Toyota Sudah Mendapat Tekanan untuk Menaikkan Harga

Berita Otomotif

Toyota Sudah Mendapat Tekanan untuk Menaikkan Harga

TANGERANG – Toyota mengaku sudah mendapat tekanan untuk menaikkan harga akibat fluktuasi kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Tetapi mereka masih memutuskan untuk menahan harga dengan berbagai alasan.

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terdepresiasi sejak awal 2018 hingga beberapa pabrikan sudah menaikkan harga jual kendaraan. Kurs, yang pada akhir 2017 masih sekitar Rp 13.500 per dollar AS, pada 3 Agustus 2018 berada di level Rp 14.503 per dollar AS.

Toyota sang pemimpin pasar otomotif Indonesia sendiri masih belum menaikkan harga karena faktor kurs. Meski demikian, mereka mengakui tekanan-tekanan itu sudah ada.

“Sebenarnya tekanan sudah ada. Contohnya dari supplier karena cost mereka sudah naik,” aku Fransiskus Soerjopranoto, Executive General Manager PT. Toyota Astra Motor (TAM) Fransiskus Soerjopranoto, menjawab pertanyaan Mobil123.com usai seremoni dealer tukar-tambah Toyota Trust di Bintaro belum lama ini.

Meski begitu, Toyota, menurut Soerjopranoto, masih memutuskan untuk bertahan. Selain karena dilindungi oleh hedging, pabrikan asal Jepang ini melihat intensi pemerintah untuk memperbaiki situasi sehingga pelemahan kurs rupiah mereka harap bersifat sementara. Ini penting karena harga mobil tidak bisa naik-turun sewaktu-waktu.

“Jangan sampai saat kami naikkan harga mobil lalu kok kursnya turun,” tandas dia.

Selain itu, kondisi ekonomi terkini juga membuat Toyota berpikir ulang menaikkan harga. Pasalnya, daya beli masyarakat belum pulih.

Mobil-mobil di segmen harga terjangkau terkena kredit macet. Sementara itu, kendaraan di segmen menengah atas (high segment) harus dirangsang model-model baru untuk melakukan pembelian.

“Kalau nilai tukar naik, secara otomatis yang pemerintah lakukan sekarang adalah menaikkan suku bunga, kan? Suku bunga (acuan Bank Indonesia) sudah naik menjadi 5,25 persen dan itu efeknya ke low segment. Orang-orang mau beli mobil lebih sulit disetujui oleh perusahaan pembiayaan. Hal kedua, kenaikan suku bunga itu membuat angsuran kredit naik. Kendalanya di situ,” jelas Soerjopranoto lagi.

Menurut dia, Toyota baru terpaksa menaikkan harga jika terjadi dua hal. Pertama adalah depresiasi kurs rupiah signifikan hingga mencapai 15 persen. Kedua, jika situasi ini terjadi terus-menerus dalam waktu relatif lama yaitu satu semester.

“Untungnya kami ini pemimpin pasar. Sebagai pemimpin pasar, umumnya yang lain melihat ke Toyota. Kalau kami enggak menaikkan harga, mereka juga tidak. Sekali Toyota menaikkan harga, kan, akan melakukannya. Ada untungnya di situ  bagi konsumen sekarang,” terangnya. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia dan resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar

Chat Aktif
Diarsipkan
Bantuan

Kami akan membantu Anda

klik tombol "Bantuan" untuk berbicara dengan Customer Care kami.
Hapuskan chat?
Chat Empty
Tidak ada chat yang sedang berlangsung
Mulai pencarian dan chat dengan penjual
Bantuan

Kami akan membantu Anda

klik tombol "Bantuan" untuk berbicara dengan Customer Care kami.
Support