400 ribu unit.

Mobil Otonom dan Siklus Pasar
Selain menyebut mobil listrik, Jokowi pun menjelaskan teknologi-teknologi terbaru seperti mobil otonom dan transportasi online sebagai tantangan. Menurut dia hal-hal ini dapat mendisrupsi perkembangan industri otomotif.

“Mobil, dari yang tadinya sebuah produk, sudah beralh jadi sebuah jasa. Pasti di antara kita atau anak-anak kita jadi semakin terbiasa panggil GrabCar atau Go-Car. Mungkin nanti mereka jadi malas menyetir, malas belajar menyetir, malas bikin SIM. Buat apa belajar menyetir dan beli mobil kalau mau pergi tinggal pakai aplikasi,” papar Jokowi.

Jokowi juga meminta para pabrikan otomotif yang bermain di Indonesia untuk mengantisipasi siklus penurunan permintaan global sembari terus mendorong ekspor. Ia sendiri mengapresiasi pencapaian ekspor otomotif Januari – Juni berada di peringkat empat besar ekspor di sektor non-migas dengan nilai 3,45 miliar dollar AS (Rp 49,85 triliun). [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar