IRSA Membangun Budaya Baru Keselamatan Berlalu Lintas

Berita Otomotif

IRSA Membangun Budaya Baru Keselamatan Berlalu Lintas

JAKARTA – IRSA 2017 dikatakan sebagai alat yang efektif untuk membangun budaya baru dalam keselamatan lalu lintas di Tanah Air.

Indonesia Road Safety Award (IRSA) 217 telah memasuki babak final. Jelang penentuan para pemenang, Adira Insurance menggandeng para finalis yang merupakan pemerintah kota dan kabupaten, serta instansi terkait guna membuat acara Sharing Session IRSA 2017.

Baca juga : Adira Umumkan Pemenang IRSA 2016

Berdasarkan data kepolisian Republik Indonesia, fatalitas akibat kecelakaan lalu lintas pada 2016 mencapai 25.869 jiwa. Jumlah ini mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya yakni 24.336 jiwa. Namun jika dilihat sejak 2010, jumlah fatalitas akibat kecelakaan cenderung stabil.

Tingginya angka fatalitas akibat kecelakaan lalu lintas, salah satu faktornya adalah peningkatan pertumbuhan kendaraan yang mencapai 12 persen tiap tahunnya. Adapun jumlah kecelakaan paling banyak dialami oleh pengguna sepedamotor.

Mirisnya korban kecelakaan lalu lintas dialami oleh usia produktif (15-24 tahun). Bahkan 80 persen dari korban tersebut cenderung meninggal dunia. Dilihat dari sisi ekonomi, ini merupakan kerugian yang cukup tinggi secara nasional maupun perekonomian keluarga.

Menanggapi hal tersebut, Yayat Supriatna selaku pengamat perkotaan dari Universitas Trisakti, mendorong pemerintah kota maupun kabupaten, mampu memperbaiki kualitas sarana dan prasarana umum. Salah satunya membangun trotoar yang layak bagi pedestrian.

“Keselamatan orang adalah hal yang penting. Jangan sampai terlalu banyak orang yang mati sia-sia. IRSA ini adalah upaya untuk membangun budaya baru dalam kesadaran berlalu lintas. Tapi ini juga harus dibarengi dengan disiplin yang tinggi supaya tidak sia-sia langkahnya,” ujar Yayat di Jakarta.

Dirinya mencontohkan bahwa beberapa kota seperti Bogor, Surabaya dan Jakarta telah menerapkan standar yang bagus, dalam membangun trotoar untuk pejalan kaki atau pedestrian. Ia menjelaskan baha trotoar harus terhubung dengan beberapa pusat kota.

Hal ini dilakukan guna membuat masyarakat malas menggunakan kendaraan pribadi. Menurutnya, membangun trotoar secara otomatis memperbaiki kualitas angkutan umum. Sehingga fasilitas pejalan kaki memiliki fungsi lain dibandingkan biasanya.

“Trotoar itu harus bisa mengubah gaya hidup. Orang Indonesia itu pada dasarnya malas berjalan. Jika trotoar dibangun dengan baik, maka secara otomatis bisa memperbaiki kualitas angkutan umum,” jelas Yayat.

Dirinya bahkan menyarankan bahwa trotoar harus mampu menembus pemukiman kumuh agar lebih memberikan manfaat bagi orang banyak. Dengan berbagai fungsi trotoar, masyarakat diyakini semakin malas menggunakan kendaraan pribadi. [Dew/Ari]



Denny Basudewa

Denny Basudewa

Cowok kelahiran Bogor, Jawa Barat ini gemar mendalami seluk beluk dunia otomotif. Dunia jurnalistik telah menjadi passion hidupnya sehingga ingin terus memberikan informasi seputar otomotif pada masyarakat.


Berita Utama


Komentar

Chat Aktif
Diarsipkan
Chat Bantuan
Hapuskan chat?
Chat Empty
Tidak ada chat yang sedang berlangsung
Mulai pencarian dan chat dengan penjual
Chat Bantuan
Support