Strategi Vinfast Hindari Perang Harga EV, Andalkan Sewa Baterai dan Produksi Lokal

Mobil Listrik

Vinfast memilih jalur berbeda di tengah panasnya persaingan kendaraan listrik di Indonesia. Saat banyak produsen ramai-ramai memangkas harga demi mengejar penjualan, Vinfast justru mengusung strategi yang lebih fleksibel melalui program battery subscription atau sewa baterai.

Strategi tersebut kini menjadi salah satu senjata utama Vinfast dalam menjaga daya saing produknya tanpa harus terjebak perang harga yang berpotensi menggerus profitabilitas industri kendaraan listrik.

Langkah itu semakin diperkuat dengan peluncuran VF MPV 7 produksi lokal dari pabrik Subang, Jawa Barat. MPV listrik tujuh penumpang tersebut diposisikan sebagai model strategis baru yang diyakini mampu menjadi “volume maker” Vinfast di Indonesia.

CEO Vinfast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto mengatakan bahwa skema sewa baterai memang dirancang untuk menjawab kekhawatiran utama masyarakat terhadap kendaraan listrik, khususnya terkait harga beli awal dan risiko penurunan performa baterai.

Hindari Perang Harga dengan Skema Sewa Baterai

Di tengah persaingan industri EV yang semakin agresif, banyak merek memilih menurunkan harga jual kendaraan untuk menarik konsumen. Namun Vinfast mengambil pendekatan berbeda.

“Battery subscription itu merupakan salah satu program unggulan kami untuk menyiasati concern dari pelanggan. Jadi instead of kita ikut perang harga, kami memberikan opsi lain harga yang lebih ekonomis melalui baterai subscription atau sewa baterai,” ujar Kariyanto.

Melalui skema tersebut, harga beli kendaraan menjadi jauh lebih terjangkau karena konsumen tidak perlu langsung membeli baterai.

VF MPV 7 misalnya, dipasarkan dengan dua opsi harga. Untuk versi dengan baterai, harganya dibanderol Rp420 juta. Sedangkan versi battery subscription dijual mulai Rp345 juta.
Bahkan khusus 2.000 pembeli pertama VF MPV 7 dengan skema sewa baterai, Vinfast memberikan cashback spesial sebesar Rp16 juta.

Strategi ini dinilai cukup menarik karena mampu menurunkan entry price kendaraan listrik yang selama ini dianggap masih relatif mahal bagi sebagian masyarakat Indonesia.

Bebas Risiko Kerusakan Baterai

Tak hanya soal harga, skema battery subscription juga memberikan keuntungan lain berupa perlindungan terhadap risiko penurunan kualitas baterai.

Kariyanto menjelaskan bahwa selama baterai masih berstatus milik Vinfast, konsumen tidak perlu khawatir terhadap penurunan performa maupun biaya penggantian baterai di masa depan.

“Dengan sewa baterai, pelanggan terbebas dari risiko baterai. Misalnya kondisi baterai menurun tentu akan diganti gratis karena status baterai adalah milik kami,” katanya.

Selain itu, ketika kendaraan dijual kembali ke pemilik baru, skema tersebut tetap fleksibel. Pemilik berikutnya bisa melanjutkan sistem sewa baterai atau memilih membeli baterai secara penuh.

Pendekatan seperti ini menjadi cara Vinfast membangun rasa aman bagi calon pengguna kendaraan listrik yang masih ragu terhadap biaya jangka panjang EV.

Belum Naikkan Harga Meski Rupiah Berfluktuasi

Menariknya, di tengah kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang berfluktuasi, Vinfast menegaskan belum akan melakukan penyesuaian harga kendaraan.

Menurut Kariyanto, keputusan tersebut diambil karena perusahaan masih memantau volatilitas pasar global sekaligus mempertimbangkan dampak berantai terhadap ekosistem bisnis dan rantai pasok.

“Per hari ini kami masih belum akan melakukan adjustment harga terlebih dahulu. Kami masih memantau seberapa besar volatilitas USD atau rupiah,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga kendaraan bukan hanya berdampak pada konsumen, tetapi juga supplier serta berbagai pihak yang terlibat dalam rantai produksi. Karena itu, Vinfast memilih lebih berhati-hati dan tidak ingin mengambil keputusan terburu-buru terkait penyesuaian harga.

Langkah tersebut sekaligus memperlihatkan upaya Vinfast menjaga stabilitas pasar dan mempertahankan momentum pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia.

VF MPV 7 Disiapkan Jadi Tulang Punggung Baru Penjualan

Selain strategi harga, Vinfast juga menaruh harapan besar terhadap VF MPV 7 sebagai model yang akan menjadi tulang punggung baru penjualan mereka di Indonesia.

Selama ini, penjualan Vinfast di Indonesia masih didominasi model mungil VF 3. Namun kehadiran VF MPV 7 dan Limo Green diyakini akan membuka pasar yang jauh lebih besar.

“Kami sangat optimis bahwa ini akan menjadi next volume maker dari Vinfast,” kata Kariyanto.
Optimisme tersebut bukan tanpa alasan. Pasar MPV tujuh penumpang memang masih menjadi segmen paling besar dan diminati di Indonesia.

Menurut Vinfast, karakter masyarakat Indonesia yang gemar bepergian bersama keluarga membuat kendaraan berkapasitas besar selalu memiliki pasar yang kuat.

Dirancang Khusus untuk Kebutuhan Keluarga Indonesia

VF MPV 7 memang dikembangkan dengan pendekatan yang sangat relevan untuk kebutuhan konsumen Indonesia. Mobil ini memiliki dimensi panjang 4.740 mm, lebar 1.872 mm, tinggi 1.734 mm, serta wheelbase mencapai 2.840 mm.

Dimensi besar tersebut membuat ruang kabinnya terasa sangat lega untuk tujuh penumpang.
Tak hanya itu, Vinfast juga memberikan ventilasi AC hingga baris ketiga demi menjaga kenyamanan seluruh penumpang, sesuatu yang sangat penting di negara beriklim tropis seperti Indonesia.

Kabin lapang, fleksibilitas bagasi, serta karakter berkendara yang halus khas mobil listrik menjadi kombinasi yang diharapkan mampu menarik perhatian keluarga urban modern.

Mengincar Pasar Fleet dan Ride-Hailing

Selain konsumen pribadi, Vinfast juga melihat peluang besar di sektor fleet atau kendaraan operasional. Kariyanto mengungkapkan bahwa kendaraan tujuh penumpang sangat diminati oleh perusahaan ride-hailing, rental kendaraan, hingga instansi pemerintahan.

“Baik untuk keperluan pribadi ataupun bisnis seperti ride-hailing, rental mobil, pemerintahan, maupun company-company, kebanyakan memilih 7-seaters,” jelasnya.

Karena itu, VF MPV 7 tidak hanya diposisikan sebagai mobil keluarga, tetapi juga kendaraan operasional yang efisien dan nyaman untuk penggunaan intensif.

Dengan biaya operasional kendaraan listrik yang lebih rendah dibanding mobil berbahan bakar bensin, MPV listrik seperti VF MPV 7 berpotensi menjadi pilihan menarik bagi perusahaan fleet.

Sudah Penuhi TKDN 40 Persen

Di sisi lain, Vinfast juga memastikan bahwa VF MPV 7 sudah memenuhi ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 40 persen sesuai regulasi pemerintah Indonesia.
Saat ini status produksi kendaraan Vinfast di Indonesia sudah CKD (Completely Knocked Down).

“kami sudah mendapatkan sertifikat tersebut sehingga kami sudah memiliki TKDN minimal 40 persen,” ujar Kariyanto.

Pencapaian ini penting karena menjadi syarat untuk mengikuti berbagai program kendaraan listrik nasional serta mendukung pengembangan industri otomotif lokal.

Vinfast juga menegaskan bahwa tingkat kandungan lokal akan terus ditingkatkan seiring berkembangnya produksi dan kebijakan pemerintah.

Respons Vinfast Soal Baterai LFP dan Nikel

Di tengah wacana pemerintah terkait perbedaan insentif kendaraan listrik berdasarkan jenis baterai, Vinfast turut memberikan tanggapan.

Saat ini Vinfast masih menggunakan baterai jenis LFP (Lithium Iron Phosphate) pada produknya di Indonesia. Meski demikian, perusahaan memahami langkah pemerintah yang ingin mengoptimalkan potensi nikel nasional.

“Kami dapat mengerti karena Indonesia memiliki source nickel yang besar dan luar biasa. Tentu pemerintah ingin mengoptimalkan hal tersebut,” kata Kariyanto.

Ia juga menegaskan bahwa Vinfast terbuka untuk mempelajari alternatif material baterai lain di masa depan.

“Tidak menutup kemungkinan kami pun melakukan studi untuk alternatif material baterai yang lain,” lanjutnya.

Namun untuk saat ini, Vinfast masih menunggu regulasi final pemerintah terkait skema insentif kendaraan listrik berbasis jenis baterai.

Produksi Lokal Jadi Bukti Keseriusan Vinfast

Peluncuran VF MPV 7 produksi Subang menjadi bukti nyata keseriusan Vinfast membangun ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.

Pabrik Subang kini telah mulai memproduksi berbagai model seperti VF MPV 7, Limo Green, dan dalam waktu dekat VF 3. Menurut Kariyanto, kehadiran fasilitas produksi lokal bukan hanya soal efisiensi biaya, tetapi juga bentuk komitmen jangka panjang Vinfast terhadap pasar Indonesia.

Dengan strategi harga fleksibel, produksi lokal, fokus pada MPV keluarga, serta kesiapan memenuhi regulasi pemerintah, Vinfast tampaknya ingin membangun pondasi kuat untuk bersaing dalam industri kendaraan listrik nasional yang semakin kompetitif.

FAQ Vinfast

Q: Apa strategi utama Vinfast untuk bersaing di pasar kendaraan listrik Indonesia?

A: Vinfast mengandalkan skema battery subscription atau sewa baterai agar harga kendaraan lebih terjangkau tanpa harus ikut perang harga EV.

Q: Berapa harga Vinfast VF MPV 7?

A: VF MPV 7 dijual mulai Rp420 juta untuk versi baterai termasuk dan mulai Rp345 juta untuk versi battery subscription.

Q: Apa keuntungan skema sewa baterai Vinfast?

A: Keuntungan utamanya adalah harga beli awal lebih murah dan pelanggan terbebas dari risiko kerusakan atau penurunan performa baterai.
 

[Ryn/YS]

>>>>> Klik link ini untuk melihat harga mobil baru <<<<<

Tag Terkait

berita Berita Otomotif Berita Otomotif news VinFast VF MPV 7

Author

Berita Utama

Berita Populer

Lihat semua »