Bahayanya Memilih Ban Vulkanisir Berkualitas Jelek

Panduan Pembeli

Bahayanya Memilih Ban Vulkanisir Berkualitas Jelek

JAKARTA – Pakar mengatakan ban vulkanisir sejatinya tak haram untuk dipakai, asal pemilik kendaraan bisa memilih produk dengan kualitas pengerjaan baik. Jika tidak paham, bahaya mengancam.

Ban vulkanisir, atau ban bekas yang dilapis ulang agar bisa dipakai kembali, memang masih banyak menjadi pilihan. Pasalnya, perbedaan harganya dengan yang masih baru cukup signifikan sehingga lebih ‘bersahabat’ dengan dompet.

Bambang Hermanu Hadi selaku Training Manager PT. Sumi Rubber Indonesia (Dunlop Indonesia), ketika diwawancarai usai tes produk SP Sport LM 705 beberapa waktu lalu, menjelaskan ban vulkanisir sebenarnya boleh saja digunakan di kendaraan penumpang. Tapi, tidak untuk kendaraan niaga.

“Kementerian Perhubungan sudah mengeluarkan peraturan bahwa kendaraan niaga tak boleh pakai ban vulkanisir sejak 2015,” ucap dia di Meikarta, Cikarang, Bekasi.

Ban mobil sendiri, menurut dia, bisa divulkanisir sampai maksimal dua  kali. Ini bisa dilihat dengan kode ‘R1’ untuk vulkanisir pertama dan ‘R2’ pada ban.

Perbedaan antara ban baru dan vulkanisir bisa terlihat. Ini karena jenis karet untuk lapisannya berbeda.

“Sambungannya kelihatan, karena yang punya ban asli dengan versi vulkanisirnya adalah dua perusahaan berbeda,” tandasnya.

Performanya ban vulkanisir jelas lebih rendah daripada ban baru. Menurut Bambang, kemampuan ban vulkanisir yang dikerjakan dengan baik adalah 80 persen dari ban aslinya.

“Masa pakainya kira-kira 50 – 60 ribu,” tandasnya.

Berkualitas atau Berbahaya
Bambang lalu mengingatkan agar membeli ban vulkanisir yang bagus, jika memang pemilik kendaraan benar-benar menginginkannya. Cara pertama mengetahui tingkat kualitas ban vulkanisir adalah dengan melihat merek.

“Biasanya perusahaan-perusahaan angkutan darat sudah tahu, mana merek ban vulkanisir bagus,” tukas Bambang sambil tersenyum.

Jika kita buta dengan merek ban vulkanisir, ada cara lain. Ban vulkanisir jelek memiliki kembang yang terlihat kasar. Sambungannya pun sering kali tak rata.

“Terus, kompon karetnya tak mengkilap. Warna karetnya itu kusam,” lanjut Bambang.

Ini penting karena ban vulkanisir berkualitas buruk membawa bahaya karena relatif mudah ‘ngelotok’.

“Banyak ban vulkanisir di Indonesia merupakan industri rumahan. ‘Masaknya’ saja pakai gas 3 kg,” ujarnya mewanti-wanti. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar

Chat Aktif
Diarsipkan
Bantuan

Kami akan membantu Anda

klik tombol "Bantuan" untuk berbicara dengan Customer Care kami.
Hapuskan chat?
Chat Empty
Tidak ada chat yang sedang berlangsung
Mulai pencarian dan chat dengan penjual
Bantuan

Kami akan membantu Anda

klik tombol "Bantuan" untuk berbicara dengan Customer Care kami.
Support