Test Drive Mazda CX-30: Kemewahan di Balik Filosofi Desain Minimalis

Berita Otomotif

Test Drive Mazda CX-30: Kemewahan di Balik Filosofi Desain Minimalis

BANDUNG – Mazda CX-30 punya filosofi desain kesederhanaan khas Jepang yang malah membuatnya terlihat mewah. Di balik kesederhanaan itu sendiri, tersemat fitur-fitur futuristik seperti Cruise Control canggih dan rem pintar.

“Simplicity is the ultimate sophistication (kesederhanaan adalah aspek tertinggi dari keindahan),” kata Leonardo da Vinci. Kalimat ini yang terngiang tiap kali memandang tampilan Mazda CX-30.

Sekadar mengingatkan, CX-30 adalah SUV lima penumpang Mazda yang mengaspal di Januari 2020 dengan harga Rp 478,8 juta (varian Touring) dan Rp 518,8 juta (varian GT) on-the-road Jakarta. Pada 26 – 27 Februari, Mobil123.com mendapatkan kesempatan untuk menjajal varian GT, bersama sembilan media massa lain dengan rute Jakarta - Lembang, Bandung.

Lantas, bagaimana rasa berkendara SUV termurah kedua Mazda di Indonesia ini? Berikut ulasannya.

Desain Eksterior dan Interior
Lekuk-lekuk garis CX-30 simpel dan mengalir lancar dari depan sampai buritan, tapi menimbulkan pantulan cahaya amat indah. Kenny Wala selaku Product Planner PT. Eurokars Motor Indonesia (EMI) mengatakan CX-30, sebagai bagian dari model-model generasi ketujuh Mazda, punya tiga filosofi desain.

Ada ‘Yohaku’ yang berarti keindahan dari ruang kosong dan terinspirasi dari arsitektur bangunan tradisional Jepang yang amat ‘zen’. Ada juga ‘Sori’ yaitu guratan garis berkarakter dan tidak terputus dari depan sampai belakang. Filosofi desain ketiga ialah ‘Utsuroi’.

“‘Utsuroi’ ini permainan cahaya dan bayangan. Itu  yang paling terlihat dari samping. Bentuknya di CX-30 seperti huruf ‘S’ atau seperti ombak,” jelas dia.

Interiornya juga berkesan lapang dengan dasbor berdesain simpel dan ‘kosong’. Filosofi desainnya, ucap Kenny, adalah ‘Ma’ yaitu ruang terbuka yang menghangatkan.

Varian GT berbalut material kulit di jok, dasbor, setir kemudi, pintu, konsol tengah. Sementara, varian Touring masih memiliki jok kursi bahan fabric.

Meter Cluster tampil sederhana pula dengan nuansa warna hampir seluruhnya putih. Penunjuk analog di kiri-kanan mengapit Multi Information Display 7 inci yang secara digital menunjukkan konsumsi bensin rata-rata, jarak tempuh dengan bensin tersisa, trip A, trip B, atau ilustrasi kendaraan di jalan.

Tampilan MID ini juga bisa diubah-ubah menjadi beberapa model. Di kaca depan terdapat pantulan dari Head-Up Display yang menunjukkan kecepatan mobil.

Beragam Fitur Canggih
Hanya Sunroof yang menjadi pembeda eksterior tipe Touring dengan GT. Sisanya sama, seperti desain pelek 18 incinya, lampu depan dan Day-time Running Light LED dengan Auto On/Off dan Auto Leveling, lampu belakang LED, serta kaca spion elektrik.

Hanya ada dua kelengkapan pula yang menjadi pembeda kabin varian GT dengan Touring yaitu jok kulit dan Inner Mirror Auto Dimming. Keduanya sama-sama punya kelengkapan canggih semisal layar sentuh 8,8 inci dengan Roller Controller di konsol tengah, Mazda Harmonic Acoustic berbekal 8 pengeras suara, AC Dual Zone Digital, juga level Noise – Vibration – Harshness (NVH/kekedapan) setara.

Fitur keselamatan standar juga berderet. Selain 6 airbag,ada lagi fitur keselamatan aktif yang terdiri dari Electric Parking Brake with Auto Hold, sistem pengereman ABS+EBD, BA, Dynamic Stability Control, Traction Control System, Hill Launch Assist, Emergency Stop Signal, Front and Rear Parking Sensor, plus Back Up Monitor (with Static Line).

Perbedaan terbesar dari varian Touring dan GT ada pada kelengkapan fitur i-ACTIVSENSE. Varian Touring hanya memiliki Adaptive Front-Lighting System.

Sementara itu, varian GT punya sembilan fitur i-ACTIVSENSE tambahan. Ada High-beam Control, Smart City Brake Support, Smart Brake Support and Forward Obstruction Warning, Mazda Radar Cruise Control, Lane Departure Warning, Lane Keeping Assist, Driver Attention Alert, Blind Spot Monitoring, Rear Cross Traffic Alert.

Rasa Berkendara
Mesin bensin SKYACTIV – G 2.0 liter milik CX-30, yang menggelontorkan 152 hp dan torsi 200 Nm, memberikan dorongan responsif pedal gas diinjak sehingga aman nyaman di kondisi macet perkotaan. Padahal, transmisinya masih menggunakan girboks otomatis 6-percepatan.

Putaran mesin meninggi dengan cepat ketika pedal gas diinjak lebih dalam, membuat CX-30 enak dibawa lebih agresif. Berkat torsinya yang mumpuni, tanjakan menuju Lembang, Bandung mampu dilahap di putaran mesin 2.000 – 2.500 rpm saja.

Mode Sport tersedia bagi yang masih menuntut mesin lebih responsif lagi. Akan tetapi, dengan model normal saja, Mobil123.com sudah bisa mencapai kecepatan 180 km/jam dengan mudahnya di Tol Jagorawi yang tak terlalu ramai. Transmisi berkendara manual bisa dijalankan lewat tuas di konsol tengah atau Paddle Shift pada lingkar kemudi.

Manuver-manuver di tol maupun banyak kelokan terasa stabil. Ini dibantu oleh setelan suspensi agak rigid, ground clearance tak terlalu tinggi bagi SUV (180 mm) plus keberadaan G-Vectoring Control yang meminimalisir gejala understeer maupun oversteer.

Sensasi berkendara yang berbeda terjadi dengan adanya Cruise Control canggih yang mampu membuat mobil melaju lurus secara otomatis dan menyesuaikan jarak dengan kendaraan di depan. Tanpa direncanakan, rem pintar menyetop CX-30 secara otomatis saat sistem mendeteksi kemungkinan tubrukan saat rekan Mobil123.com berkendara cukup agresif di kemacetan Tol Layang Cikampek.

Catatan kecil hanya ada pada fitur Voice Command. Pasalnya, fitur ini hanya sekali bekerja dengan sukses selama perjalanan. Padahal, Mobil123.com sudah mempraktikkan kata-kata yang tertera di dalam petunjuk.

Kesimpulan
CX-30 benar-benar sebuah SUV yang perlu Anda pertimbangkan saat memiliki duit setengah miliar rupiah lebih sedikit. Tak hanya akan meningkatkan gengsi Anda dengan tampilannya, fitur-fiturnya juga canggih. Sedikit isu pada Voice Command sepertinya belum cukup membuat mobil ini keluar dari daftar SUV Rp 500 juta-an yang direkomendasikan. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar