Jokowi Wajib Revolusi Mental Para Pengguna Jalan

Berita Otomotif

Jokowi Wajib Revolusi Mental Para Pengguna Jalan

JAKARTA - Joko Widodo sudah resmi menjadi Presiden Indonesia. Harapan pada Jokowi pun membuncah, terutama terkait keselamatan jalan yang semakin mencemaskan.

Segera setelah Presiden dilantik pada Senin, 20 Oktober 2014, publik akan disodori jajaran kabinet yang segera siap bekerja. Segudang harapan dilontarkan pada pemerintahan baru termasuk perlindungan keselamatan bagi para pengguna jalan.

Indonesia punya seabrek drama di jalan raya. Pada 2013, tak kurang dari 270-an kasus kecelakaan di jalan terjadi setiap hari. Ironisnya, ratusan orang terluka akibat petaka itu. Bahkan, tiap hari, sebanyak 70-an anak bangsa melayang sia-sia lantaran jagal jalan raya.

Angka itu akan menjadi miris jika kita tengok fakta tahun 2004. Saat itu, setiap hari terjadi 49 kasus kecelakaan yang merenggut 31 jiwa. Artinya, sepanjang 10 tahun terakhir demikian besar tantangan yang dihadapi Negara untuk melindungi warganya di jalan raya.

"Boleh jadi banyak variabel yang membuat angka-angka itu demikian fantastis sepanjang 10 tahun terakhir. Mulai dari jumlah penduduk yang terus meningkat hingga jumlah kendaraan bermotor yang terus membubung," kata Ketua Road Safety Association (RSA) Edo Rusyanto.

"Namun, di luar itu semua, jika melongok data Korlantas Mabes Polri tiga tahun terakhir, mayoritas pemicu kecelakaan di jalan adalah perilaku berkendara yang tidak tertib. Bahkan, pada 2013, aspek berkendara tidak tertib menyumbang sekitar 42% terhadap total kasus kecelakaan. Artinya, secara teori, jika perilaku bisa ditertibkan peluang terjadinya kecelakaan juga bisa ikut ditekan," tambahnya.

Perilaku tidak tertib di jalan raya, lanjut Edo, bukan mustahil dipicu oleh mentalitas jalan pintas. Maksudnya, perilaku enggan bekerja keras untuk mencapai tujuan. Di jalan raya hal itu mudah dilihat dalam perilaku enggan antri, lalu menerobos lampu merah atau melawan arus. Bahkan, masuk ke jalur yang bukan hak dari pengendara sepeda motor seperti trotoar atau jalur Trans Jakarta, yakni busway.

"Pemerintahan baru kerap menggaungkan slogan revolusi mental. Bila dikaitkan dengan perilaku di jalan raya, semestinya bisa mengubah mentalitas jalan pintas menjadi mental yang sudi toleran dan menghargai regulasi yang ada. Menghargai aturan yang dibuat oleh intelektual-intelektual sama dengan menghargai pemberi karunia kecerdasan, yakni Tuhan Yang Maha Esa. Perilaku demikian tercermin lewat berkendara yang aman dan selamat," papar Edo.

Bisa jadi bukan hal yang mudah dalam mengubah mentalitas dalam sekejap. Namun, sulit bukan berarti tidak bisa. Negara punya instrumen dan perpanjangan tangan yang cukup lengkap untuk mencapai itu semua. Mulai dari institusi pendidikan, penyedia infrastruktur jalan, moda transportasi, hingga petugas penegak hukum di jalan raya.

Di sisi lain, Negara mesti menciptakan figur-figur teladan. Figur yang bisa digugu dan ditiru. Perilaku berlalulintas jalan yang arogan bisa lahir karena sang pelaku merasa memiliki kekuatan dan kekuasaan, entah kekuatan ekonomi, sosial, hingga politik. Figur teladan menjadi idaman masyarakat yang kadung karut marut saat ini.

Hal yang tak bisa dilupakan adalah pentingnya para petugas penegak hukum melaksanakan fungsinya secara baik dan benar. Masyarakat rindu petugas yang tegas, konsisten, kredibel, transparan, dan tidak pandang bulu. Semua warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama di mata hukum.

Lewat penegak hukum yang demikian, diharapkan kedisiplinan para pengguna jalan juga kian meningkat. Rasa menghargai aturan dan petugas juga bisa ikut tercipta. Pada muaranya, menghargai esensi kehidupan pun kian terlihat. Berlalu lintas akarnya adalah selamat sampai tujuan, bukan selamat sampai duluan.

Berharap pada pemerintahan baru adalah hal yang lumrah. Kita berharap pemerintah mampu menjamin dan mewujudkan rasa aman, nyaman, dan selamat. Ketika Negara mencanangkan penurunan fatalitas kecelakaan hingga 50% sepanjang 2010-2020, kita berharap semua dilakukan secara sungguh-sungguh. Salah satunya, pemimpin tertinggi, yakni Presiden mampu menggerakkan seluruh para pembantunya, mulai dari kabinet hingga pemerintah daerah.

"Di tengah itu semua, peran para pengguna jalan juga amat penting dalam mewujudkan lalu lintas jalan yang aman dan selamat. Para pengguna jalan lebih tertib dan menghargai aturan dan yang lebih penting, menghargai esensi kehidupan, yakni selamat sampai tujuan," lugasnya. [Syu/Idr]

Cek daftar mobil baru dan mobil bekas



Syubhan Akib

Syubhan Akib

Pria berkacamata yang mencintai dunia otomotif dan sangat suka memandang mobil klasik serta mempelajari sejarah otomotif dunia. Kemacetan adalah sahabat, kecepatan adalah kesukaan dan liburan akhir pekan adalah impian.


Berita Utama


Komentar

Support
Chat Support
Support Support
0 Support
Support
Chat Aktif0
Diarsipkan
Hapuskan chat?
Chat
Tidak ada chat yang sedang berlangsung
Mulai pencarian dan chat dengan penjual