Fakta Penting Geely Starray EM-i di Indonesia: SUV Plug-in Hybrid Rp499 Juta Produksi Lokal di Purwakarta
Adu Spesifikasi SUV Listrik Rp 250–500 Jutaan: Jaecoo J5 EV vs BYD Atto 3 vs Geely EX5, Siapa yang Paling Unggul?
Beranda Berita Panduan Pembeli Perbedaan Timing Belt dan Timing Chain di Mesin Mobil, Pengaruh Pada Kenyamanan? Perbedaan Timing Belt dan Timing Chain di Mesin Mobil, Pengaruh Pada Kenyamanan? Panduan Pembeli Yongki Sanjaya Putra https://www.mobil123.com/authors/1270/yongki-sanjaya-putra | 12 January 2024 11:24 Alur pembakaran antara piston, intake valve dan exhaust valve dalam mesin perlu selaras. Dalam suatu sistem pembakaran, butuh penghubung untuk pergerakan komponen tersebut. Untuk menggerakkan noken as dan klep, mesin butuh suatu komponen penghubung yaitu timing belt atau timing chain. Sebenarnya, teknologi timing chain ini adalah teknologi lawas dan sempat digantikan oleh timing belt. Mengapa penggunaan timing chain digantikan dengan timing belt? Padahal rantai baja relatif lebih kuat ketimbang sabuk karet. Mobil dengan timing belt ini sempat populer di era 90-an hingga 2000-an. Timing belt terkesan lebih nyaman buat berkendara Masalahnya kadang nggak sesimpel itu. Memang, rantai lebih kuat daripada sabuk karet, cuma di beberapa sisi rantai keteng kalau rusak lebih merepotkan, apalagi jika giginya yang sudah aus sehingga kerusakannya lebih parah lagi. Berikut ini perbedaan antara timing belt dan timing chain yang perlu dipahami. Kelebihan Mesin Mobil dengan Timing Belt Sistem timing belt sempat ramai digunakan industri otomotif karena lebih murah dan relatif senyap. Ini karena giginya hanya memutar karet, tidak beradu dengan besi. Khusus untuk timing belt, karena bahannya mengandung karet maka memiliki masa waktu pemakaian. Untuk itu, kita perlu tahu kapan dan seperti apa timing belt harus diganti. Mengacu pada penamaannya, timing belt berfungsi sebagai pengaturan waktu pembakaran. Jadi, komponen ini berguna memanajemen waktu putaran camshaft sesuai dengan putaran kruk as. Jadi, ada kesesuaian waktu buka tutup klep sesuai dengan naik turunnya piston. Timing belt memiliki kelebihan membuat suara mesin lebih halus. Namun memang, waktu pakainya lebih pendek. Timing belt mobil memerlukan penggantian secara berkala. Dampak Timing Belt Tidak Diganti Sesuai Jadwal Saat timing belt sudah mencapai masa penggantian, biasanya ditandai dengan fisiknya getas dan melar. Bila sudah begini, membuat timing kerja klep bisa berubah. Hasilnya, kinerja mesin jadi tidak optimal. Lebih bahaya lagi kalau timing belt sampai putus, karena tidak jarang terjadi tabrakan antara payung klep dengan piston karena timing yang berantakan. Mau tidak mau, kita terpaksa harus turun mesin untuk mengganti piston dan klep yang pecah akibat berbenturan. Jika hal tersebut terjadi, tentu biaya perbaikannya bisa jadi sangat mahal. Supaya terhindar dari kerusakan tersebut, timing belt harus diganti sebelum putus. Nah, karena cukup berbahaya maka kalian sebaiknya perlu tahu ciri bagaimana kondisi timing belt yang harus diganti. Waktu Penggantian Timing Belt, Setiap 40 Ribu Kilometer Pada umumnya, timing belt perlu diganti setiap 40 ribu km. Tapi ada juga yang diganti pada jarak sekitar 80 ribu km sampai 120 ribu km tergantung dari jenis kendaraan yang digunakan. Untuk pemeriksaan timing belt mobil dilakukan setiap kendaraan telah menempuh jarak mendekati angka 40 ribu km. Pemeriksaan timing belt dilakukan meliputi pemeriksaan kerusakan, kondisi gerigi, ketegangan, dan melihat langsung secara fisik adakah retak-retak getas. Bila dirasa komponen masih bagus, boleh dilanjutkan penggunaannya hingga batas waktu tertentu sesuai dengan rekomendasi mekanik terpercaya. Kalau kondisinya sudah banyak kerusakan, maka timing belt harus segera diganti lebih cepat dari jadwal semestinya. Itulah mengapa timing belt dikategorikan sebagai part fast moving, sehingga harganya relatif terjangkau. Pasaran timing belt genuine biasanya di bawah Rp500 ribuan. Timing Belt Mobil Getas dan Retak-retak, Sebaiknya Segera Ganti Kondisi timing belt yang sudah getas dan terdapat banyak garis retakan jelas cukup berbahaya. Ini menandakan struktur karet sudah tak lagi kokoh dan rentan putus kalau digunakan berkendara terutama dalam putaran mesin lumayan tinggi. Getas maupun retak ini muncul karena usia pakai, dan kondisi kerja mesin yang berada dalam suhu tinggi. Suhu kerja mesin yang lumayan panas dengan putaran tinggi membuat timing belt lama kelamaan menjadi getas atau keras. Timing Belt Kendur, Bisa Terlepas Dari Dudukannya Timing belt ini dirancang supaya tetap tegang, sehingga putaran antara kruk as dan camshaft tetap presisi. Namun karena usia pakai, karet lama kelamaan akan mengendur. Meskipun ada tensioner untuk membuat belt ini tetap tegang, tapi seiring waktu elastisitas karet bisa menurun hingga belt jadi terlalu melar. Ini merupakan salah satu sifat karet, jika pemakaian dalam jangka waktu lama maka akan getas atau kendur. Timing belt mobil yang sudah getas dan kendur akan sangat beresiko. Sewaktu-waktu timing belt dapat terlepas dari dudukannya atau putus. Cara mengetahui timing belt kendur juga sangat mudah, cukup sentuh dan tekan secara langsung dengan jari tangan. Kalau terasa lembek dan tidak elastis, maka wajib diganti. Timing belt yang kendur, biasanya juga bakal membuat suara mesin lebih keras. Jadi, kamu bisa mengecek tanda tersebut, seperti muncul suara berdecit sebagai efek gesekan dengan belt yang aus. Timing Chain di Mesin Mobil, Punya Masa Pakai Lebih Panjang Fungsi timing chain sebagai komponen yang menyelaraskan pergerakan piston dan klep terbukti lebih unggul daripada timing belt. Berikut ini alasan mengapa pabrikan mobil kembali pakai timing chain: Rantai terbukti sangat awet dan kuat. Mobil akan mampu bertahan lama karena rantai jelas menggunakan bahan logam sehingga tidak akan mudah putus. Tidak perlu rutin mengganti timing chain, karena komponen ini bisa dipakai hingga ratusan ribu kilometer. Selama tingkat kekendurannya dalam batas toleransi tensioner, maka kinerjanya masih terjaga secara optimal. Karena memakai bahan logam, timing chain terbukti kuat dalam penggunaan sehari-hari. Pengemudi tidak perlu khawatir kalau timing chain putus seperti timing belt, sehingga mobil jadi selalu siap digunakan dan minik perawatan. Tidak membutuhkan perawatan berkala ke bengkel, kecuali memang ada suatu kondisi tertentu yang menyebabkan kerusakan atau penurunan performa. Kelebihan timing chain ini adalah mampu dipasang pada mesin yang mempunyai karakter powerful dan mid-high RPM. Material logam lebih minim resiko loss power jika dibandingkan dengan timing belt yang berbahan dasar karet karena kekuatannya yang tak seberapa. Karena berbahan logam maka akurasinya lebih baik dalam memutar noken as untuk buka tutup katup. Risiko kendur ini bisa ditanggulangi oleh lift tensioner. Timing chain ini bekerja sebagai satu kesatuan yang terdiri atas beberapa bagian seperti berikut: Timing gear yang terletak di poros crankshaft. Timing chain alias rantai keteng yang menghubungkan timing gear dan cam gear. Camshaft gear yang digerakkan oleh timing gear dengan rantai keteng sebagai perantara. Poros camshaft terhubung dengan cam gear sehingga gerakan putarannya sama. Lifter sebagai pendorong tensioner agar rantai keteng tetap tegang meskipun mengalami sedikit kendur. Teknologi timing chain ini relatif sederhana dan durable sehingga digunakan juga pada roda dua. Kekurangan Timing Chain Meskipun punya beragam kelebihan, tapi timing chain juga tak luput dari keluhan. Berikut ini kekurangan mobil yang memakai timing chain: Lebih berat dan lebih rumit susunan mesinnya Suara mesin sedikit lebih berisik, namun mobil sekarang yang memakai timing chain sudah lebih halus jika di bandingkan mobil teknologi lama. (YS) ✕ Mari terhubung di Whatsapp Kami melindungi informasi pribadi Anda sesuai dengan Kebijakan Perlindungan Data Pribadi Saya setuju dengan Ketentuan Layanan dan Kebijakan Privasi Mobil123.com Saya bersedia dihubungi oleh Mobil123.com dan penjual mobil, afiliasi bisnis, dan mitranya. Lihat penawaran mobil terbaik! Prev Next Penawaran special - hubungi sekarang! hari jam Hrg. Psrn. I Cetak Yongki Sanjaya Putra Editor Berita Utama Kia Makin Serius di Indonesia: Target Punya 100 Diler dan Jual 40 Ribu Mobil pada 2030 Berita Otomotif Insan Akbar | 15 January 2026 JAKARTA – Kia makin serius di Indonesia. Prinsipal mereka di Korea Selatan kini turun tangan langsung melalui PT Kia Sales Indonesia. Target-target ... 833 Ribu Mobil Laku di RI 2025, Ada Kejutan di Daftar Merek Mobil Terlaris! Berita Otomotif Insan Akbar | 15 January 2026 JAKARTA – Sebanyak 833 ribu unit mobil laku terjual di Indonesia sepanjang 2025. Tahun ini, ada kejutan di daftar 10 merek mobil terlaris. Menurut ... Salut! Daihatsu 17 Tahun Jadi Merek Mobil Terlaris Kedua di Indonesia Berita Otomotif Insan Akbar | 15 January 2026 JAKARTA – Daihatsu mempertahankan status mereka sebagai merek mobil terlaris kedua di Indonesia selama nyaris dua dekade. Target Daihatsu tercapai. ... Bocoran Pertama Soal Mobil Baru Chery pada 2026 Berita Otomotif Insan Akbar | 15 January 2026 TANGERANG – Chery sudah memberikan bocoran pertama terkait rencana peluncuran mobil baru mereka di Indonesia pada 2026. Great Regional Manager PT ... Komentar
Perbedaan Timing Belt dan Timing Chain di Mesin Mobil, Pengaruh Pada Kenyamanan? Panduan Pembeli Yongki Sanjaya Putra https://www.mobil123.com/authors/1270/yongki-sanjaya-putra | 12 January 2024 11:24 Alur pembakaran antara piston, intake valve dan exhaust valve dalam mesin perlu selaras. Dalam suatu sistem pembakaran, butuh penghubung untuk pergerakan komponen tersebut. Untuk menggerakkan noken as dan klep, mesin butuh suatu komponen penghubung yaitu timing belt atau timing chain. Sebenarnya, teknologi timing chain ini adalah teknologi lawas dan sempat digantikan oleh timing belt. Mengapa penggunaan timing chain digantikan dengan timing belt? Padahal rantai baja relatif lebih kuat ketimbang sabuk karet. Mobil dengan timing belt ini sempat populer di era 90-an hingga 2000-an. Timing belt terkesan lebih nyaman buat berkendara Masalahnya kadang nggak sesimpel itu. Memang, rantai lebih kuat daripada sabuk karet, cuma di beberapa sisi rantai keteng kalau rusak lebih merepotkan, apalagi jika giginya yang sudah aus sehingga kerusakannya lebih parah lagi. Berikut ini perbedaan antara timing belt dan timing chain yang perlu dipahami. Kelebihan Mesin Mobil dengan Timing Belt Sistem timing belt sempat ramai digunakan industri otomotif karena lebih murah dan relatif senyap. Ini karena giginya hanya memutar karet, tidak beradu dengan besi. Khusus untuk timing belt, karena bahannya mengandung karet maka memiliki masa waktu pemakaian. Untuk itu, kita perlu tahu kapan dan seperti apa timing belt harus diganti. Mengacu pada penamaannya, timing belt berfungsi sebagai pengaturan waktu pembakaran. Jadi, komponen ini berguna memanajemen waktu putaran camshaft sesuai dengan putaran kruk as. Jadi, ada kesesuaian waktu buka tutup klep sesuai dengan naik turunnya piston. Timing belt memiliki kelebihan membuat suara mesin lebih halus. Namun memang, waktu pakainya lebih pendek. Timing belt mobil memerlukan penggantian secara berkala. Dampak Timing Belt Tidak Diganti Sesuai Jadwal Saat timing belt sudah mencapai masa penggantian, biasanya ditandai dengan fisiknya getas dan melar. Bila sudah begini, membuat timing kerja klep bisa berubah. Hasilnya, kinerja mesin jadi tidak optimal. Lebih bahaya lagi kalau timing belt sampai putus, karena tidak jarang terjadi tabrakan antara payung klep dengan piston karena timing yang berantakan. Mau tidak mau, kita terpaksa harus turun mesin untuk mengganti piston dan klep yang pecah akibat berbenturan. Jika hal tersebut terjadi, tentu biaya perbaikannya bisa jadi sangat mahal. Supaya terhindar dari kerusakan tersebut, timing belt harus diganti sebelum putus. Nah, karena cukup berbahaya maka kalian sebaiknya perlu tahu ciri bagaimana kondisi timing belt yang harus diganti. Waktu Penggantian Timing Belt, Setiap 40 Ribu Kilometer Pada umumnya, timing belt perlu diganti setiap 40 ribu km. Tapi ada juga yang diganti pada jarak sekitar 80 ribu km sampai 120 ribu km tergantung dari jenis kendaraan yang digunakan. Untuk pemeriksaan timing belt mobil dilakukan setiap kendaraan telah menempuh jarak mendekati angka 40 ribu km. Pemeriksaan timing belt dilakukan meliputi pemeriksaan kerusakan, kondisi gerigi, ketegangan, dan melihat langsung secara fisik adakah retak-retak getas. Bila dirasa komponen masih bagus, boleh dilanjutkan penggunaannya hingga batas waktu tertentu sesuai dengan rekomendasi mekanik terpercaya. Kalau kondisinya sudah banyak kerusakan, maka timing belt harus segera diganti lebih cepat dari jadwal semestinya. Itulah mengapa timing belt dikategorikan sebagai part fast moving, sehingga harganya relatif terjangkau. Pasaran timing belt genuine biasanya di bawah Rp500 ribuan. Timing Belt Mobil Getas dan Retak-retak, Sebaiknya Segera Ganti Kondisi timing belt yang sudah getas dan terdapat banyak garis retakan jelas cukup berbahaya. Ini menandakan struktur karet sudah tak lagi kokoh dan rentan putus kalau digunakan berkendara terutama dalam putaran mesin lumayan tinggi. Getas maupun retak ini muncul karena usia pakai, dan kondisi kerja mesin yang berada dalam suhu tinggi. Suhu kerja mesin yang lumayan panas dengan putaran tinggi membuat timing belt lama kelamaan menjadi getas atau keras. Timing Belt Kendur, Bisa Terlepas Dari Dudukannya Timing belt ini dirancang supaya tetap tegang, sehingga putaran antara kruk as dan camshaft tetap presisi. Namun karena usia pakai, karet lama kelamaan akan mengendur. Meskipun ada tensioner untuk membuat belt ini tetap tegang, tapi seiring waktu elastisitas karet bisa menurun hingga belt jadi terlalu melar. Ini merupakan salah satu sifat karet, jika pemakaian dalam jangka waktu lama maka akan getas atau kendur. Timing belt mobil yang sudah getas dan kendur akan sangat beresiko. Sewaktu-waktu timing belt dapat terlepas dari dudukannya atau putus. Cara mengetahui timing belt kendur juga sangat mudah, cukup sentuh dan tekan secara langsung dengan jari tangan. Kalau terasa lembek dan tidak elastis, maka wajib diganti. Timing belt yang kendur, biasanya juga bakal membuat suara mesin lebih keras. Jadi, kamu bisa mengecek tanda tersebut, seperti muncul suara berdecit sebagai efek gesekan dengan belt yang aus. Timing Chain di Mesin Mobil, Punya Masa Pakai Lebih Panjang Fungsi timing chain sebagai komponen yang menyelaraskan pergerakan piston dan klep terbukti lebih unggul daripada timing belt. Berikut ini alasan mengapa pabrikan mobil kembali pakai timing chain: Rantai terbukti sangat awet dan kuat. Mobil akan mampu bertahan lama karena rantai jelas menggunakan bahan logam sehingga tidak akan mudah putus. Tidak perlu rutin mengganti timing chain, karena komponen ini bisa dipakai hingga ratusan ribu kilometer. Selama tingkat kekendurannya dalam batas toleransi tensioner, maka kinerjanya masih terjaga secara optimal. Karena memakai bahan logam, timing chain terbukti kuat dalam penggunaan sehari-hari. Pengemudi tidak perlu khawatir kalau timing chain putus seperti timing belt, sehingga mobil jadi selalu siap digunakan dan minik perawatan. Tidak membutuhkan perawatan berkala ke bengkel, kecuali memang ada suatu kondisi tertentu yang menyebabkan kerusakan atau penurunan performa. Kelebihan timing chain ini adalah mampu dipasang pada mesin yang mempunyai karakter powerful dan mid-high RPM. Material logam lebih minim resiko loss power jika dibandingkan dengan timing belt yang berbahan dasar karet karena kekuatannya yang tak seberapa. Karena berbahan logam maka akurasinya lebih baik dalam memutar noken as untuk buka tutup katup. Risiko kendur ini bisa ditanggulangi oleh lift tensioner. Timing chain ini bekerja sebagai satu kesatuan yang terdiri atas beberapa bagian seperti berikut: Timing gear yang terletak di poros crankshaft. Timing chain alias rantai keteng yang menghubungkan timing gear dan cam gear. Camshaft gear yang digerakkan oleh timing gear dengan rantai keteng sebagai perantara. Poros camshaft terhubung dengan cam gear sehingga gerakan putarannya sama. Lifter sebagai pendorong tensioner agar rantai keteng tetap tegang meskipun mengalami sedikit kendur. Teknologi timing chain ini relatif sederhana dan durable sehingga digunakan juga pada roda dua. Kekurangan Timing Chain Meskipun punya beragam kelebihan, tapi timing chain juga tak luput dari keluhan. Berikut ini kekurangan mobil yang memakai timing chain: Lebih berat dan lebih rumit susunan mesinnya Suara mesin sedikit lebih berisik, namun mobil sekarang yang memakai timing chain sudah lebih halus jika di bandingkan mobil teknologi lama. (YS) ✕ Mari terhubung di Whatsapp Kami melindungi informasi pribadi Anda sesuai dengan Kebijakan Perlindungan Data Pribadi Saya setuju dengan Ketentuan Layanan dan Kebijakan Privasi Mobil123.com Saya bersedia dihubungi oleh Mobil123.com dan penjual mobil, afiliasi bisnis, dan mitranya. Lihat penawaran mobil terbaik! Prev Next Penawaran special - hubungi sekarang! hari jam Hrg. Psrn. I
Kia Makin Serius di Indonesia: Target Punya 100 Diler dan Jual 40 Ribu Mobil pada 2030 Berita Otomotif Insan Akbar | 15 January 2026 JAKARTA – Kia makin serius di Indonesia. Prinsipal mereka di Korea Selatan kini turun tangan langsung melalui PT Kia Sales Indonesia. Target-target ...
833 Ribu Mobil Laku di RI 2025, Ada Kejutan di Daftar Merek Mobil Terlaris! Berita Otomotif Insan Akbar | 15 January 2026 JAKARTA – Sebanyak 833 ribu unit mobil laku terjual di Indonesia sepanjang 2025. Tahun ini, ada kejutan di daftar 10 merek mobil terlaris. Menurut ...
Salut! Daihatsu 17 Tahun Jadi Merek Mobil Terlaris Kedua di Indonesia Berita Otomotif Insan Akbar | 15 January 2026 JAKARTA – Daihatsu mempertahankan status mereka sebagai merek mobil terlaris kedua di Indonesia selama nyaris dua dekade. Target Daihatsu tercapai. ...
Bocoran Pertama Soal Mobil Baru Chery pada 2026 Berita Otomotif Insan Akbar | 15 January 2026 TANGERANG – Chery sudah memberikan bocoran pertama terkait rencana peluncuran mobil baru mereka di Indonesia pada 2026. Great Regional Manager PT ...