Mitos dan Fakta Seputar Oli Mesin

Berita Otomotif

Mitos dan Fakta Seputar Oli Mesin

JAKARTA – Penggunaan oli pada mesin kendaraan sifatnya mutlak penting. Selain berguna untuk melumasi dapur pacu, cairan ini bertugas untuk mencegah terjadinya friksi pada komponen mesin.

Dewasa ini, peran oli tidak hanya berfungsi untuk melumasi seluruh komponen bergerak dalam mesin saja. Namun pelumas saat ini dituntut agar mampu membersihkan ruang bakar dan mencegah terjadinya endapan. Oli juga diharuskan memiliki kemampuan beradaptasi dengan cuaca sekitar.

Selain fungsi oli di atas, apakah Anda tahu bahwa selama ini ada mitos seputar oli yang beredar di masyarakat. Agar tidak terjerumus dengan sejumlah mitos mengenai oli, mari kita pahami lebih jauh fungsi dari pelumas ini.

1. W pada 10W – 40
Adalah penting untuk mengetahui tingkat kekentalan atau vikositas oli yang akan Anda beli di toko. Perlu Anda ketahui bahwa pelumas yang baik adalah tidak terlalu kental namun tidak juga terlalu encer.

Jika terlalu kental, kinerja mesin akan terbebani karena cairan tersebut kesulitan untuk mengalir dalam ruang bakar. Sebaliknya jika terlalu encer, maka oli akan terlalu mudah tergelincir layaknya air.

Vikositas oli sendiri memiliki dua klasifikasi masing-masing yakni single grade dan multi grade. Oli jenis single grade memiliki kekentalan pelumas yang lebihs stabil sehingga umur pakainya cukup panjang. Tetapi jenis ini tidak mampu menyesuaikan kekentalan oli sesuai kebutuhan mesin. Di Indonesia sendiri menggunakan tipe pelumas multi grade.

Untuk mengukur tingkat kekentalan oli, produsen menunjukkannya dengan kode seperti SAE 10W-30. Society of Automotive Engineers (SAE) adalah sebuah organisasi yang mengatur peredaran oli di dunia.

Kode berupa angka yang berada di belakang SAE adalah untuk menunjukkan kemampuan pelumas di cuaca dingin. Semakin kecil angkanya membuat kemampuan oli semakin baik di suhu paling rendah sekalipun.

Kemudian kode W adalah terjemahan untuk (winter). Maka contoh oli yang baik untuk udara dingin adalah SAE 0W. Pelumas multi grade tidak hanya memiliki kemampuan melindungi ruang bakar pada kondisi dingin, namun cairan tersebut juga mampu menjaga mesin ketika cuaca panas sekalipun. Umumnya range yang cukup ekstrim untuk tingkat kekentalan oli adalah SAE 10W-40.

2. Oli menghitam pertanda ganti
Pengendara yang baik akan selalu menjaga kondisi mesin dalam kondisi prima. Beberapa orang menganggap bahwa ketika pelumas mulai berubah warna menjadi gelap, maka inilah waktu yang tepat mengganti oli.

Anggapan tersebut ternyata salah dan haya mitos belaka. Oli yang beredar di pasaran saat ini umumnya telah menggunakan detergen sehingga mencegah adanya endapan atau lumpur. Dengan adanya fitur tersebut, oli bekerja seperti seharusnya. Kemudian pelumas mengumpulkan partikel-partikel kecil yang dapat menyebabkan endapan.

Hal inilah yang kemudian membuat oli berubah menjadi hitam. Biasakan mengganti oli sesuai rekomendasi pabrikan, jangan berdasarkan warna yang telah berubah menjadi gelap.

3. Mengganti oli setiap 5000 kilometer
Semua pabrikan mobil biasanya memberikan anjuran waktu yang tepat untuk mengganti oli. Umumnya, pabrikan menyarankan untuk mengganti cairan pelumas setiap 5000 kilometer. Hal ini ternyata salah dan banyak orang yang telah menerapkannya. Umumnya yang menyarankan untuk mengganti pelumas kendaraan lebih cepat merupakan penjual oli.

Dengan teknologi yang semakin canggih saat ini, kemampuan oli yang telah dilengkapi detergen akan mampu bekerja baik hingga 12 ribu kilometer. Hal ini tentunya tergantung pada kondisi lalu lintas. Bagi Anda yang kerap menjumpai kemacetan parah atau setidaknya membuat mesin berkerja lebih keras, opsi mengganti oli lebih cepat patut dipertimbangkan. Karena dalam kondisi tersebut, bukan kilometer lagi yang jadi patokan karena meski diam, mesin masih tetap bekerja saat idle di kemacetan.

4. Oli sintetik dapat menyebabkan kebocoran pada mesin
Mitos ini tidak benar. Beberapa pengguna kendaraan antik atau lawas sempat khawatir dengan kondisi ini. Oli sintetik kabarnya dapat merusak seal karet yang terdapat pada mesin. Percayalah mitos ini tidak benar. Kebocoran akan terjadi karena ada sesuatu yang tidak beres dalam mesin.

Oli sintetik memiliki molekul yang lebih kecil dibandingkan oli mineral, sehingga memiliki penetrasi ke celah terkecil di mesin. Dapat disimpulkan oli sintetik bukan penyebab kebocoran justru akan berguna untuk mendeteksi gejala kebocoran pada mesin.

Berlakulah bijak dalam memilih oli yang cocok bagi kendaraan Anda. Jangan asal pilih oli berharga murah namun bisa merusak komponen dalam mesin kendaraan. [Dew/Ari]

Temukan mobil idaman di Mobil123
Mari bergabung bersama kami di Facebook dan Twitter



Denny Basudewa

Denny Basudewa

Cowok kelahiran Bogor, Jawa Barat ini gemar mendalami seluk beluk dunia otomotif. Dunia jurnalistik telah menjadi passion hidupnya sehingga ingin terus memberikan informasi seputar otomotif pada masyarakat.


Berita Utama


Komentar

Support
Chat Support
Support Support
0 Support
Support
Chat Aktif0
Diarsipkan
Hapuskan chat?
Chat
Tidak ada chat yang sedang berlangsung
Mulai pencarian dan chat dengan penjual