Menentukan Harga Jual Mobil Bekas Gampang-gampang Susah, Ini Tipsnya

Panduan Pembeli

Menentukan Harga Jual Mobil Bekas Gampang-gampang Susah, Ini Tipsnya

Faktor yang mesti diperhatikan ketika menentukan harga jual mobil bekas cukup beragam. Jika kurang cermat, mobil bekas yang Anda ingin jual bisa kalah dari ‘lapak sebelah’ karena faktor harga.

Diler-diler mobil bekas pastinya relatif piawai dalam menentukan harga jual. Bahkan, kisaran banderol untuk kebanyakan model di pasar mobil bekas mungkin saja ‘di luar kepala’, khususnya untuk model-model yang populer.

menentukan harga jual mobil bekas

Tapi, belum tentu demikian halnya untuk para penjual individu. Mereka ini umumnya adalah pemilik langsung yang ingin melego kendaraan, karena berbagai alasan, seperti butuh uang, tidak jadi pakai, atau ingin membeli kendaraan baru.

Para penjual individu ini mesti mempertimbangkan betul banderol yang dipasang untuk kendaraan seken mereka. Soalnya, diler-diler mobil bekas turut menjadi pesaing mereka ketika menjajakan kendaraan di situs jual-beli daring (online).

Berbagai Faktor dalam Menentukan Harga Jual Mobil Bekas

menentukan harga jual mobil bekas

Harga jual kembali untuk satu model dengan model lainnya bisa berbeda-beda, meskipun berasal dari satu segmen serta tahun perakitan yang sama. Penyebabnya beragam, misalnya saja depresiasi harga untuk model tersebut maupun kondisinya.

Agar tidak salah dalam mematok harga, berikut Mobil123.com sajikan tips menentukan harga jual mobil bekas berdasarkan penelusuran dari berbagai sumber:

  • Cari Tahu Depresiasi Harga dari Model Tersebut

Mobil adalah salah satu contoh barang konsumsi yang harganya selalu turun dari tahun ke tahun. Bahasa ekonominya disebut sebagai depresiasi harga.

Pengecualian terjadi pada beberapa kasus. Misalnya saja supercar yang diproduksi sangat terbatas atau model sangat ikonik dengan kapasitas produksi yang sangat jomplang dengan permintaan.

Contoh gampang dari anomali di atas, yang sedang terjadi saat ini di Indonesia, adalah Suzuki Jimny. Harga sekennya malah dijual lebih mahal oleh pedagang mobil bekas.

Hampir semua model produksi massal lainnya mengalami depresiasi. Model-model dari merek Jepang umumnya mengalami depresiasi harga paling kecil untuk pasar Tanah Air, karena sejauh ini kendaraan keluaran mereka paling digemari konsumen dalam negeri.

Pada tahun pertama, depresiasinya antara 10-15 persen. Lalu, pada tahun berikutnya penyusutan antara 5-10 persenan.

Tapi patut diketahui bahwa, rumus ini tidaklah ajek. Persentase depresiasi amat dipengaruhi oleh seberapa laris model itu di pasar mobil baru. Semakin tidak laris, semakin besar potensi depresiasinya meskipun berasal dari merek ‘Negeri Matahari Terbit’.

Apalagi kalau model yang ingin dijual sudah didiskontinu.

  • Cek Kisaran Harganya di Pasar Mobil Bekas

Para konsumen di pasar mobil bekas kabarnya relatif lebih sensitif terhadap perbedaan harga, daripada para pembeli mobil baru. Karena itu, adanya selisih harga dengan harga pasaran memunculkan potensi kendaraan seken Anda kalah saing dengan barang dagangan dari penjual lain.

Cek kisaran harga dari model yang Anda ingin jual, untuk tahun rakitan yang sama. Catat pula kisaran harga termurah dan tertingginya.

Telisik, apakah unit dengan harga termurah punya kondisi yang baik dan siap langsung pakai atau ada kekurangan-kekurangan di berbagai aspek, seperti lecet bodi, perlu perbaikan teknis, maupun status pajak yang mati.

Patut pula diketahui kalau harga mobil yang terlampau murah dibandingkan harga pasar dapat dicurigai punya problem yang cukup banyak.

  • Sadari Kondisi Mobil Anda

Kondisi mobil seken yang bakal dijual juga amat menentukan pemosisian harganya. Karena itulah, sadari betul kondisi mobil Anda sebelum memasang banderol. Semakin banyak atau rumit problem yang dimiliki, semakin kecil harga yang bisa Anda patok.

Beruntung jika kondisi kendaraan Anda prima, rutin menjalani servis berkala di bengkel resmi, punya jarak tempuh wajar atau relatif rendah, serta tidak mengalami tabrakan atau kebanjiran sama sekali, karena harga jual kembalinya semakin maksimal.

