Begini Lho, Cara Berkendara agar Penumpang Tidak Mabuk

Panduan Pembeli

Begini Lho, Cara Berkendara agar Penumpang Tidak Mabuk

JAKARTA – Banyak faktor yang menyebabkan seseorang mabuk saat dalam perjalanan, sehingga membuat pengalaman berkendara menjadi tidak menyenangkan.

Salah satu faktor penyebabnya adalah karena mereka tidak kuat dengan AC mobil, sehingga menyebabkan mual dan mabuk perjalanan.

Faktor lain, karena pengemudi tidak mengendarai kendaraannya dengan baik.

Faktor pengemudi sangatlah krusial dalam menentukan kenyamanan berkendara. Semakin nyaman pengemudi mengendari kendaraannya maka akan semakin kecil juga kemungkinan penumpang di dalamnya merasa mabuk.

Soft skill pengemudi, seperti sabar, menjaga emosi dan sebagainya memiliki peran penting untuk memastikan orang berkendara dengan benar, sehingga penumpang merasa nyaman.

Hard skill seperti teknik berkendara juga berpengaruh, namun bisa dipelajari dengan lebih singkat.

Salah satu hard skill yang bisa dipelajari dengan cepat adalah melakukan perpindahan gigi tepat waktu khususnya bagi pengemudi mobil manual. Agar nyaman, lakukan perpindahan gigi saat RPM 2.000 sampai 2.500 saja.

Begini Lho Cara Berkendara agar Penumpang Tidak Mabuk

Perpindahan gigi yang tepat akan berdampak pada kenyamanan penumpang dan membuat risiko mual penumpang berkurang. Hal ini karena goncangan yang timbul saat shifiting akan berkurang dan dinamika kendaraan dapat teratasi.

Perhatikan frekuensi pengereman dan hindari proses pengereman secara mendadak atau terlalu keras. Sebaiknya lakukan pengereman dengan perlahan dan juga bertahap agar tidak memicu hentakan yang mendadak. Perlu diingat bahwa pengereman yang asal dilakukan dapat membuat penumpang semakin mual.

Berkendara yang nyaman juga bisa dilakukan dengan menjaga jarak antara satu kendaraan dengan lainnya. Dengan jarak aman yang terjaga akan bisa menghindari akselerasi dan deselerasi secara mendadak. Cara sederhananya, menjaga jarak dengan mobil lain di depan sekira 3-4 detik.

Perlu diingat bahwa, hitungan detik tersebut berbeda dengan hitungan biasa yang dilakukan. Perbedaannya ada pada cara menghitungnya yaitu seribu satu, seribu dua, seribu tiga, seribu empat dan seterusnya.

Terakhir adalah dengan menghindari kondisi jalan yang berliku, menanjak dan menurun. Cara ini tentunya sangat sulit, karena kondisi jalan akan berbeda-beda.

Bila memang harus melalui jalan yang menantang seperti itu, maka tidak ada salahnya untuk melakukan persiapan dan mengurangi laju kendaraan sebelum menikung. [Adi/Ses]



Adi Hidayat

Adi Hidayat

Pria lugu yang tinggal di Bekasi ini kerap menghadapi kemacetan Jakarta untuk memberikan informasi terkini terkait dunia otomotif Indonesia. Menghirup asap knalpot, merasakan teriknya panas matahari, menerabas hujan hingga menembus kepungan banjir pun telah menjadi bagian dari hidupnya. Meski demikian ia menjalaninya dengan penuh ketabahan dan kesabaran.


Berita Utama


Komentar