Hyundai Indonesia Batal Jual Pesaing Agya dan Ayla

Berita Otomotif

Hyundai Indonesia Batal Jual Pesaing Agya dan Ayla

JAKARTA - Hyundai Santro bisa diimpor utuh (Completely Built-Up/CBU) dari India ke Indonesia dengan kisaran harga di bawah Rp 160 juta. Meski begitu, Agen Pemegang Merek (APM) tersebut di negeri ini memutuskan tidak melakukannya.

Mobil123.com pada pertengahan 2018 memberitakan bahwa merek otomotif asal Korea Selatan ini tertarik menjual mobil Rp 100 juta-an di Indonesia, dengan opsi memasukkannya ke segmen low cost green car (LCGC) sehingga mendapatkan insentif pajak asalkan diproduksi secara lokal di calon pabrik baru mereka. Mukiat Sutikno, Presiden Direktur PT. Hyundai Mobil Indonesia (HMI), dalam wawancara via telepon pada akhir tahun lalu kemudian memastikan model itu adalah Santro (dikenal sebagai Atoz di Indonesia) yang ‘dihidupkan kembali’ di India.

Akhirnya rencana itu urung dilaksanakan. Menurut Hendrik Wiradjaja selaku Deputy Marketing Director HMI dalam interview usai Sneak Preview Hyundai Kona beberapa waktu lalu, keputusan tersebut diambil karena mereka belum bisa memasukkan Santro ke segmen LCGC.

Satu-satunya opsi adalah mendatangkannya dari India. Namun, nilai jual Santro yang di India berkisar Rp 70 juta – 80 juta di Indonesia bakal di atas Rp 100 juta setelah memperhitungkan bea masuk, bea balik nama (BBN), dan fitur-fitur yang harus dimasukkan sesuai kondisi pasar di sini.

“Memang harganya masih akan di bawah Hyundai Grand i10. Model itu kan cuma Rp 160 juta-an. Pastinya akan di bawah itu. Tapi tak bisa sampai Rp 100 juta-an,” ucap dia di Simprug, Jakarta.

Dengan kondisi tersebut, sambung Hendrik, Hyundai mesti melihat lagi persaingan dengan model-model LCGC. Sebagai informasi, segmen itu kini diisi merek-merek besar Jepang yaitu Toyota, Daihatsu, Honda, Suzuki dan Datsun.

“Satu yang harus dilihat adalah persaingan dengan LCGC sendiri seperti apa nantinya. Ini karena fasilitas yang mereka dapat, kan, sangat baik dan ke depannya cuma akan kena PPnBM 3 persen (di skema PPnBM baru, dari sebelumnya 0 persen),” paparnya.

Penjelasan dari Hendrik seperti menjadi penegasan dari Mukiat pada penghujung tahun lalu. Ketika itu, pria yang menggeluti olahraga karate ini mengatakan Hyundai masih mengevaluasi rencana menjual Santro di Indonesia karena enggan memasukkannya ke segmen LCGC dan merakitnya secara lokal.

Sayang, alasan yang diberitahukan bersifat off the record.

“Maka itu untuk proyek pabrik Hyundai kami fokusnya lebih ke kendaraan-kendaraan reguler di luar LCGC dulu,” tandas Mukiat. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia dan resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar

Chat Aktif
Diarsipkan
Bantuan

Kami akan membantu Anda

klik tombol "Bantuan" untuk berbicara dengan Customer Care kami.
Hapuskan chat?
Chat Empty
Tidak ada chat yang sedang berlangsung
Mulai pencarian dan chat dengan penjual
Bantuan

Kami akan membantu Anda

klik tombol "Bantuan" untuk berbicara dengan Customer Care kami.
Support