Penjualan Ferrari di Indonesia Diakui lagi Melesu! Ada Apa dengan Para Orang Kaya?

Berita Otomotif

Penjualan Ferrari di Indonesia Diakui lagi Melesu! Ada Apa dengan Para Orang Kaya?

JAKARTA – Eksekutif Ferrari di Indonesia mengakui transaksi jual-beli mereka kini lagi melesu. Penyebabnya sendiri beragam, tidak hanya karena ‘tahun politik’.

General Manager PT Eurokars Prima Utama (EPU) Nini Chiandra menjelaskan belakangan ini penjualan Ferrari sedang mengalami penurunan. Sayang, ia tidak merinci berapa besar penurunannya.

Ia mengakui salah satu yang ikut memengaruhi kondisi ini adalah tertahannya permintaan akibat ‘tahun politik’ terkait Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) pada awal 2024 nanti. Tetapi, bukan itu saja faktor yang berperan.

“Bukan hanya karena politik saja. Makanya tadi saya bilang karena ekonomi dan sebagainya,” tukas dia ketika ditemui di Ferrari Showroom and Service, Jakarta pada Jumat (24/11/2023).

Ferrari 296 GTB

Diberitakan sebelumnya, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi mengatakan pasar mobil Indonesia secara umum memang agak memberat belakangan ini.

Beragam penyebabnya, menurut dia, antara lain adalah kondisi ekonomi global, perlambatan pada kondisi ekonomi di Tanah Air, dan pengetatan pembiayaan kredit kendaraan bermotor (KKB).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal ketiga 2023, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), tumbuh di bawah 5 persen, tepatnya ialah 4,9 persen.

Padahal, pada triwulan kedua, pertumbuhan ekonomi masih 5,17 persen.

Ferrari Purosangue

Sales and Marketing Director PT Mercedes-Benz Distribution Indonesia (MBDI) Kariyanto Hardjosoemarto membeberkan new taking order mereka pada kuartal ketiga mengalami deselerasi pada kuartal ketiga dibandingkan kuartal satu dan kuartal dua. Ini menandakan konsumen mobil premium terpantau menunda pembelian.

Kariyanto menjelaskan bahwa penyebabnya masih perlu mereka teliti lebih dalam. Kendati begitu, ia mengakui kalau di ‘tahun politik’ ada tendensi dari para konsumen di segmen mobil mewah untuk menunda pembelian.

“Dari pengalaman kami, segmen premium ini lebih sensitif terhadap geopolitik kalau ada tensi memanas dan sebagainya karena biasanya pembeli mobil di segmen premium ini sudah memiliki kendaraan lain juga. Bukan mobil pertama,” papar dia.

Permintaan terhadap mobil niaga, lontar Vice President Sales and Marketing PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) Aji Yuda, juga lagi mengecil. Pemicunya ialah ‘tahun politik’, juga kondisi ekonomi global yang turut memengaruhi beragam sektor bisnis seperti pertambangan plus perkebunan. [Xan/Ses]



Berita Utama


Komentar

app-icon
app-icon
app-icon
Lihat Mobil Impian Anda di Aplikasi
Unduh Aplikasi Sekarang