5 Kekurangan Honda Blade 125 FI, Tampang Juara Tapi Performa Ala Kadarnya

Panduan Pembeli

5 Kekurangan Honda Blade 125 FI, Tampang Juara Tapi Performa Ala Kadarnya

Honda Blade 125 menjadi lini model bebek Honda dengan aksen sporty yang kuat. Bebek ini juga kerap digunakan untuk balap underbone. Hanya saja dalam kondisi standar, Performa Honda Blade 125 FI menjadi kekurangan utama. 

Honda Blade 125 FI dirilis oleh PT Astra Honda Motor (AHM) pada tanggal 28 Maret 2014. Motor ini memakai basis mesin yang sama persis dengan Supra X 125 FI generasi ketiga. Namun ternyata performa Supra X injeksi ini tak sehebat generasi sebelumnya yang memakai karburator. 

Mesinnya hanya dirancang responsif di putaran bawah, sehingga performa di Blade 125 ini seolah dirancang hanya untuk motor komuter bapak-bapak. Tarikan atasnya kurang galak sehingga sulit digeber hingga kecepatan 100 km/jam di speedometer.

Hal ini begitu kontras dengan desain Honda Blade 125 FI yang sporty untuk ukuran motor bebek. Handlingnya pun cukup lincah dan stabil. Kelemahan dari sisi performa membuatnya jadi tidak proporsional.

Itu tadi sekilas kekurangan Honda Blade 125 FI berdasarkan pengalaman kami menggunakannya. Berikut ini lima kekurangan Honda Blade 125 FI yang membuatnya hanya sebatas bebek biasa.

1. Performa Putaran Atas Kurang Bertenaga

Honda Blade 125 FI dibekali mesin 4-tak 125 cc SOHC dengan daya maksimum hingga 7.40 kw(10.1ps)/ 8000 rpm, serta torsi maksimum 9.30 Nm. Di atas kertas, performa motor ini sebenarnya lumayan oke tapi lain cerita saat dipacu di atas aspal.

Desain mapping ECU motor ini dirancang supaya irit, dampaknya membuat putaran atasnya seperti tertahan. Bila kita hentak gasnya agar menghasilkan tarikan yang spontan, tak jarang membuat motornya jadi ngempos dan mati. 

Ini karena suplai bensin yang kurang sebanding dengan bukaan udara di katup throttle body. Untuk itu, cara berkendara di motor ini harus memutar grip gas dengan diurut.

Tidak sebandingnya suplai bensin dan udara di Blade 125 ini bisa kita lihat dari sisa pembakaran di kepala busi yang warnanya cenderung putih. Normalnya pembakaran yang ideal itu berwarna abu-abu muda atau merah bata.

2. Masih Pakai Tensioner Dengan Roller Karet

Untuk ukuran motor tahun muda, teknologi yang diusung Blade 125 malah mundur ke belakang. Tak seperti era Honda Supra X 125 karburator yang memakai lidah tensioner, generasi Blade dan Supra X 125 FI malah pakai roller tensioner berbahan karet.

Teknologi ini merupakan andalan di Honda Astrea Grand. Pada bebek lawas Honda bisa awet karena struktur mesin yang lebih kecil kapasitasnya, sehingga putaran mesin tidak terlalu tinggi.

Akibatnya bila terpasang di mesin 125 Cc membuat roller tersebut cepat aus dan hanya kuat bertahan sekitar 5 ribuan kilometer untuk roller tensioner bawaan. Lebih parahnya lagi, konstruksi rantai keteng ini juga membuat per tensioner lekas kendur.

Berdasarkan pengalaman kami untuk mensiasati agar komponennya lebih awet, roller tensioner diganti dengan milik Honda Astrea Grand yang bahan karetnya lebih keras. Kemudian per tensioner dimodifikasi memakai per master rem depan Yamaha Mio yang lebih keras. Per ini ditarik dengan ukuran panjang setara per tensioner bawaan motor. 

3. Shockbreaker Bawaan Keras dan Kulit Joknya Agak Licin

Kekurangan lainnya yang membuat Blade 125 tidak nyaman dikendarai yaitu pada karakter shockbreaker belakang bawaan yang keras. Shock depannya juga tak jauh beda, kurang empuk saat lewat jalan berbatu. Meskipun demikian, shockbreaker yang keras ini membuatnya jadi tidak bottoming alias mentok.

Agar lebih nyaman, mau tak mau kalian harus mengganti shockbreaker belakang dengan produk aftermarket. Kemudian masalah shock depan bisa diperbaiki di bengkel shockbreaker agar karakter ayunannya jadi lebih empuk.

Masalah lain yang bikin berkendara dengan motor ini jadi tidak menyenangkan ada pada bahan kulit joknya yang keras dan agak licin. Ini membuat bokong panas bila berkendara dalam waktu lama. Pengendara maupun penumpang juga gampang merosot bila sedang mengerem, karena permukaan kulit jok yang cenderung licin tadi.

Lagi-lagi, pemilik Honda Blade 125 FI harus melakukan modifikasi jok bawaan agar lebih nyaman saat berkendara dalam waktu lama. Busa jok harus ditambah supaya lebih tebal dan perlu mengganti kulit jok dengan bahan yang lebih bagus. 

4. Panel Instrumen Serba Analog

Pada generasi Supra X 125 FI dan Blade 125 FI juga mengalami downgrade pada sisi panel instrumen. Honda Blade 125 FI memakai panel instrumen yang serba analog, mulai dari speedometer dan ampere bensin. 

Lebih lanjut, sistem gerak speedometer di Blade 125 juga downgrade memakai kabel yang terhubung ke roda depan. Jenis speedometer seperti ini kelemahannya ada pada kabel yang bisa putus karena usia di bagian kawat sling didalamnya. Dampaknya tidak bisa menampilkan kecepatan selama berkendara. 

Padahal di era Supra X 125 karburator sudah memakai panel ampere bensin digital. Sistem speedometer di generasi sebelumnya juga cukup canggih karena ada di final gear dan memakai sensor elektrik. Pada model speedometer ini tidak perlu perawatan karena posisinya tertutup di dalam crankcase.

5. Fuel Pump Kurang Awet

Kelemahan terakhir yang sempat penulis alami saat memiliki Honda Blade 125 selama enam tahun ialah fuel pump mati saat motor berusia lima tahunan. Padahal selama pemakaian selalu memakai bensin non subsidi yang kualitasnya lebih terjamin.

Saat rotak alias fuel pump mati, mau tak mau ganti fuel pump assy untuk part yang original. Untungnya, di marketplace online ada yang menjual hanya bagian rotak/fuel pump saja. 

Perbandingan harganya pun jauh, karena untuk fuel pump assy mencapai Rp400 ribu sedangkan untuk bagian fuel pump cuma Rp100 ribuan.



Berita Utama


Komentar

app-icon
app-icon
app-icon
Lihat Mobil Impian Anda di Aplikasi
Unduh Aplikasi Sekarang