5 SPBU Shell di Jakarta Ternyata Milik Seorang Perempuan

Berita Otomotif

5 SPBU Shell di Jakarta Ternyata Milik Seorang Perempuan

JAKARTA – Menyambut Hari Perempuan International pada tanggal 8 Maret, Shell Indonesia mengangkat salah satu mitranya sebagai bukti keberhasilan perempuan di dunia bisnis.

Perempuan tersebut adalah Fransiska Suryaty, salah satu mitra Shell Indonesia yang berpartisipasi dalam berbagai kegiatan ritel perusahaan di mancanegara. Ia disebut Shell Indonesia sebagai orang yang tangguh dan pantang menyerah.

Hal tersebut terbukti karena Ia telah berhasil membuka SPBU Shell yang ke-5 di daerah Pluit tahun lalu. Saat ini, SPBU Shell yang di bawah kendalinya tersebar di Pantai Indah Kapuk, dua unit di Pluit, S. Parman, dan Kemayoran.

“Saat itu saya iseng mencari ide tentang bisnis apa yang bisa saya lakukan, dan nama Shell masih sangat asing di telinga saya. Tapi, justru itu yang membuat saya sangat tertarik untuk membuka SPBU bersama Shell,” kenang Suryaty.

Shell Indonesia

Dalam perjalanannya, Ia mengaku bahwa dirinya sempat menghadapi beragam tantangan khususnya pada sumber daya manusia (SDM). Hal ini karena setiap pegawainya memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman yang beragam sehingga perlu penyesuaian agar ritme kerja tetap sesuai standard.

Namun usahanya menciptakan tim kerja terbaik tersebut perlahan mulai terlihat hasilnya dan berbuah manis. Pasalnya, kelima SPBU yang dikelolanya semakin profesional dan berjalan dengan baik hingga kini.

Baginya, perempuan juga butuh dan harus mengaktualisasikan diri. Suryaty mengungkapkan bahwa hal terpenting untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan terus belajar dan berusaha memberikan yang terbaik. Jangan pernah takut untuk berkreasi, berinovasi, berinisiatif, dan mengikuti perkembangan jaman.

Hari Perempuan Internasional telah diperingati sejak awal 1900-an. Dilansir dari berbagai sumber, Hari Perempuan Internasional awalnya diperingati karena pada tahun 1908 terjadi kerusuhan dan ketimpangan yang dialami perempuan di Amerika Serikat.

Kondisi ini menyebabkan ribuan perempuan berunjuk rasa dan menuntut hak-hal mereka. Setahun kemudian, setiap tanggal 28 Februari ditetapkan sebagai Hari Perempuan Nasional di Amerika Serikat dan terus diperingatu hingga 1913.

Tahun 1910, salah satu politikus asal Jerman, Clara Zetkin mengusulkan untuk diadakan peringatan serupa untuk seluruh dunia. Dengan demikian, seluruh perempuan di setiap negara dapat memperingatinya di waktu bersamaan. Usulan tersebut disampaikan saat Konferensi Buruh Perempuan di Kopenhagen, Denmark. Usulan tersebut diterima dan sejak 1914, 8 Maret ditetapkan menjadi Hari Perempuan Internasional. [Adi/Ari]

 



Adi Hidayat

Adi Hidayat

Pria lugu yang tinggal di Bekasi ini kerap menghadapi kemacetan Jakarta untuk memberikan informasi terkini terkait dunia otomotif Indonesia. Menghirup asap knalpot, merasakan teriknya panas matahari, menerabas hujan hingga menembus kepungan banjir pun telah menjadi bagian dari hidupnya. Meski demikian ia menjalaninya dengan penuh ketabahan dan kesabaran.


Berita Utama


Komentar