Indonesia ‘Kebanjiran’ Mobil Impor di Tahun Terakhir Pemberian Insentif Mobil Listrik CBU
Berita OtomotifJAKARTA – Pada 2025 yang penuh tantangan ini, insentif mobil listrik CBU (completely built up) direncanakan berakhir. Dua situasi kontras pun terjadi: Indonesia ‘kebanjiran’ mobil impor saat penjualan di pasar domestik lesu.
Data Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) menunjukkan impor mobil CBU dari Januari-September 2025 mencapai 113.198 unit.
Terjadi lonjakan drastis sebanyak 61,6 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy), dari hanya 70.052 unit.
Penjualan mobil baru nasional secara retail sendiri turun 10,9 persen yoy, dari 657.448 unit pada Januari-September 2024 menjadi 585.917 unit pada Januari-September 2025.
Pasar mobil di Bumi Pertiwi pada 2025, mengutip keterangan dari eksekutif berbagai APM, dilanda bermacam tantangan. Kendala utama perkembangan pasar antara lain pelemahan ekonomi, pelemahan daya beli, kredit macet, pengetatan leasing, dan penundaan konsumsi kendaraan bermotor oleh kalangan kelas menengah ke atas.
'Banjir' mobil impor saat pasar 'tengkurap' terjadi di tengah pemberian insentif mobil listrik CBU oleh pemerintah. Pembebasan bea masuk plus PPnBM (Pajak Penjualan Barang Mewah) diberikan kepada merek-merek dan model-model mobil listrik yang memberikan komitmen perakitan lokal, sehingga harga jualnya menjadi kompetitif.
Namun, kuota mobil listrik CBU yang diberikan insentif oleh pemerintah harus dibalas dengan volume produksi yang sama persis.
Insentif mobil listrik CBU diatur dalam Peraturan Menteri Investasi Nomor 6 Tahun 2023 jo. Nomor 1 Tahun 2024. Jika tak ada perubahan, insentif mobil listrik CBU bakal berakhir pada 31 Desember 2025 dan mulai 1 Januari 2026 merek-merek yang menikmatinya harus sudah melakukan perakitan lokal.
Saat ini, terdapat tujuh korporasi/pabrikan otomotif yang mendapatkan insentif mobil listrik CBU.
Mereka ialah PT BYD Motor Indonesia (merek BYD, Denza), PT National Assemblers (merek Citroen, Aion, Maxus, VW), PT Geely Motor Indonesia (merek Geely), PT Vinfast Automobile Indonesia (merek VinFast), PT Era Industri Otomotif (merek XPeng), PT Inchcape Indomobil Energi Baru (merek GWM, Ora).
BYD sendiri menjadi pengimpor mobil CBU terbanyak pada 2025. Sampai dengan kuartal ketiga, mereka mengapalkan 27.795 unit atau naik 134,8 persen yoy, dari sebelumnya 11.838 unit.
BYD kemudian dikuntit oleh Toyota (mengimpor 24.764 unit CBU), VinFast (15.168 unit), Mitsubishi Motors (10.387 unit), Denza (9.065 unit) di daftar lima besar merek pengimpor mobil terbanyak untuk rentang waktu tersebut. [Xan]