  • Kondisi Perekonomian dan Kebijakan Pemerintah Bisa Mempengaruhi

Terakhir, Anda perlu melihat kondisi perekonomian maupun kebijakan pemerintah. Soalnya, aspek ini bisa mendukung pemberian harga jual kembali yang maksimal atau malah sebaliknya.

Contohnya, saat pandemi Covid-19 sekarang ini, ketika daya beli konsumen menurun karena lebih mementingkan hal-hal yang vital atau menabung terlebih dahulu. Pemerintah pun sedang memberikan insentif Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) untuk beragam mobil baru rakitan lokal, baik yang berkapasitas mesin 1.500 cc ke bawah atau 1.501-2.500 cc.

Sebagai dampaknya, harga seken dari model-model yang menikmati insentif akhirnya drop.

Tips Agar Harga Mobil Bekas Anda Maksimal

tips menjaga harga jual kembali mobil

Tentu saja, bakal sangat menyenangkan jika harga jual kembali mobil bekas Anda bisa mencapai potensi maksimalnya. Dengan begitu, uang yang Anda dapat ketika menjualnya bisa lebih banyak—meski tentunya tak sebanyak ketika membelinya pertama kali.

Berikut ini hal-hal yang perlu Anda lakukan untuk menjaga harga jual kembali kendaraan, seperti disarikan dari artikel di situs resmi Mitsubishi Motors Indonesia:

  • Rawat Bodi Mobil

Sejak awal membeli, berikan perawatan pada bodi mobil semaksimal mungkin. Ketika mengemudikannya, jaga betul agar kendaraan tidak tergores, lecet-lecet, apalagi sampai tabrakan.

Soalnya, bodi yang tak mulus karena baret atau lecet bisa menurunkan harga jual kembali antara 5-10 persen dari nominal seharusnya. Untuk yang pernah terlibat insiden tabrakan, harga jual kembali bisa turun hingga 15 persen.

  • Selalu Servis di Bengkel Resmi

Memang, biaya servis di bengkel resmi setelah garansi habis lebih mahal daripada bengkel umum. Tetapi, selalu memilih bengkel resmi ketika melakukan servis berkala sangat menguntungkan untuk harga jual kembali kendaraan.

Ini karena catatan servisnya bakal terekam dengan sangat baik. Servis dan perbaikan juga selalu dilakukan sesuai standar dari pabrikan.

Terakhir, suku cadang yang digunakan pastinya selalu orisinal.

  • Dokumen Kendaraan Lengkap dan Status Pajak Hidup

Di pasar mobil bekas, ada saja risiko menemukan unit dengan masalah legalitas. Karena itu, surat-surat kendaraan yang tidak lengkap pasti menurunkan harga jual kembalinya.

Simpan dengan baik faktur pembelian, Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB), dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK).

Tersedianya buku manual serta buku servis akan menjadi nilai tambah tersendiri. Demikian pula dengan adanya perangkat standar kendaraan seperti APAR (Alat Pemadam Api Ringan) untuk mobil keluaran terkini, perangkat P3K, dan tool kit darurat.

  • Usia Mobil Maksimal Lima Tahun

Akan lebih baik jika mobil yang berniat Anda jual berumur tak lebih dari lima tahun. Alasannya, biaya servis maupun perbaikan unit dengan rentang umur demikian umumnya belum banyak dan tak memerlukan biaya besar.

Kendaraan berusia di atas lima tahun bakal membutuhkan penggantian komponen yang relatif mahal. Ini membuat pemilik barunya perlu menyiapkan biaya perbaikan relatif besar pula.

  • Jika Memungkinkan, Jaga Jarak Tempuh Kendaraan

Pernah dengar cap bahwa mobil bekas taksi adalah ‘mobil capek’? Ini karena jarak tempuhnya amat tinggi dan hal tersebut mempengaruhi harga jual kembalinya menjadi relatif di bawah rata-rata harga pasar.

Semakin jauh jarak tempuh mobil, semakin ‘dikuras’ pula kemampuan mesin dan segala komponen di sistem penggerak. Karena itu, jagalah jarak tempuh mobil demi memaksimalkan harga jual kembalinya. Tentu, hal ini harus diikuti dengan perawatan mobil yang baik seperti pada poin kedua.

  • Mendapatkan Sertifikasi

Mobil bekas yang mendapatkan sertifikasi dari pabrikan resmi bakal punya harga jual kembali yang amat terjaga.

Beberapa merek sudah menyediakan layanan ini, misalnya saja Mitsubishi, Toyota, Suzuki. [Xan/Ses]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar