Pasar Mobil Indonesia di Semester Satu 2025 Masih Ngenes, Penjualan LCGC ‘Terjun Bebas’
Berita OtomotifJAKARTA – Pasar mobil Indonesia menutup semester satu 2025 dengan menyedihkan karena tren penurunan penjualan belum membaik. Penjualan mobil di segmen LCGC (low cost green car) malah ‘terjun bebas’.
Data Gaikindo Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan mobil secara retail—distribusi dari diler ke konsumen—selama Januari sampai Juni 2025 bahkan tak bisa mencapai 400 ribu unit. Angkanya hanya 390.467 unit.
Transaksi jual-beli mobil di Indonesia pada enam bulan pertama 2025 turun nyaris 10 persen, tepatnya 9,7 persen, dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya (year on year/yoy).
Penjualan mobil dari sisi retail Januari-Juni 2024, meskipun pasarnya sudah tergolong lesu, masih bisa menyentuh di atas 400 ribu unit yaitu 432.453 unit.
Para eksekutif agen pemegang merek (APM) maupun pengurus Gaikindo, dalam berbagai kesempatan yang dihadiri Mobil123.com, memang mengatakan kondisi pasar mobil Indonesia pada 2025 masih sulit atau bahkan lebih sulit daripada 2024.
Penurunan daya beli, pengetatan kredit mobil, dan sentimen negatif dari pasar yang menyebabkan tertahannya konsumsi mobil di kalangan kelas menengah ke atas masih berlanjut tahun ini.
Ini ditambah lagi dengan kondisi ekonomi global dan nasional yang melambat antara lain akibat faktor eksternal/internasional seperti perang Ukraina-Rusia, perang Israel-Iran dan lain-lain.
Penjualan Mobil LCGC 2025 Jeblok Parah
Dari semua segmen di pasar mobil Indonesia, kategori mobil LCGC merupakan salah satu yang paling jeblok performanya pada semester satu 2025. Bahkan, tidak salah jika dikatakan penjualan mobil-mobil LCGC ‘terjun bebas’.
Bagaimana tidak, penjualan retail dari mobil-mobil LCGC selama Januari-Juni 2025 drop 25 persen yoy. Volumenya menukik tajam dari 91.113 unit pada semester pertama 2024 menjadi hanya 67.887 unit sepanjang semester pertama 2024.
Sekadar informasi, LCGC berisikan mobil-mobil paling murah, dengan kapasitas mesin kecil, di pasar Indonesia.
Setiap modelnya dirakit lokal, dengan TKDN (tingkat komponen dalam negeri) tinggi, sebagai syarat untuk mendapat keringanan PPnBM (Pajak Penjualan Barang Mewah) dari pemerintah.
Para konsumen di segmen ini diketahui merupakan pembeli mobil pertama, baik untuk keperluan pribadi maupun untuk usaha taksi online yang masih sangat tergantung pada pembelian secara kredit. Terdapat pula konsumen fleet untuk usaha rental atau taksi online. [Xan]