Ban Bekas Jangan Diperjualbelikan Karena Alasan Berikut Ini

Panduan Pembeli

Ban Bekas Jangan Diperjualbelikan Karena Alasan Berikut Ini

JAKARTA – Ban bekas seharusnya tak diperjualbelikan lagi, tapi dihancurkan (scrapping). Pasalnya, penggunaan ban seken membawa risiko keselamatan bagi pengendara plus penumpang kendaraan.

Jual – beli ban bekas bukan hal yang aneh. Bahkan, hal ini menjadi alternatif bagi mereka yang mempunyai anggaran terbatas.

Selisih banderol ban bekas dengan ban baru memang cukup terasa bagi konsumen yang masih sensitif terhadap harga. Berdasarkan penelusuran Mobil123.com dari berbagai sumber, perbedaannya mencapai ratusan ribu rupiah untuk satu ban.

Meski begitu, produsen ban tidak menyarankan untuk menjual atau membeli ban bekas. Lebih baik, serahkan ke toko untuk proses scrapping.

“Saran kami memang diserahkan ke toko. Toko itu biasanya akan punya jalur untuk scrap ban bekas itu,” kata Marketing Director Michelin Indonesia Putu Yudha pada akhir pekan ini di Jakarta.

Putu berbicara usai seremoni peluncuran ban terbaru Michelin yaitu Primacy 4. Produk yang menyasar pasar sedan 1.5-liter maupun multi purpose vehicle (MPV) tersebut diklaim memiliki wet grip (daya cengkeram ban di jalan basah) kuat, baik saat masih baru maupun sudah aus.

Lebih lanjut, ban bekas mempunyai potensi bahaya bagi pengguna kendaraan. Jika tidak dalam kondisi baik, ban bekas terjangkau yang dibeli bisa saja menimbulkan insiden yang tidak diinginkan.

“Misalnya ban itu dijual ke orang lain, kita, kan, enggak bisa garansi. Kita enggak tahu rekam jejak pemakaian mobilnya bagaimana, lalu ban pernah ditambal atau enggak. Jadi memang sebaiknya diserahkan ke toko ban dan mereka akan melakukan scrap,” lanjut Yudha. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar