Eks Bos Sebut Strategi Mobil Listrik Nissan Konservatif & Kurang Visioner

Berita Otomotif

Eks Bos Sebut Strategi Mobil Listrik Nissan Konservatif & Kurang Visioner

BEIRUT – Mantan orang nomor satu di Nissan Carlos Ghosn lagi-lagi mengkritik pabrikan otomotif tersebut.

Ghosn, yang pernah menjabat sebagai Chief Executive Officer Nissan Motor Corporation, pada September 2021 menilai jenama tersebut berubah menjadi membosankan dan medioker lewat bukunya ‘Broken Alliance’. Kini, ia kembali berkomentar pedas terhadap Nissan.

Berbicara via konferensi pers virtual untuk merayakan peluncuran buku tersebut dalam versi bahasa Jepang, Ghosn menilai strategi mobil listrik Nissan saat ini tidak cukup untuk dapat bersaing di masa depan. Padahal, menurut dia, industri otomotif dunia ‘menginjak pedal gas’ dalam-dalam terkait isu ini.

“Kecepatan pergeseran (ke mobil listrik) akan menentukan siapa yang kelak menjadi pemenangnya,” ujar dia, seperti dilaporkan Carscoops baru-baru ini dengan mengutip Automotive News.

“Saat kami meluncurkan mobil listrik produksi massal pertama, seperti yang kalian ketahui, setiap orang menertawakan kami dan menganggap kami telah kalah (di pasar mobil konvensional),” lanjutnya menyinggung introduksi Nissan Leaf pada 2010.

Carlos Ghosn

Sebagai informasi, sekarang kebanyakan pabrikan otomotif malah telah mengumumkan transisi dari mobil bermesin pembakaran internal menuju mobil listrik. Nissan sendiri, pada November 2021, mengumumkan percepatan rencana elektrifikasi dengan meluncurkan 23 model kendaraan elektrifikasi pada 2030, termasuk di antaranya 15 model mobil listrik murni.

Nissan mengekspektasikan 75 persen dari penjualan mereka di Eropa dikontribusikan model-model elektrifikasi pada 2026. Selain itu, mereka menargetkan 40 persen penjualan di Amerika Serikat pada 2030 disumbangkan model-model mobil listrik murni.

Ghosn berpikir rencana itu ‘kurang jauh’. Ia menilai kebijakan mobil listrik Nissan terlalu konservatif, tidak visioner, serta ada di posisi yang kurang baik untuk ‘balapan’ di pasar mobil listrik.

“Tidak ada visi. Mereka tidak tahu kemana mereka berjalan. Mereka tidak punya gambaran mengenai transformasi teknologi yang megah ini, yang sedang terjadi sekarang,” pungkasnya.

Carlos Ghosn

Ghosn dahulu merupakan bintang di industri otomotif global, dengan julukan ‘Le Cost Killer’ maupun ‘Mr. Fix It’. Dua sebutan ini mengacu pada kemampuannya dalam menghemat biaya produksi serta mengangkat Nissan dari jurang kebangkrutan pada akhir 1990-an menjadi salah satu aliansi pabrikan mobil terbesar bersama Renault.

Aliansi ini kemudian memperbesar diri dengan membeli saham Mitsubishi pada 2016.

Namun, ia ditahan kepolisian Jepang pada 2018 atas tuduhan pemalsuan laporan pendapatan dan penyalahgunaan dana perusahaan. Ia menyebutnya sebagai konspirasi dan kriminalisasi, karena Nissan dan Jepang khawatir Prancis makin berkuasa atas Nissan lewat Renault.

Pada 2019, ia kabur dari penjara di ‘Negeri Sakura’ ke Lebanon dengan cara yang mirip dengan kisah film-film Hollywood. Aksinya dibantu oleh mantan pasukan khusus Amerika Serikat. [Xan/Ses]

Cek daftar harga mobil Nissan di sini.



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar