Insentif Mobil 2025 Diharap Utamakan Merek dengan Investasi Besar & Mobil ‘Hijau’
Berita OtomotifJAKARTA – Eksekutif Hyundai di Indonesia berharap insentif mobil baru dari pemerintah pada 2025 mengutamakan merek-merek yang sudah berinvestasi besar di Indonesia, kemudian juga mobil-mobil berteknologi ramah lingkungan.
Seperti diberitakan sebelumnya, pemerintah sudah memastikan bahwa pada 2025 akan ada insentif Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) bagi mobil konvensional, mobil hybrid, hingga mobil listrik murni.
Stimulus baru yang sudah dipastikan sejauh ini ialah insentif PPnBM 3 persen bagi mobil hybrid.
Insentif-insentif bagi kendaraan elektrifikasi sebelumnya juga dilanjutkan. Contohnya PPN 1 persen untuk mobil listrik rakitan lokal, PPnBM 0 persen bagi mobil listrik rakitan lokal, sampai PPnBM 0 persen plus bea masuk 0 persen bagi mobil listrik impor utuh dengan komitmen produksi lokal.
Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) Fransiscus Soerjopranoto menilai pemerintah ingin memberikan paket insentif yang serupa seperti masa pandemi, dengan melibatkan pula mobil-mobil bermesin konvensional di dalamnya.
Namun, ada hal-hal yang ia harap diperhatikan oleh pemerintah.
“Kalau memang ada kebijakan untuk menghilangkan atau memotong PPnBM, harus juga diperhatikan dua hal,” tandasnya usai peluncuran All New Hyundai Kona Electric N Line pada 12 Desember 2024 di Jakarta.
Pertama, sebutnya, ialah mengutamakan pabrikan-pabrikan mobil yang menunjukkan keseriusan di pasar dengan penanaman modal dalam jumlah besar di Tanah Air. Merek-merek ini sudah berinvestasi untuk membangun rantai suplai yang melibatkan perusahaan-perusahaan lokal.
“Seperti Hyundai. Kan, kita tahu, investasi kami sudah cukup besar. Jadi, ada investasi dalam bentuk upstream yang berupa pabrik, komponen, dan lain sebagainya,” tandasnya.
Kedua, sambung Soerjo, adalah insentif yang makin mendorong tumbuh-kembang industri serta pasar mobil berteknologi ‘hijau’.
“Apakah mobil itu secara powertrain (dapur pacu) ramah lingkungan atau tidak, kemudian mendapatkan insentif yang lebih baik. Dengan begitu, ada pembeda,” pikirnya.
Hyundai sendiri, pungkas Soerjo, mengapresiasi rencana pemerintah memberikan paket insentif yang mirip seperti masa pandemi Covid-19 untuk pasar otomotif nasional. Ia meyakini kebijakan ini bakal mendorong perkembangan pasar.
“Pada saat pandemi kemarin, ada insentif yang berupa seperti itu dan berhasil mendorong pasar untuk naik,” lontarnya.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memperkirakan penjualan mobil di Indonesia pada 2025 sudah kembali lagi ke 1 juta unit, lebih tinggi dari target capaian tahun ini yang cuma 850 ribu unit karena penurunan daya beli, pengetatan kredit, dan efek tahun politik. [Xan]