Pasar Mobil 2019: Kredit Ketat dan Tren Taksi Online Ganggu Penjualan LCGC

Berita Otomotif

Pasar Mobil 2019: Kredit Ketat dan Tren Taksi Online Ganggu Penjualan LCGC

JAKARTA – Satu segmen yang diprediksi tak berkembang di pasar otomotif 2019 adalah low cost green car (LCGC) karena beberapa faktor penghalang seperti ketatnya kredit kendaraan bermotor plus tren taksi online.

Proyeksi penjualan mobil tahun ini terpecah menjadi dua, antara stagnan 1,1 juta unit atau meningkat sedikit berkat kehadiran model-model baru. Namun, pihak-pihak yang berbeda pendapat sepakat memperkirakan satu hal yaitu stagnasi pada segmen LCGC.

Segmen tersebut saat ini berisi delapan model yakni Toyota Agya, Toyota Calya, Daihatsu Ayla, Daihatsu Sigra, Honda Brio Satya, Suzuki Karimun Wagon R, Datsun Go Panca serta Datsun Go+ Panca.

“LCGC saya rasa masih stagnan, tidak berubah terlalu banyak,” ujar Yohannes Nangoi, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) via sambungan telepon kepada Mobil123.com pada akhir pekan lalu.

Fransiskus Soerjopranoto, Executive General Manager PT. Toyota Astra Motor (TAM), meyakini volume penjualan LCGC di 2019 akan berada di angka 200 ribu-an unit atau relatif sama dengan capaian 2018. Adapun penjualan wholesales mobil-mobil LCGC pada Januari – November 2018, menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), adalah 212.095 unit, turun tipis 2,87 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year), dengan kontribusi 20 persen terhadap pasar.

Penyebabnya adalah pengetatan kredit kendaraan bermotor oleh perusahaan-perusahaan pembiayaan akibat kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia plus menurunnya daya beli konsumen menengah ke bawah. Hal ini, menurut Soerjopranoto, masih menjadi tantangan di 2019 bagi perkembangan pasar LCGC.

Apalagi, komposisi pembeli mobil pertama di segmen LCGC di atas 50 persen. Mereka masih sangat tergantung kemudahan program pembiayaan.

“Kalau di segmen LMPV (low multi purpose vehicle) serta LSUV (low sport utility vehicle) enggak terlalu. Mobil berharga di atas Rp 200 juta tingkat risiko lebih kecil karena biasanya pembeli di harga segitu bukan yang di ambang batas atau ‘pas-pasan’. Kemampuan para pembeli mobil Rp 200 juta ke atas sudah lebih stabil,” papar dia ketika dihubungi Mobil123.com.

Taksi Online dan Transportasi Publik
Kendala pada sisi pembiayaan diparipurnakan lagi oleh tren taksi online plus membaiknya transportasi publik. Keduanya turut membuat masyarakat kelas menengah ke bawah yang belum memiliki mobil lebih memilih membeli motor baru, naik transportasi publik, atau memesan taksi online jika memerlukan mobil.

“Mereka tetap ingin sebuah mobil, tapi mobil kembali menjadi barang mewah seperti hakekat awalnya. Dulu, kan, hal ini bisa ditekan oleh industri otomotif supaya mobil seakan-akan menjadi kebutuhan primer karena transportasi publik belum bagus. Tapi sekarang sepeda motor makin banyak pilihan, kalau butuh mobil pun sekarang ada taksi online,” tandas Soerjopranoto.

Motorisasi di Indonesia sendiri masih jauh dari maksimal. Pasalnya, setiap 1.000 orang Indonesia, baru ada sekitar 80 mobil. Proses motorisasi tersebut kini sedang terhambat pengetatan kredit ditambah taksi online plus perbaikan transportasi publik.

“Di negara maju, satu keluarga punya satu atau bahkan dua mobil. Tp di Indonesia angkanya mungkin satu mobil per empat keluarga.  Berarti ada keluarga yang belum punya mobil,” ujar Soerjo. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia dan resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar

Chat Aktif
Diarsipkan
Bantuan

Kami akan membantu Anda

klik tombol "Bantuan" untuk berbicara dengan Customer Care kami.
Hapuskan chat?
Chat Empty
Tidak ada chat yang sedang berlangsung
Mulai pencarian dan chat dengan penjual
Bantuan

Kami akan membantu Anda

klik tombol "Bantuan" untuk berbicara dengan Customer Care kami.
Support